MENSYUKURI KEKURANGAN

MENSYUKURI KEKURANGAN

https://images.app.goo.gl/LJ6kQ21BkELrUTnq7

.

Dan bahwasanya Dia (Allah) yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan[i].

Siang-malam. Langit-bumi. Lelaki-perempuan. Semuanya berpasangan. Meski – sebagian kita – melihatnya berlawanan, namun sejatinya mereka saling melengkapi. Lantas apakah kekurangan (baca: kemiskinan) adalah pasangan dari keberlimpahan (baca: kekayaan)? Tidak! Allah sama sekali tidak menciptakan kekurangan sebagai lawan dari kekayaan, tapi Dia menciptakan kecukupan sebagaimana yang kami kutip di awal tulisan.

Loh, bukannya kenyataannya ada kemiskinan? Apakah fakta terjadinya kemiskinan keluar dari skenario Allah. Ngawur, kalau kita sampai berpikir demikian. Segala sesatu sejak azali sudah dituliskan. Tidak ada satu skenariopun yang keluar dari ketentuan-Nya. Fakta terjadinya “kemiskinan” semata terjadi karena kesalahan manusia.

Dalam konteks ke-Indonesia-an, Mbah Nun dalam salah satu sesi sinau bareng pernah bertanya, “apakah Indonesia dengan segala kekayaan yang dikandung di dalamnya wajar jika ada banyak orang kelaparan?” “Apakah kalau semua kekayaan di Indonesia didistribusikan kepada seluruh penduduknya akan ada orang miskin?” Semua sepakat bahwa seharusnya di Indonesia tidak seharusnya ada orang miskin apalagi kelaparan. Jadi masalahnya apa? Biarlah ini menjadi ranah ilmu politik-ekonomi yang menjelaskan. Kita cukup tahu bahwa kekurangan – kemiskinan – terjadi karena kesalahan kita sendiri.

Meskipun demikian, apakah dalam kungkungan kemiskinan, menghilangkan kemampuan kita untuk bersyukur? Kenyataanya, kebanyakan kita baru melahirkan rasa syukur ketika merasa mendapat “anugerah” dari Allah. Celakanya, dalam arus dunia yang dipenuh-sesaki dan dikuasi paham materialisme, anugerah itu kita kerdilkan maknanya menjadi sebatas materi (uang, harta dan kenikmatan duniawi semata). Padahal kalau kita mau meluangkan waktu untuk merenung di kedalaman hati, melakukan kontemplasi secara jujur, niscaya tak ada apapun selain semuanya merupakan anugerah dari Allah yang tak ada yang sia-sia.

Kalau kita sejenak men-tadabburi ayat yang telah dikutip di atas, maka sejatinya kemiskinan – meski ia adalah fakta obyektif – tapi sebagai manusia kita bisa memilih merasa cukup. Dalam kondisi sekurang apapun kita bisa merasa cukup dengan segala karunia yang telah Allah beri – dalam bahasa agama kita kenal istilah qonaah. Meski kemudian merasa cukup itu tidak lantas menghalangi kita untuk tetap berusaha keluar dari jerat kemiskinan, namun perasaan qonaah akan mendorong kita untuk tetap mampu bersyukur.

Bila kita berkaca dari peri kehidupan uswah hasanah kita, Nabi Muhammad s.a.w. niscaya akan kita dapati bahwa seringkali beliau tidak mendapati makanan di rumahnya – selain daripada air putih. Bahkan dalam banyak riwayat, Rasulullah tak jarang mengikatkan batu ke perutnya dengan kain untuk menyembunyikan kondisinya. Dan itu tidak hanya sehari, tapi terkadang hingga beberapa hari.

Berada dalam kondisi kekurangan – dalam standar keumuman – seyogyanya tidak lantas memicu kita untuk tidak bersyukur. Karena kalau kita mau jujur merenung, masih teramat banyak karunia Allah yang telah diberikan kepada kita. Bukankah pula kita sering mendeklarasikan bahwa nikmat terbesar adalah nikmat iman dan islam? Nah ketika iman dan islam masih bersemayam dalam dada, apa lagi yang kita risaukan? Sehingga sangatlah wajar kita bersyukur.

Selain pahala qonaah dan sabar atas kondisi kekurangan yang menimpa, Allah sudah menjanjikan dalam setiap satu kesulitan terdapat dua kemudahan. Bukankah kita juga sering mendengar the power of kepepet? Bahwa kemampuan-kemampuan terbaik manusia seringkali keluar apabila berada dalam kondisi terjepit. Nah, tinggal kita mengubah paradigma kita terhadap kekurangan yang menjadi hambatan menjadi peluang untuk menjadi lebih baik. Maka di titik ini pun kita sebenarnya patut – wajib bersyukur – karena Allah ingin menjadikan kita lebih baik adalah dengan memberikan ujian, termasuk ujian kekurangan.

***

Ya Allah hidupkanlah aku dalam keadaan miskin, matikanlah aku dalam keadaan miskin, dan bangkitkanlah aku pada hari kiamat bersama orang-orang miskin.[ii] Demikianlah doa Nabi yang kemudian menjadi pilihan hidup beliau yang senantiasa berada dalam kondisi kekurangan, meski secara sumber daya beliau mampu untuk hidup berkelimpahan. Itulah pilihan manusia terbaik. Jadi apabila kita berada dalam kondisi kekurangan, kita bisa bersabar menempuh jalan yang ditempuh oleh kekasih kita. Sungguh indah bukan meneladani jalan hidup kekasih hati? Lantas apakah kita masih tidak bisa bersyukur atas kekurangan kita?

[i] QS. An-Najm :48

[ii] HR. Ibnu Majah

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.