LAKU ISTIQOMAH

https://images.app.goo.gl/XeNaJ5XEvJcJSAij9

Sesungguhnya orang-orang yang berkata, “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka tetap istiqamah, maka para malaikat akan turun kepada mereka (seraya berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati, dan bergembiralah kamu dengan balasan surga yang telah dijanjikan kepadamu.” (Q.S. Fushilat :30)

 Dalam keseharian kita, salah satu hal tersulit adalah mampu kontinyu (istiqomah) dalam laku kebajikan. Ada saja – baik dari dalam diri maupun dari luar – yang kemudian menghalangi kita untuk bisa menjaga kontinyuitas kita dalam beramal. Bisa jadi – ketika kita melakukan kebajikan – dorongan internal dari dalam diri kalah besar dibandingkan dengan dorongan eksternal sehingga kontiyuitas amal kebajikan yang kita sulit terjaga.

Salah satu faktor yang mampu memicu keistiqomahan adalah adanya tujuan yang jelas dalam diri kita ketika melakukan sesuatu. Kita bisa belajar dari kegigihan (baca: keistiqomahan) Thomas Alva Edison misalnya, dalam menemukan bola lampu pijar. Konon ia bahkan harus mencoba hingga 1000 kali baru berhasil. Bahkan dalam salah satu sumber percobaannya mencapai 10.000 kali. Meski tidak “memiliki” Allah, karena tujuan yang jelas, Edison mampu bertahan ketika kegagalan berulang-ulang ditemuinya.  

Sebagai bagian masyarakat maiyah, kita tentu bisa meneladani sosok Mbah Nun. Dalam kasus ini termasuk keistiqomahan beliau dalam menemani jamaah untuk sinau bareng. Tidak hanya di kota-kota besar, namun juga ke pelosok-pelosok desa. Bayangkan – sampai tulisan ini ditulis – sudah lebih dari 4000 titik yang dikunjungi Simbah dalam rentang waktu sekitar dua puluh tahun. Artinya rata-rata 200 titik dalam setahun yang kalau dibagi dengan jumlah hari akan ketemu rata-rata dua hari harus menemani jamaah. Bahkan kadang berurutan hari tanpa istirahat menurut standar orang normal.

Kalau kemudian kita men-tadaburi ayat ke 30 dari Surat Al-Fushilat yang telah disebutkan di atas, maka sebelum menjalani laku istiqomah, sebagai prasyarat untuk bisa istiqomah, adalah terlebih dahulu harus mempersaksikan (dalam ucapan, perbuatan dan pemikiran) bahwa Allah adalah Rabb kita. Dan persaksian tersebut adalah dorongan terbesar yang akan memampukan kita untuk istiqomah. Bukankah kita ini berasal dan akan kembali kepadaNya? Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Pada kesadaran inilah, Saya melihat bedanya inner motivation laku istiqomah Mbah Nun dan Edison.

****

Secara bahasa, istiqomah berasal dari kata “istiqoma – yastaqimu – istiqomatan” yang berarti lurus dan seimbang. “Shirotol Mustaqim” yang kita mintakan sehari tak kurang dari tujuh belas kali itu, bermakna jalan yang lurus dan seimbang. Tidak condong. Tidak ekstrim kanan ataupun kiri.

Ulama mengkhususkan bahwa istiqomah hanya berlaku untuk aneka ketaatan. Istiqomah pun sejalan dengan makna takwa, menjalankan perintah Allah dan menjauhi laranganNya. Jadi tidak ada istiqomah dalam kemaksiatan kepada Allah.

Diriwayatkan dari Sayyidah ‘Aisyah r.a. bahwa amalan yang dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinyu (istiqomah) meski – secara kuantitas – sedikit. Semoga kita bisa mengistiqomahi laku kebajikan menempuh jalan para nabi dan rasul. Sebagaimana pula yang dicontohkan oleh murobbi kita, Mbah Nun.

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.