Relasi Islam dan Sains: Membaca Evolusi dari Perspektif Kue Donat

Relasi Islam dan Sains: Membaca Evolusi dari Perspektif Kue Donat

Mohammad Shofie

 

Iqra! Iqra`bismi rabbikalladżī khalaq.

Tulisan ini dibuat sebagai tanggapan atas diskusi di grup Whatsapp DK beberapa waktu lalu terkait topik evolusi. Namun, fokus tulisan ini bukan pada bahasan ilmiah tentang evolusi, melainkan lebih ke pembenturan agama (wahyu) dengan sains (akal)――kesan yang penulis dapatkan dalam diskusi tsb――karena ini jauh lebih penting daripada sekedar memperdebatkan kebenaran evolusi kera – manusia. Mengapa demikian? Pertama, pola pikir yang gemar membenturkan agama dengan sains bertentangan dengan semangat “afala tatafakkarun”/“afala ta’qilun” yang oleh Al-Quran sendiri di-highlight sebagai sebuah sindiran halus (sekaligus perintah) bagi mereka yang tidak mendayagunakan akal-pikirannya untuk memahami tanda-tanda kebesaran Allah pada setiap makhluk/ciptaanNya. Kedua, kebiasaan membenturkan agama dengan sains berpotensi menggeser pelan-pelan proporsi peran alamiah akal dalam fungsinya mengolah informasi menjadi pengetahuan (objektif). Akibat dari kecenderungan ini adalah orang dibuat menjadi malas berpikir, lebih tepatnya berpikir kritis (hati-hati) dan utuh, dan karenaya menjadi lebih menyukai informasiinformasi yang bersifat instan, bahkan hoax.

Sejarah hubungan antara agama dan sains sudah berumur ratusan tahun dan kompleks. Dalam era keemasan Islam yang berlangsung dari abad ke 8 – 14M di daratan Eropa dan Timur Tengah hingga Asia, ilmu pengetahuan benar-benar menjadi pilar-pilar bangunan sejarah Islam dan memenuhi alam pikiran setiap tokoh dan sarjana-sarjana Islam pada masa itu. Semenjak itu, peradaban Islam mengalami kemunduran, bahkan sampai hari ini. Banyak teori yang menjelaskan sebab-sebab kemunduran tsb, salah satunya adalah terkait dengan problem keilmuan. Pasca era keemasan Islam selain terjadi kemandekan perkembangan dalam tradisi pemikiran dan keilmuan, juga terjadi pemisahan antara (ilmu) agama dengan ilmu pengetahuan (filsafat, matematika, logika, maupun ilmu alam) yang sebelumnya keduanya bukan hanya tidak menunjukkan pertentangan, tetapi merupakan satu ruang keilmuan tempat para sarjana Muslim bertukar pikiran dan pengetahuan hingga dapat menghasilkan karya-karya monumental.

Relasi agama dan sains

Hubungan antara agama dan sains ingin penulis sederhanakan melalui perumpaan berikut:

 Jika Tuhan adalah seorang juru masak yang ingin berbagi sebagian isi resep kue donat (dari ribuan koleksi resep kue miliknya) kepada murid-murid sekolah, maka Al-Quran adalah seperti transkrip penuturan seorang guru (dimana dia telah ‘mendengar’ langsung isi resep kue donat tsb dari si juru masak) yang menyampaikan resep kue donat kepada muridmuridnya. Si guru sendiri sebenarnya tidak tahu pasti bagaimana proses pembuatan donat tsb, ia hanya diberitahu secuil informasi saja. Hanya si juru masaklah satu-satunya orang yang mengetahui secara mutlak bagaimana donat tersebut dibuat.

Sumber: https://brewminate.com/science-versus-religion-in-american-law/

Lalu, si guru tadi meninggal dan mewariskan transkrip penuturannya tentang resep kue donat yang ia dapatkan dari si juru masak kepada setiap muridnya. Berabad-abad setelahnya, anak-cucu dari murid-murid generasi pertama, bahkan masyarakat luas di semua belahan dunia, terus berdebat tentang bagaimana kue donat tersebut dibuat. Sebagian meyakini――ada yang yakin mutlak, ada yang yakin tapi diam-diam masih bertanya-tanya, dan tidak sedikit juga yang masih ragu ――bahwa proses pembuatan donat sama persis seperti yang tertulis dalam transkip resep kue si guru. Sebagian lagi memilih jalan lain: melakukan penyelidikan/penelitian serta percobaan-percobaan bebas selama bertahun-tahun, baik dengan niat untuk menemukan proses (mekanisme) pembuatan kue donat yang sebenarnya maupun sekedar untuk membuktikan kebenaran informasi dalam resep tsb. Nah, sintesis informasi tentang proses pembuatan donat yang disusun berdasarkan hasil percobaan――menimbang bobot donat, mengukur diameternya, lalu memotong-motong donat tsb menjadi potonganpotongan kecil, kemudian mengamatinya di bawah mikroskop dan menganalisis komponenkomponen penyusunnya menggunakan larutan kimia dan instrumen-instrumen lainnya――disebut sebagai teori ilmiah, dan akan menjadi kebenaran ilmiah jika teori tsb dinyatakan valid setelah diverifikasi melalui percobaan-percobaan sejenis. *****

Evolusi Donat

Sang juru masak, melalui si guru tadi, menginformasikan kepada khalayak umum bahwa ia membuat donat dari adonan tepung yang dicampur air dan kemudian dipanaskan. Sebagian orang menerima informasi tersebut apa adanya, ada yang membuka diri terhadap penafsiran lain meskipun terbatas, tapi tidak sedikit juga yang menutup diri dari penafsiran lain tersebut. Apa yang dilakukan Charles Darwin selama 40 tahun melakukan penelitian terhadap ribuan spesies-spesies flora dan fauna di berbagai belahan dunia adalah mirip seperti percobaan memotong-memotong dan menganalisis donat di atas. Dari hasil pengamatannya, ia menyimpulkan bahwa donat “Dunkin” modern (Homo sapiens) masih berkerabat dekat dengan jajanan pasar otok-otok (Primata). Apakah kesimpulan seperti ini salah? Penting untuk diingat bahwa kebenaran ilmiah itu selalu relatif: dibatasi ruang-waktu, termasuk di dalamnya kapasitas intelektual manusia dan instrumen-instrumen risetnya! Boleh jadi saat ini disepakati bahwa fakta ilmiahnya adalah donat “Dunkin” modern merupakan hasil penyempurnaan bertahap dari adonan-adonan donat “kuno” sebelumnya yang telah mengalami evolusi selama ratusan tahun dimana salah satu percabangan evolusinya adalah jajanan pasar otok-otok. Bagaimanapun, sains selalu berkembang; tidak menutup kemungkinan bahwa kesepakatan/fakta ilmiah ini masih akan terus direvisi dan disempurnakan oleh penemuan-penemuan berikutnya dan mungkin juga akan digantikan oleh teori “The Origin of Donut” yang baru. Satu hal yang pasti, si pembuat donat tidak akan marah terhadap apapun keyakinan kita terkait proses pembuatan donat tersebut, tapi jelas ia akan marah besar jika ada yang merusak dan menghina donat buatannya atau merendahkan siapapun yang berusaha dengan sungguh-sungguh untuk mempelajari/meneliti bagaimana proses pembuatan donat tsb. Dia memberikan kebebasan kepada khalayak umum untuk memilih sikap. Tak jadi soal buat dia apakah kita mau percaya apa adanya isi transkrip resep donat peninggalan si guru, tanpa harus repot-repot mempelajari proses membuat donat; juga dipersilahkan bagi siapa saja yang ingin mempelajari proses pembuatan donat melalui teori dan eksperimen――keduanya mempunyai ruang-waktu dan jalan pengetahuannya masingmasing dan oleh karenanya tidak bisa dipertentangkan. Dengan demikian, untuk menilai valid-tidaknya kesimpulan Darwin soal jalur kekerabatan donat “Dunkin” dengan otok-otok pasar sudah semestinya tidak dengan cara membenturkan hasil penelitian dengan isi transkip resep kue donat, tapi dengan mengujinya lewat penelitian/eksperimen ilmiah. Bagaimana dengan transkrip resep donatnya, dimana kita harus meletakkannya? Berkaca pada sikap para ilmuwan-ilmuwan Muslim di era keemasan Islam, alih-alih dipakai untuk mengonfrontir teori-teori ilmiah, mereka menjadikan Al-Quran sebagai sumber inspirasi dan titik tolak dalam bernalar maupun melakukan eksperimen. Maka dari itu, perdebatan antara Islam dengan sains dalam soal apakah donat “Dunkin” modern dibuat langsung oleh si juru masak dari adonan jadi (campuran terigu, telur, air, gula, garam, fermipan) ataukah hasil modifikasi dari adonan-adonan sebelumnya, seharusnya dilakukan dalam semangat “afala ta’qilun”, bukan dogmatisme. Satu-satunya masalah yang tersisa, yang sebenarnya tidak ada sangkut pautnya langsung dengan Islam maupun sains, adalah pola pikir sebagian Muslim yang hobi membenturkan teks Quran dengan sains untuk tujuan membenarkan secara mutlak apa yang mereka yakini. Ini mirip seperti pembeli Dunkin Donuts yang tidak tahu bagaimana proses pembuatan donat di Dunkin tapi ia mengklaim bahwa pengetahuannya tentang donat adalah yang paling valid hanya karena ia tinggal satu desa (merasa lebih kenal) dengan si pembuat donat Dunkin, sementara pembeli lain yang tidak satu desa dengannya dianggapnya tidak kompeten dalam pengetahuan tentang proses pembuatan donat, meskipun, faktanya, mereka ini sehari-harinya bekerja sebagai peminat dan peneliti donat. Dalam konteks semangat “afala tatafakkarun”, “afala ta’qilun”, dengan disertai niat untuk menemukan kebenaran obyektif, sesungguhnya Darwin telah melakukan perintah “iqra” yang diserukan Malaikat Jibril a.s kepada Nabi Muhammad: membaca tanda-tanda kebesaran Allah yang embedded di alam serta di dalam dirinya sendiri――potensi berpikir (berkesadaran). Lebih dari sekedar membaca, Darwin ‘berjihad’ selama 40 tahun melakukan penelitian di alam dan di ruang koleksi spesimen, mengamati dengan tekun setiap detail dari ribuan koleksi spesimen flora dan fauna yang ia kumpulkan selama bertahun-tahun, lalu menyusun sebuah ikhtisar ilmiah tentang asal-usul makhluk hidup, “The Origin of Species”. Setelah membaca evolusi dari perspektif donat di atas, penulis berharap semoga JMDK bisa mengerti dan menghargai karya Darwin sebagai sebuah hasil ‘ijtihad’ intelektual yang tidak semestinya dipertentangkan dengan Quran. Kita tidak mengenal Darwin cukup baik, juga tidak membaca buku dan tulisan-tulisannya, apalagi mempelajari tentang dasar-dasar dan perkembangan teori evolusi maupun riset-riset kontemporer seputar evolusi. Penulis berharap agar JMDK tidak gampang menjatuhkan judgment kepada tokoh, ilmuwan, atau siapapun yang belum/tidak kita kenal. Dalam imajinasi penulis, seandainya si guru masih hidup, lalu ada salah seorang anak muda millenial datang kepada beliau untuk meminta pendapatnya apakah benar yang dikatakan Darwin tentang evolusi manusia, penulis cukup yakin beliau akan bertanya balik kepada si pemuda apakah dia sudah selesai membaca buku yang ditulis oleh Darwin dan memahami isinya? Jika belum, Iqra’! Sebagai penutup, membaca tentang evolusi sebaiknya tidak usah terlalu serius, terutama bagi orang awam seperti kita. Anggap saja seperti membaca sebuah novel dengan genre thrillerdimana di dalamnya kita berperan sebagai seorang detektif. “Setelah bertahun-tahun melakukan penyelidikan dan mengumpulkan cukup bukti, akhirnya si detektif sampai pada kesimpulan bahwa setelah merangkai ulang semua buktibukti dengan mengikuti suatu pola tertentu, didapatinya bahwa kakek/nenek moyangnya dari generasi paling awal adalah sejenis ikan berahang mirip ikan gabus, yang selanjutnya si ikan memperlihatkan perubahan-perubahan morfologi secara bertahap hingga menjadi seperti seekor primata sebelum akhirnya berubah menjadi manusia, meski dia sendiri tahu akan butuh bertahun-tahun lagi untuk bisa menjelaskan secara lebih utuh dan pasti bagaimana perubahan ini terjadi. Terlepas dari fakta bahwa bukti-bukti yang didapat sudah sangat banyak dan skenario kasus yang disusunnya sudah cukup meyakinkan dari sudut pandang keilmuan yang ia tekuni, tetapi (alam pikiran) si detektif, yang hanya bisa menjangkau mundur sejarah dan logika ruang-waktu paling jauh 20 abad ke belakang, masih mengalami kesulitan untuk membayangkan bagaimana (mungkin) keluarga dan teman-temannya saat ini adalah jelmaan dari makhluk primitif mirip ikan gabus yang banyak dijual di pasar dekat rumahnya――seketika si detektif melirik ke istrinya dan ‘melihat’ seekor induk ikan gabus gemuk berbusana gamis. Tiba-tiba si detektif seperti mendapatkan pencerahan, ia sekarang paham kenapa istrinya sering mengatakan kepadanya kalau “cantik itu relatif”

Mohammad Shofie

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK), Tinggal Di Cerme, Gresik.