Catatan Milad 3 Damar Kedhaton, Telulikuran Edisi #39 ”IJTIHAD, IKHTIAR DAN ISTIQOMAH ”

IJTIHAD, IKHTIAR DAN ISTIQOMAH 

(Catatan Milad 3 Damar Kedhaton, 7 Desember 2019)

Di Milad Damar Kedhaton yang ke-3 ini Lek Ham membuka diskusi dengan mengajak dulur-dulur melakukan perenungan di mana tiga tahun yang lalu Jama’ah Maiyah Gresik berkomitmen dan bersungguh-sungguh untuk membuat simpul yang dinamakan Damar Kedhaton. Satu tahun berjalan, periode inilah yang dinamakan periode Ijtihad.

Waktu terus berjalan berbekal kesungguhan dulur-dulur DK dalam memandegani agenda wirid dan sinau bareng tiap Telulikuran secara rutin dari satu titik ke titik lain meliputi seluruh teritori wilayah Gresik. Tahapan ini disebut tahapan Ikhtiar.

Alhamdulillah, paseduluran dan persaudaraan di Damar Kedhaton telah 3 tahun berjalan. Maka ke depan kita telah memasuki tahapan-tahapan yang paling berat. Dari titik ini dan selanjutnya masa-masa di mana kita mungkin akan diuji akan kedewasaan, ketulusan, niat baik dalam ijtihad dan ikhtiar di ikatan paseduluran ini akan nampak dan diuji, yakni istiqomah. Idiom kata istiqomah kita temukan di Al-Quran surat Hud, ayat 112.

Yang dikatakan Lek Ham akan beratnya periode saat ini sampai ke depannya tidaklah berlebihan, karena ada suatu riwayat bahwa, Ibnu Abbas pernah berkomentar; “Tidaklah ada satu ayat pun yang diturunkan kepada kanjeng Nabi SAW yang lebih berat dan lebih susah daripada ayat ini.” Kenapa? Karena di ayat ini mengandung perintah untuk istiqomah. Bahkan Kanjeng Nabi Muhammad SAW pun rambutnya beruban dikarenakan perintah istiqomah dalam Al-Quran Surat Hud ayat 112 ini.

KOLABORASI TIGAN

Tema yang menarik dalam Milad ke-3 DK kali ini seperti halnya desain poster yang mengiringinya. Fokus utama di obyek yang nampak seperti Telur (Tigan, jawa) diliputi garis-garis segitiga tidak beraturan yang disorotkan pada suatu titik-titik. Dengan tulisan “LAHIR”, “LAKON” dan “LAYON”. Suatu konsep filosofis tentang awal kehidupan sampai sesudah kematian.

Lik Ham membersamai dan Memberi Panjabaran Mengenai Tema Milad ke-3 Damar Kedhaton

Desain tingkat dewa. Desain yang merangsang dan membuka peluang imajinasi empiris dan peneropongan terhadap cakrawala-cakrawala berpikir bagi orang yang melihat dan mendalaminya.

Sebutan apalagi yang patut disematkan selain desain tingkat dewa? Sebuah desain yang digarap dengan deadline yang singkat, cuma semalam. Di saat ide-ide di otak untuk mendesain blank. Belum lagi capek dan letih karena jam terbang dan kesibukan. Setidaknya begitulah kata Cak Ghozi sang maestro desainnya saat saya menanyakan kepadanya tentang ide dan gagasan apa yang melatarbelakangi desain tersebut saat sesi jeda elaborasi tema dari para narasumber sambil mendengarkan lagu “Sebelum Cahaya”.

Saya punya kebiasaan untuk tidak membaca prolog atau pengantar dulu seperti halnya umumnya sebelum elaborasi tema. Saya membiarkan pikiran saya bebas saat Sinau Bareng. Memang bagi sebagian orang prolog perlu sebagai pengantar dan pengenalan sebuah cerita atau tema. Tapi bagi saya tidak. Ia seperti mengikat pikiran untuk fokus pada suatu hal dan mengabaikan hal lainnya. Tentu saja lain orang lain juga konsep pemikiran. Setidaknya dari bulatan-bulatan ilmu yang menyamudera di majelis Sinau Bareng Milad DK ke-3, saya mencoba memungut sedikit demi sedikit apa yang berhasil saya petik di kebun Maiyah KOLABORASI TIGAN ini.

Gresik wilayah kosmopolit, karena itu sewajarnya tempat ini adalah tempat lahirnya ide-ide dan pemikiran baru. Kosmopolit berarti jujugan pertama bagi pelancong-pelancong luar. Sejarah mencatat bahwa saudagar-saudagar luar Jawa menginjakkan kaki pertama kalinya dan memilih Gresik untuk berdagang dan menetap di sini.

Dediktum filsuf dunia Thomas Hobbes yang mengatakan “Manusia adalah serigala manusia lainnya” adalah salah. Ada DNA, karakter, dan kecenderungan manusia untuk melakukan suatu hal apakah itu baik atau buruk. Tentunya serigala dan domba punya karakter dan DNA-nya masing-masing.

Konflik manusia pertama kalinya adalah perselisihan Qobil dan Habil. Qobil membunuh Habil dikarenakan Qobil tidak terima dijodohkan dengan kembaran Habil padahal kembarannya sendiri lebih cantik. Dia merasa berhak atas kembarannya yang cantik daripada Habil. Nabi Adam memberi solusi lewat mekanisme persembahan kepada Allah. Siapakah yang persembahannya diterima, maka dialah yang berhak menentukan pilihan.

Narasumber ilmu, Cak Diel mencoba mengkaji dengan perspektif yang berbeda. Qobil bukanlah menginginkan kembarannya yang cantik. Kita semua tahu bahwasannya cantik itu bersifat relatif. Kita juga tidak tahu apa benar kembaran Habil itu jelek. Relatif, sekali lagi relatif. Tidak sederhana itu alasan Qobil membunuh Habil.

Elaborasi Tema oleh Cak Diel pada Milad ke-3 Damar Kedhaton

Bila Qobil menginginkan kembarannya, tentunya dia memilihkan sesuatu yang baik untuk dijadikan persembahan. Tetapi nyatanya tidak. Buah-buahan busuk dan berulat. Berbeda dengan Habil. Individualis, ya. Individualis dan ego adalah faktor X yang meliputi Qobil kala itu hingga dia tega membunuh Habil.

DNA kita adalah DNA ksatria. Kita jangan mau terjangkit penyakit dan hegemoni “mereka”. Cak Diel meyakini bahwasanya sifat-sifat buruk seperti individualis dan ego adalah akibat, bukan sebab. Tetapi, kenapa kita terjangkit? Kita perlu belajar banyak tentang era Majapahit dan sejarah leluhur-leluhur kita.

Google suatu perusahaan terbesar di dunia mewajibkan kepada seluruh karyawannya di setiap pagi untuk konsentrasi dan fokus memikirkan dua orang yang dicintai agar didoakan kebaikan. Setiap pagi sebelum memulai aktivitas. Konsep segitiga terbentuk di sini, di mana kita konsentrasi terhadap dua orang di hadapan kita dalam bayangan fokus kita, dan lalu memohonkan kebaikan kepadanya. Saya tidak akan membahas lambang illuminati atau apalah itu, yang jelas metode seperti ini sangat layak diadopsi menjadi kebiasaan kita.

Pesan penting, 3 PILAR PERADABAN:

  1. Siroh Nabawi, kita berhutang banyak untuk mengkaji dan mempelajari sejarah Kanjeng Nabi Muhammad SAW secara benar. Human Success Modeling dengan perilaku terbimbing dari Allah SWT. Prototipe manusia dengan pencapaian terbaik yakni seorang hamba. Kekasih Allah.
  2. Belajar dalam artian mencari inspirasi. Jadi belajar kita jadikan sebagai laboratorium ijtihad untuk berinovasi dan selalu survive dalam perkembangan zaman
  3. Amaliah praksis, di mana kita melakukan perenungan atas apa yang akan kita kerjakan dan merenung akan apa yang telah kita kerjakan. Terus menerus secara simultan. Model praksis ini membantu kita akan pengenalan terhadap makna-makna dan dapat memberikan sumbangsih bagi perubahan sosial.

Berbeda dengan kehidupan kita sekarang khususnya umat islam. Di mana kita terkotak-kotak terhadap pembenaran subyektifitas masing-masing. Terjebak dalam teks-teks dan perilaku klasik tanpa memperhatikan realitas-realitas masa kini dan kemungkinan yang terjadi dimasa depan.

Ahmad Saris                                                                                                                                                                               JM Damar Kedhaton tinggal di sekitar Giri, Gresik. Juga aktif sebagai penggerak Gerbang Gresik.