Catatan Sinau Bareng Pada Milad 3 Damar Kedhaton, Telulikuran Edisi #39 “Tadabbur atas Generasi Bunga”

Tadabbur atas Generasi Bunga

Catatan Sinau Bareng pada Milad ke-3 Damar Kedhaton, 7 Desember 2019

 

Semula saya optimis bisa turut membersamai dulur-dulur DK mereguk ilmu dan menghirup kemesraan “Kolaborasi Tigan” di gelaran Milad DK ke-3, Sabtu 7 Desember 2019 yang lalu. Tapi apa mau dikata, pada H-1 saya diharuskan berangkat ke Semarang. Maka saya sangat bersyukur, ketika proses livestreaming dapat berjalan lancar sepanjang acara, sehingga dari kawasan Banyumanik Semarang saya masih bisa mengikuti detik demi detik apa yang sedang berlangsungdi Gedung Serbaguna SKB Cerme Gresik.

Dari percakapan di grup panitia, saya merasakan betapa energi dulur-dulur panitia begitu membuncah. Dengan segala dinamikanya, terpancar sebuah gelombang kehendak untuk menyedekahkan tenaga dan pikiran demi kesuksesan acara. Masing-masing mencoba mengambil peran sekolaboratif mungkin. Rencana telah disusun untuk diugemi di tahap eksekusi, tanpa menutup pintu improvisasi ketika dihadapkan pada dinamika situasi.

Menjelang maghrib, saya sempat menulis pesan di grup panitia, “aku terharu, Rek!”. Pesan yang lahir dari rasa penuh keterbatasan untuk turut tandang di lokasi.

Kondisi badan saya sedang kurang fit. Saya mengikuti jalannya dua forum sekaligus, satu di Semarang, satu di Gresik, seraya menahan cenut-cenut di kepala. Ketika daya tahan sudah notok¸saya memutuskan untuk menarik diri dari ruang pertemuan, dan masuk ke kamar. Rebahan, sambil menyalakan indera pendengaran menyimak livestreaming Milad DK.

Cak Majid (vokalis Lemut Samudro) memandu jamaah berlatih melantunkan bait lagu Generasi Bunga

Terdengar Cak Majid (vokalis Lemut Samudro) memandu jamaah berlatih melantunkan bait lagu. Jamaah dibagi menjadi tiga kelompok, masing-masing mendapat tugas sekian baris lirik.

Engkaulah generasi bunga

Tumbuhlah dan berkembanglah

 Berkembanglah berbuahlah

Kokoh takkan patah

Bersatu tak akan layu

 Engkaulah generasi bunga

Genggamlah tangan

Tak akan saling meninggalkan

Pelan-pelan bibir saya turut menirukan arahan Cak Majid. Liriknya memuat pesan mendalam, sehingga tak susah diingat. Nadanya pun terkesan teduh nan syahdu, namun tegas, lekas membekas di benak. Saat dijelaskan bahwa lagu itu adalah hadiah khusus dari Lik Ham untuk Damar Kedhaton, seketika hati saya menghangat, air mata menggenang dan lalu pelan meleleh.

Saya bangkit dari kasur. Lampu kamar tetap saya biarkan padam. Khusyu’ saya ikuti lantunan lagu “Generasi Bunga” oleh Lemut Samudro bersama jamaah. Interaksi yang dibangun Cak Majid berhasil mencipta atraksi katresnan yang adiluhung. Pesan luhur yang terkandung dalam bait-bait, melingkupi segenap jiwa jamaah yang hadir.

Melalui lagu “Generasi Bunga”, saya membayangkan Lik Ham sedang mengajak pegiat dan jamaah Damar Kedhaton melakukan refleksi sekaligus peneguhan. Lik Ham menghadirkan memori di tahap-tahap awal DK melangkah.

 Tanamlah benih / tumbuhlah tunas / tumbuhlah dan berkembanglah / menjulang ke semesta

Pada Telulikuran edisi ketiga dahulu, ketika untuk pertama kali DK menjangkari forumnya dengan tema, kita memilih “Nandur Katresnan” sebagai tema. Kita sedang diingatkan Lik Ham, bahwa tiada sebab utama yang menggerakkan sekian hati untuk melingkar di DK, selain benih katresnan. Piweling ini pun senafas dengan gelombang tajdiidun niyat ; masing-masing diri perlu memperbarui spirit dalam menikmati perjalanan bermaiyah. Prinsip, asas, paugeran, yang selama ini menjadi pondasi maiyah, harus terus diperbarui kesegarannya, agar tak tergerus oleh dialektika perjalanan.

Jiwa-jiwamu / bukanlah batu / yang hanya diam / walau angin menghadang / yang diam termenung / walau banjir menerjang / yang lelap menancap / walau badai mengguncang

Gerak. Ya, saya menangkap pesan soal pergerakan di bait ini. Jiwa-jiwa yang melingkarkan diri di DK bukanlah batu yang hanya diam, abai terhadap dinamika sekitar yang melingkupinya. Lewat bait ini, tersirat harap agar JMDK ringan tangan untuk obah nandur manfaat bagi sekitar sejauh jangkauannya.

Sukmamu satu / bukanlah hantu / yang terbang tanpa arah tujuan / yang datang dan pulang / tanpa hunian / yang rindu tanpa badan sepanjang zaman

Namun, obah-nya JMDK sepatutnya tidak boleh terlepas dari kesadaran sangkan paran. Kecermatan menentukan titik berangkat dan titik tujuan harus terus diasah, dengan berbagai ragam skalanya ; jangka pendek, menengah dan panjang. Kesabaran menata dan meniti langkah beserta keterukuran pandang dalam melihat jarak tempuh pada tujuan, menjadi prasyarat obah, agar tak terjebak pada situasi kabur kanginan.

Teruslah, teruslah berjalan / melangkahlah, melangkahlah dengan keindahan / janganlah takut pada kegelapan / janganlah lari dari kepastian

Berbuat baik itu mudah, yang susah adalah terus berbuat baik. Demikianlah sekalimat bijak yang merangkum makna “istiqomah”. Secara tandas, Lik Ham menasihatkan pentingnya menjaga istiqomah di bait ini. Indah adalah puncak sekaligus agregat dari dua nilai selainnya ; benar dan baik. Dalam menderapkan langkah, tak bisa dipungkiri hadirnya rasa ragu, bahkan takut akan datangnya situasi gelap, buntu, tanpa terangnya petunjuk. Di sini, Lik Ham berpesan agar JMDK berani menyingkirkan rasa takut itu. Yakin pada qudroh-irodah-Nya, bahwa setiap jengkal proses, pastilah terkandung maksud baik-Nya.

Generasi Bunga ditutup dengan sebait reff ;

Engkaulah generasi bunga / tumbuhlah dan berkembanglah / berkembanglah berbuahlah / kokoh takkan patah / bersatu tak akan layu / engkaulah generasi bunga / genggamlah tangan / tak akan saling meninggalkan

Sebagai sesepuh yang membersamai perjalanan DK sejak awal, kiranya kita bisa memandang ending lagu ini sebagai puncak harapan Lik Ham. Salah satu kebun maiyah bernama Damar Kedhaton diandaikan untuk terus bertumbuh, berkembang, hingga menghasilkan manis dan sehatnya buah yang dapat dinikmati penghuninya maupun sekitarnya.

Kokohnya ukhuwwah, rekatnya paseduluran, menjadi kunci agar semangat tak mudah patah dan layu. Fluktuasi ghirrah yang lazim melanda satu dua sedulur, harus ditopang dan disokong kekuatan genggaman tangan sedulur lainnya.

SembahNUwun, Lik Ham.

Ahmad Irham Fauzi

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik.