Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #40 – Januari 2020 “TANAH SUCI”

“Teruslah, teruslah berjalan. Melangkahlah, melangkahlah dengan keindahan”

Begitu penggalan lirik “Generasi Bunga” yang dihadiahkan Lik Ham pada Milad DK ke-3 bulan lalu. Dengan mengandaikan bahwa keindahan adalah puncak sekaligus rangkuman atas kebenaran dan kebaikan, maka dengan apa kita harus membekali diri dalam meneruskan langkah agar bernilai indah?

Di tengah keremangan zaman yang menanggung aneka rupa krisis seperti sekarang ini, ke arah manakah kita harus menengok demi mencari referensi utama? Kiranya, apa yang dipesankan Cak Dil bulan lalu kepada keluarga DK, kian menemukan makna urgensinya, yang salah satunya adalah ; pelajari sirah nabi.

Melalui pembacaan atas sejarah perjalanan dakwah nabi, dengan dibarengi upaya penggalian makna yang terkandung di tiap periodenya, alih-alih sekedar menghafal urutan penggalan adegan-adegan beserta nama-namanya, kita berharap mendapatkan cahaya baru dalam menatap dan mengkhalifahi realitas keseharian.

Secara garis besar, periodesasi sirah nabi dibagi menjadi dua era ; makkah dan madinah. Kita kemudian menyebut kedua kota tersebut sebagai “haramain”, dua tanah suci. Di bulan pertama tahun 2020 ini, kita hendak memulai menyelam di samudera jejak peristiwa, sikap, perangai, dengan segala kandungan kemuliaan yang diteladankan Kanjeng Nabi.

Lantas kenapa idiom “Tanah Suci” yang dipilih sebagai tajuknya? Apakah kita hendak mencoba menyarikan sebagian makna dari sirah nabi yang sanggup kita petik pada spirit cinta tanah air, misalnya? Ataukah ini soal tayamum? Atau, ini tentang tanah yang kita diami sekarang kian menjauh dari nilai kesucian dan kejujuran? Atau bagaimana?

Dulur, dengan cakrawala kesadaran sinau bareng yang senantiasa meluas dan mendalam, mari melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-40, pada :

Sabtu, 18 Januari 2020
Pukul 19.23 WIB
Di Ponpes Mathlabul Huda, Ds. Babak Bawo, Kec. Dukun, Gresik.