Catatan Sinau Bareng Pada Milad 3 Damar Kedhaton, Telulikuran Edisi#39“Berkolaborasi dan Bergembira dengan Pondasi Segitiga Cinta Maiyah”

Berkolaborasi dan Bergembira dengan Pondasi Segitiga Cinta Maiyah

Catatan Sinau Bareng pada Milad ke-3 Damar Kedhaton, 7 Desember 2019

 

Sabtu, 7 Desember 2019. Damar Kedhaton sedang memiliki hajat, yaitu mensyukuri hari lahirnya yang ke-3 tahun. Acara Milad kali ini digelar di Gedung Serbaguna SKB Cerme, Gresik. Sejak Jumat malam, segala kebutuhan yang menunjang berjalannya acara telah diupaya-persiapkan oleh para pegiat Damar Kedhaton. Spirit kebersamaan selalu diutamakan, segala teknis acara ditata-kelola sedemikian rupa, digodok dengan bermacam bumbu perbedaan, agar dapat disajikan dengan lezat nan indah pada saat acara tiba.

dulur-dulur pegiat Damar Kedhaton mempersiapkan uba rampe hajatan milad ke-3

Pada hari-H, sejak pagi hingga siang hari, atmosfer kolaborasi semakin terasa. Melanjutkan kekurangan apa-apa yang perlu dikerjakan, dulur-dulur pegiat Damar Kedhaton mempersiapkan uba rampe hajatan milad yang akan dilaksanakan pada malam harinya. Tak juga ketinggalan, di sore hari, crew dari Lemut Samudro tampak menata peralatan musik yang akan digunakan untuk membersamai kemesraan.

‘Kolaborasi Tigan’ adalah tema yang telah disepakati bersama oleh dulur-dulur Damar Kedhaton. Momentum ‘tiga’ ini diutak-atikgatukkan dengan segala hal yang berkaitan dengan ‘tiga’. Segitiga Cinta, yang menjadi pondasi utama Maiyah, harus diakarkan di dalam struktur kesadaran JMDK (Jemaah Maiyah Damar Kedhaton). Secara simbolik, tigan atau telur merupakan pertanda suatu proses menuju kelahiran baru.

wirid salawat dipandu oleh Cak Huda, Cak Anam, dan Cak Purwo

Tepat pada pukul 19.23 WIB, Al-Qur’an Juz 9 dilantunkan sebagai penanda dimulainya acara. Cak Somad, Cak Wawan, Cak Ghozi, Dik Adi, Dik Dani, dan Dik Danu secara bergiliran merampungkan satu juz dengan penuh khusyuk. Pembukaan dilanjutkan dengan sesi wirid salawat yang dipandu oleh Cak Huda, Cak Anam, dan Cak Purwo. Suasana hening tercipta di bawah payung paseduluran Al-Mutahabbina Fillah. Jemaah larut dalam kekhusyukan, nyicil sedikit demi sedikit mempersembahkan cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad Saw dengan besar harapan agar dapat memperoleh syafaatnya di akhirat kelak. Dengan diiringi tim banjari As-Syuban, sesi wirid salawat ditutup oleh penghaturan bacaan ‘Indal Qiyam’.

Indonesia Raya 3 Stanza dikumandangkan dengan khidmat, sebentuk ekspresi cinta dan komitmen kepengasuhan Maiyah atas Indonesia.

Cak Teguh dan Cak Rezky, yang memoderatori acara, mengajak Jemaah untuk menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza. Pembukaan acara berlangsung dengan penuh khidmat sebagai ekspresi cinta dan komitmen kepengasuhan Maiyah atas Indonesia. Meski agak sedikit terbata-bata, karena jarangnya menyanyikan lagu Indonesia Raya tiga stanza, bukti kecintaan jemaah tidak boleh dipandang sebelah mata. Salah satunya, keikhlasan tampak tercermin pada beberapa wajah muda-mudi saat mengikuti acara. Mereka masih memiliki kesadaran untuk terus sinau bareng, mencari apa yang benar, dan membangun ulang segala hal baik yang sudah pudar. Tanpa tendensi apa-apa, mereka bersedia duduk berjam-jam semalam suntuk untuk nyicil sinau ndandani Indonesia. Harapan untuk Indonesia di masa depan masih ada. Persaudaraan ini semoga tetap terjaga, tentunya dengan tidak melupakan pondasi utama Maiyah, yaitu segitiga cinta antara Allah, Kanjeng Nabi Muhammad Saw, dan manusia.

Di sela sesi persembahan lagu Indonesia Raya, di ruang transit telah rawuh Lik Ham, Cak Diel, dan Pak Kris. Para sesepuh tersebut bersiap untuk membersamai jemaah guna mengelaborasi tema ‘Kolaborasi Tigan’.

Nuansa Kolaborasi Tigan malam ini dihangatkan oleh Tari Remo, persembahan dari adik Nadia, putri dari salah satu pegiat DK, Cak Nanang

Selepas pengumandangan lagu Indonesia Raya, hajatan Milad Ke-3 tahun Damar Kedhaton dihangatkan dengan suguhan Tari Remo yang dipersembahkan oleh Dik Nadia, putri dari salah satu pegiat DK, Cak Nanang. Perlu diketahui, Dik Nadia ini masih mengenyam pendidikan setingkat SD kelas enam. Di usianya yang masih belia, ia mampu mempersembahkan tarian dengan lihai nan mempesona. Jemaah menikmati berlangsungnya Tari Remo tersebut sambil menikmati beberapa jenis camilan ringan, gorengan, dan kopi panas yang telah disediakan oleh dulur-dulur pegiat DK. Usai Tari Remo, jemaah disuguhi kesenian Barongan yang dipersembahkan oleh Cak Nanang, Cak Madrim, dan Cak Pitro. Sesi persembahan energik nan apik para pegiat DK tersebut mendapat tepuk tangan meriah dari JM. Semuanya terangkum menjadi kemesraan yang menggembirakan.

Acara terjeda sejenak saat para personel Lemut Samudro menaiki panggung untuk menyiapkan peralatan musik. Sambil menunggu, moderator mempersilakan Cak Makhrus—sebagai ketua pelaksana—untuk memberikan sambutan. “Matur suwun, ngapunten atas segala kekurangan. Mugi isok lanjut selawase”. Singkat, padat, dan jelas sambutan disampaikan oleh Cak Makhrus. Di dalamnya terselip harapan nyata: bermodal ketulusan cinta dari lingkaran kecil ini, perjuangan ini kelak menghasilkan buah manis yang dapat dirasakan oleh anak cucu kita. Semoga, JMDK bisa selamanya bersama hingga dipertemukan dengan Sang Maha.

Lemut Samudro mempersembahkan Tembang Pambuko, Sholawat alfusalam sebagai pembuka

Sebelum masuk ke sesi diskusi, Lemut Samudro mempersembahkan Tembang Pambuko, Salawat Alfa Salam dan Nariyah dengan iringan alat musik yang sudah tertata sebelumnya di atas panggung. Cak Majid (vokalis Lemut Samudro) memandu jemaah untuk turut serta meneb, menikmati, dan meresapi gelombang salawat. Sembari melantunkan Salawat Badar, Cak Diel, Lik Ham, Pak Kris, dan Cak Syuaib naik ke atas panggung.

‘Ijtihad, ikhtiar, istiqomah’. Tiga poin utama pembuka yang diutarakan oleh Lik Ham memaknai perjalanan Damar Kedhaton pada tahun ke-3. Damar Kedhaton adalah sebuah benih yang ditanam sejak tiga tahun lalu dan merupakan bagian dari ijtihad jemaah. Tiga tahun telah berjalan; pasang-surut, manis-pahit, keras-lunak, telah dilalui serta dirasakan bersama-sama. Bagaimana caranya untuk merawat benih tersebut merupakan bagian dari ikhtiar yang harus dikerjakan bahu membahu. “Mulai saat ini hingga ke depan, Damar Kedhaton harus semakin kaya, memiliki daya juang beserta kreativitas, menyusun nada, dan mengaransemen irama supaya dapat meneduhkan benih-benih selanjutnya”. pesan Lik Ham. Kemudian, beliau menjelaskan tentang aktualisasi dari peran istiqomah. Di dalam istiqomah harus ada daya juang secara terus menerus dan ikhtiar tanpa batas. Di dalam ikhtiar harus ada keberanian untuk mengambil kebijakan. Ketiganya—ijtihad, ikhtiar, istiqomah—harus saling berkesinambungan dan dikelola sebaik serta sebijak mungkin agar kita dapat memperoleh keindahan.

Lik Ham, Pak Kris, Cak Diel membersamai dan Memberi Panjabaran Mengenai Tema Milad ke-3 Damar Kedhaton

“Tidak ada yang lebih penting, kuat, dan diandalkan kecuali lingkaran keluarga kita sendiri.” dhawuh Lik Ham. Beliau mengajak jemaah untuk bergembira-mesra sebelum masuk ke sesi sinau bareng. Tujuannya, agar pikiran semakin segar dan terbuka. Sehingga, segala ilmu semakin mudah terserap lewat pori-pori tubuh. Lewat lagu ‘Keluarga Cemara’, jemaah diajak bergembira bersama oleh Lemut Samudro. Kolaborasi musik tradisional ala Jawa dengan musik modern telah diolah sedemikian rupa. Keindahan yang berpadu kegembiraan dalam payung kemesraan adalah hasilnya.

Kegembiraan masih berlanjut dengan persembahan kado tak terduga, yaitu sebuah lagu yang dimainkan oleh Lemut Samudro. Lagu berjudul ‘Generasi Bunga’ dihadiahkan untuk Damar Kedhaton pada momentum milad ke-3 ini. Lirik lagu tersebut diciptakan sendiri oleh Lik Ham, kemudian di aransemen oleh Lemut Samudro. Bermula dari nyanyian sebaris lirik, lantas mewujud menjadi sebuah lagu utuh yang terdengar indah hingga terasa menancap ke dalam dada dan penuh akan makna.

Panjang umur paseduluran; tumbuhlah tunas-tunas baru secara perlahan-lahan, indahnya kelopak bunga mulai bermekaran, hingga menebar aroma wewangian.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik. Sedang menyelesaikan studi di UIN Sunan Ampel Surabaya.