MENYABARI KEBERLIMPAHAN

www.islam.nu.or.id

MENYABARI KEBERLIMPAHAN

Siapa sih yang tidak ingin berkelimpahan materi (baca:kaya)? Saat ini, di tengah arus hidup materialisme dan gaya hidup yang serba hedon, saya teramat sangat yakin bahwa amat sangat sedikit yang bisa berkata tidak pada keberlimpahan.

Kita tidak sedang membicarakan, apakah keberlimpahan itu buruk atau baik. Karena hakikatnya tidak ada yang seratus persen jelek atau sebaliknya. Selama kita bisa menyikapi dengan tepat, keburukan pun bisa berubah menjadi kebaikan.

Suatu sikap yang terpuji apabila kita menyukuri keberlimpahan. Bahkan itu adalah perintah agama. Bukankah Allah menjanjikan “tambahan” apabila kita mampu untuk menyukuri karuniaNya?

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Dalam hadis nabi dijelaskan bahwa mayoritas penduduk neraka adalah orang miskin. Ini mengindikasikan bahwa banyak orang kaya gagal dengan ujian keberlimpahan. Dalam alquran kita dikenalkan Allah dengan Qorun yang gagal dengan ujiannya. Begitupula dengan Tsa’labah.

Secara psikologis, ketika keberlimpahan materi berada dalam genggaman, maka akan muncul “kebutuhan-kebutuhan” semu – kebutuhan prestise salah satunya – yang apabila kita tidak tepat mensikapinya maka kita akan larut dalam arus materialisme.

Kita sering terlupa bahwa “pasangan” syukur adalah sabar. Keduanya merupakan sikap mental yang diwasiatkan Kanjeng Nabi untuk umatnya dalam mengarungi warna-warni hidup. Keduanya adalah dua sisi koin kunci sukses hidup. Maka tiadalah sabar tanpa syukur, dan syukur tak kan sempurna tanpa kesabaran. Dalam konteks keberlimpahan karunia, selama ini kita lebih ditekankan sisi syukur saja dalam menyikapinya. Amat jarang sabar diwasiatkan oleh para da’i dalam menjalani keberlimpahan hidup. Seakan sabar memang tidak dibutuhkan dalam kondisi berlimpah. Sabar mungkin dianggap hanya cocok diwasiatkan untuk orang yang kekurangan. Lah ngapain harus sabar, bukankah semua bisa dinikmati – dibeli. Mungkin sebagian kita, atau malah kebanyakan kita, berpikir demikian.

Sabar secara kebahasaan berarti menahan. Dalam konteks keberlimpahan, sabar digunakan sebagai rem bagi diri kita agar tidak selalu melampiaskan keinginan (nafsu). Karena potensi melampiaskan (memenuhi) keinginan nafsu sangat besar. Dalam kondisi normal pun hidup kita terlampau banyak ngegas (melampiaskan nafsu) dari pada ngerem (bersabar). Demikian sentilan Mbah Nun untuk kita yang patut renungkan. Apalagi kemudian kita dalam kondisi berlimpah, maka rem (sikap sabar) harus kita kedepankan sepanjang waktu.

Kata “sabar” dalam bahasa arab tersusun dari asal huruf ba, shod dan ro. Dari huruf-huruf tersebut lahir pula kata “ba-sho-ro” yang berarti melihat (dengan kejernihan hati). Secara tak langsung mengindikasikan bahwa untuk bisa sabar dibutuhkan kejernihan hati dan kemampuan melihat secara utuh (holistik).

***

Sabar mudah sekali diwasiatkan – dipesankan dengan kata-kata. Namun ia sungguh berat. Makanya Allah dalam alquran mengajarkan kita doa untuk meminta diberikan kekuatan untuk bersabar.

 رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا

Ya Rabb kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami. Semoga kita semua diberikan kemampuan untuk bersabar. Baik dalam kekurangan maupun keberlimpahan.

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.