DZIKIR SEMESTA

https://images.app.goo.gl/rBrQyNqZB7n59Jey8

DZIKIR SEMESTA

Biasanya banyak dari kita mengartikan dan memahami dzikir sebatas melafalkan kalimat tahlil, tasbih, tahmid ataupun aneka kalimat thoyyibah lainnya. Secara bahasa dzikir bermakna mengingat, menyebut ataupun berdoa. Maka tidak salah juga kalau mengartikan demikian. Yang penting tetap mau berdzikir pada Allah di tengah arus budaya yang cenderung melalaikan. Bukankah demikian?

Dalam Maiyah kita dilatih untuk tidak terjebak pada kerangka berfikir fakultatif, sementara pendidikan kita saat ini semuanya mengarahkan kita untuk tidak melihat secara universal. Oleh karenanya dzikir bisa kita pahami dari berbagai pintu (fakultas pengetahuan), namun akan kita dapati esensi yang sama, yaitu mengingat Allah dengan segala kebesaran, keindahan dan keagunganNya.

Dalam setiap peristiwa, dalam setiap perilaku, selama itu bisa membawa kita “menemukan” Allah, maka sejatinya itu adalah dzikir. Mulai dari peristiwa yang sederhana dalam keseharian kita seperti aktivitas makan dan tidur, hingga fenomena alam yang terbentang di jagat raya semisal gugusan bintang dan planet, matahari, bulan, juga siklus air, semuanya bisa jadi wasilah, perantara, bagi kita untuk mengingat Allah.

سَنُرِيهِمۡ ءَايَٰتِنَا فِي ٱلۡأٓفَاقِ وَفِيٓ أَنفُسِهِمۡ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمۡ أَنَّهُ ٱلۡحَقُّۗ أَوَ لَمۡ يَكۡفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُۥ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٖ شَهِيدٌ

“Akan Kami perlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, hingga jelaslah bagi mereka bahwa (apa yang dikandung) al-Qur’an itu adalah benar. Apakah tidak cukup bagimu bahwasanya Rabbmu menyaksikan segala sesuatu?” (Q.S. Fushshilat: 53)

Kalau kemudian kita hanya membatasi dzikir sebagaimana pengertian awalnya betapa “repotnya”. Kita harus meluangkan waktu khusus untuk melakukan dzikir – meski bisa jadi banyak juga yang terbiasa melafalkan dzikir selama melakukan aktivitas. Tapi banyak juga yang kerepotan bukan? Padahal urgensi dari dzikir ini menurut Alquran adalah – salah satunya – membuat hati menjadi tenang dan tenteram.

Seorang petani, misalnya, ketika ia menggarap sawah ladangnya, menyaksikan tanaman-tanamannya tumbuh dan berbuah, kemudian sadar sepenuhnya akan kekuasaan dan kebesaran Allah yang memungkinkan itu semua terjadi, hakikatnya adalah melakukan dzikir.

Begitu juga seorang pedagang ketika menyadari hari ini dagangannya lebih laku dibandingkan kemarin atau sebaliknya, kemudian melahirkan kesadaran bahwa Allah dengan sifat Rahman-Rahim sudah menetapkan takaran rizki bagi hambaNya, kemudian dia ridho karena itu, maka hakikatnya pedagang tersebut sedang melakukan dzikir.

Dalam aktivitas makan saja kita pun bisa mengingat dan menemukan kebesaran Allah. Masalahnya selama ini kita sekedar makan tanpa pemaknaan. Padahal aktivitas makan bisa menjadi dzikir – pengingat – kepada Allah. Bilamana tidak, kita yang makhluk yang “berakal” ini ternyata tergantung dengan makhluk yang tidak berakal. Lantas darimana kita bisa sombong. Hanya Allah sajalah Dzat yang tidak tergantung kepada apa dan siapa.

Bila kemudian kita urai, momen-momen untuk kita berdzikir itu sejatinya dekat dengan kita. Tinggal apakah kita mau dan mampu melakukannya. Mbah Nun seringkali berpesan, bahwa apapun itu, seyogyanya mampu mengantarkan kita untuk “menemukan” Allah. Ke mana pun arah pandang kita tuju, di sana akan kita dapati (tanda-tanda kekuasaan) Allah.

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ ۚ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ ۚ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. AL Baqoroh:115)

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.