NIKMAT PASEDULURAN

NIKMAT PASEDULURAN

https://images.app.goo.gl/bGCXEixVocaf9oSb7

Salah satu nikmat terbesar dalam hidup adalah nikmat paseduluran, persaudaraan. Dalam sejarah Islam, kita pun sama tahu bahwa apa yang dilakukan pertama kali oleh Rasulullah setiba di Madinah adalah membentuk ikatan persaudaraan antar Muhajirin dan Anshor. Persaudaraan yang bukan ditautkan darah, suku ataupun motif motif “duniawi” melainkan atas dasar persamaan iman.

Dalam bahasa Al-Qur’an orang beriman adalah bersaudara. Innama al-mu’minuna ikhwah. Tidak hanya bersaudara, Nabi bahkan memisalkan muslim satu dengan muslim lainnya laksana satu tubuh. Apabila sakit satu bahagian yang lain pun merasakan.

Ulama bahkan mengenalkan ragam paseduluran. Ada ukhuwah islamiyah, ukhuwah insaniyah dan kalau di Indonesia yang sering pula digaungkan adalah ukhuwah wathoniyah, persaudaraan sesama anak bangsa. Lebih jauh lagi, Mbah Nun bahkan mengenalkan kepada anak cucunya adanya persaudaraan sesama makhluk. Manusia bersaudara terhadap hewan dan tumbuhan. Bahkan hewan dan tumbuhan adalah “saudara tua” kita.

Dalam relasi yang terbangun antar manusia seringkali ada motif-motif yang mendasarinya. Dan itu manusiawi. Bisa jadi motifnya kepentingan “bumi” ataukah motifnya mengikuti panduan “langit”. Kita sering mendengar hubungan yang berdasar take and give, atau kalau mau dibalik ya sama saja sebenarnya give and take. Ada sementara pihak yang memberi dengan harapan nanti bisa mengambil di kemudian waktu. Jadi relasinya lebih seperti relasi transaksional. Jual-beli.

Coba kemudian kita mentadaburi bagaimana persaudaraan Anshor dan Muhajirin yang terekam dalam Al-Qur’an surat Al-Hasyr ayat 9-10.

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِنْ قَبْلِهِمْ يُحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَنْ يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَالَّذِينَ جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ

Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshor) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka (Anshor) ‘mencintai’ orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin); dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin), atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka dalam kesusahan. Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang orang yang beruntung (9) Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshor), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman; Ya Rabb kami, Sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang. (10)

Lihatlah bagaimana pemberian yang diberikan oleh kaum Anshor terhadap Muhajirin tidak memiliki harapan agar berbalas. Yang dilakukan senantiasa give and give. Tanpa pernah berharap take. Bahkan mereka mendahulukan kepentingan saudaranya atas dirinya. Coba kemudian bandingkan dengan diri kita. Apakah masih ada rasa “berat” ketika membantu saudara kita, bahkan meski kita dalam kondisi lapang?

Doa yang tulus tanpa diminta dan tanpa diketahui saudaranya, tanpa rasa iri hati, menghiasi munajat-munajat yang terpanjat. Sekali lagi bandingkan dengan doa-doa kita yang hampir semuanya untuk kepentingan kita sendiri. Padahal seringkali kita alpa untuk bersyukur kepada Yang Maha Kuasa.

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng, Gresik.