Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #40 – Januari 2020 “Tanah Suci”

Sabtu (18/01), bertempat di Pondok Pesantren Mathlabul Huda, Ds. Babak Bawo, Kec. Dukun, Gresik, pegiat Damar Kedhaton memulai sinau bareng di awal tahun 2020 ini pada edisi yang ke-40. Forum Maiyah memang membawa atmosfer yang memikat. Tak lain karena kebersamaan, kemanfaatan, kebahagiaan, dan kemesraan yang tercipta tidak terpengaruh oleh eksistensi duniawi, atau bahkan untuk sekadar mendapatkan laba pribadi. Masing-masing jemaah rela terjaga matanya hingga dini hari semata-mata demi mencari kesucian yang sejati. Gus Khotib, salah satunya. Sebagai pengelola sekaligus guru di Pondok Pesantren Mathlabul Huda, beliau menyambut jemaah yang begitu antusias dengan rasa bahagia dan apresiasi yang luar biasa. Bahkan, beliau juga menyatakan akan berusaha hadir pada rutinan edisi-edisi berikutnya.

nderes Al-Quran Juz 10 oleh Santri Pondok Pesantren Mathlabul Huda

            Diawali dengan nderes Al-Quran Juz 10 oleh tiga santri pondok, kemudian dilanjutkan dengan pelantunan wirid sholawat yang dipandu oleh Cak Faiz dan Cak Bayu (Dukun), majelis ilmu Telulikuran pun dibuka. Malam itu, kurang lebih 30 orang jemaah yang terdiri dari berbagai penjuru Kabupaten Gresik – barat, utara, kota, dan selatan – berkumpul, melingkar bersama. Berangkat dari pesan Cak Dil bulan lalu pada saat momentum milad DK yang ke-3: “Peradaban zaman sekarang semakin menjauhi nilai-nilai dari Sirah Nabawi”, maka tema ‘Tanah Suci’ diusung pada malam itu. Tentu, banyak hal yang harus disinaoni dan dikaji secara jangkep. Sebab itu, Mbah Nun sering kali berpesan kepada jemaah agar setia berjuang mencakrawalakan pikiran, meluaskan pengetahuan, memperkuat pemahaman, dan tak lupa menjernihan hati. Dengan harapan agar output-nya tidak mudah menyalahkan orang lain yang berbeda sudut pandang.

Meneladani Cinta Kanjeng Nabi, Memperjuangkan Kesucian Diri

            Akhir-akhir ini, fenomena sholawatan merajarela dengan pesat, tak terkecuali yang sedang terjadi di Gresik. Bermacam-macam bentuk ekspresi telah ditunjukkan, baik penampilan dari sisi keindahan suara, keberagaman genre musik pengiring, kemegahan panggung, kemewahan kostum yang seragam, dll. Namun harus diingat bahwa yang paling utama bukanlah bentuk sholawatannya melainkan makna esensi yang terkandung, yaitu memuliakan Kanjeng Nabi Muhammad saw. dan jangan sampai mengultuskan atau berangkat menuju majelis sholawat karena sosok kyai/habib-nya semata.

Gus Khotib Mengajak jamaah Untuk Lebih Dalam Menggali Tema

            “Kita bisa berkumpul di sini tidak lain dikarenakan Mahabbah,” tutur Gus Khotib. Beliau menganalogikan sholawat sebagai salah satu bentuk mahabbah atau cinta kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. “Salah satu syarat dari cinta adalah selalu menyebut namanya”, lanjut Gus Khotib. Namun, sangat disayangkan jika pelantunan sholawat hanya sebatas dibaca, apalagi tidak sampai meneladani akhlak tingkah laku Kanjeng Nabi semasa hidupnya guna diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Yang terpenting adalah bagaimana kita memosisikan mahabbah pada level tertinggi, yaitu mengalahkan segala cinta di dunia untuk menuju hanya kepada Allah dan Kanjeng Nabi.

            Terkait Sirrah Nabawi atau sejarah Kanjeng Nabi, Gus Khotib sedikit bercerita tentang beratnya dakwah Rasululullah saw. waktu itu. Betapa tidak, ada suatu peristiwa di mana gigi Kanjeng Nabi tersabet pedang hingga berdarah-darah, membuat Malaikat Jibril tidak terima, lalu ingin melaporkan kejadian tersebut kepada Allah agar berkenan membalas perlakuan orang yang telah mengucurkan derasnya darah dari gusi Kanjeng Nabi. Namun, Kanjeng Nabi Muhammad saw. menolak, “Meski hari ini saya tidak bisa mengislamkan mereka, masih ada harapan bagi anak cucunya kelak.”

            Peristiwa kedua yang diceritakan oleh Gus Khotib adalah ketika menjelang sakaratul maut, yang paling diingat oleh Kanjeng Nabi adalah umatnya. Bahkan, beliau menyebut kata “umat” sebanyak tiga kali. Sungguh, ini merupakan peristiwa besar yang harus kita ketahui bersama, dan terlebih lagi, harus dijadikan teladan guna mendongkrak energi dalam menjalankan kehidupan. Hemat kata, betapa Kanjeng Nabi Muhammad saw. memiliki rasa cinta yang meluap-luap kepada umatnya melebihi rasa penderitaan berdakwah semasa hidupnya.

            Dua peristiwa tersebut mencerminkan sifat welas asih atau tidak tegaan Kanjeng Nabi kepada apa dan siapa pun, bahkan tidak mempedulikan dirinya sendiri hingga terluka bersimbah darah. Sungguh sebuah perwujudan Islam yang ramah dan rahmatan lil ‘alamin. Kanjeng Nabi, dengan kebesaran hatinya, menyampaikan Islam tanpa paksaan dan mengajak semua orang menikmati kemudahan Islam yang mengutamakan keselamatan bersama.

Cak Syuaib Mengulas Arti Makna Kesucian

            Selanjutnya, Cak Syuaib mengajak jemaah untuk mendalami makna kesucian. “Kesucian harus dibela, dicari, serta diperjuangkan tanpa henti,” tuturnya. Kesucian, menurut Cak Syuaib, adalah kemurnian yang utuh, tidak dapat ditambahi maupun dikurangi. Pada dasarnya, kesucian sudah kita alami dalam kehidupan sehari-hari. Cak Syuaib mencoba mendeskripsikannya melalui contoh, “Seseorang yang memakai kaos oblong ketika berjamaah di masjid atau musala akan berkesadaran diri untuk tidak menempati shaf di depan”. Beliau mengajak jemaah untuk mencari kesucian pada diri – yang tentunya bisa diperoleh lewat pintu mana pun. Selain tentang kesucian, kepekaan membaca momen ketika banyak pengetahuan berseliweran di sekeliling kita juga menjadi poin utama yang ditekankan oleh Cak Syuaib malam itu.

Elaborasi Makna Ibadah Haji

Bukan sekadar siapa yang benar, melainkan apa yang benar ditekankan lebih dalam diskusi ala Maiyah. Memang, dengan model demikian, penguakan makna yang terselip pada suatu kata berpotensi menjadi agak ‘ngawur’. Walaupun begitu, selalu saja ada akses bagi pejalan Maiyah untuk menyambungkan pertalian makna menjadi satu kesatuan utuh. Seperti halnya malam itu, pemaknaaan ibadah haji yang beragam dari benak dulur-dulur dapat terajut apik.

Cak Kaji Fian menceritakan pengalamannya saat berada di Tanah Suci

Cak Kaji Fian, salah satu dulur yang kebetulan pernah menjalankan ibadah haji di Tanah Suci, menceritakan pengalamannya yang paling berkesan saat berada di sana. Bahwa, perasaan kemeruh (baca: sok tahu) atau sok suci dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri. Saat itu, ia dimintai tolong oleh sesama jemaah haji yang berasal dari Bali untuk mengantar mencari taksi dengan tujuan hotel tempat peristirahatannya. Nahas, tidak sedikit pun terlihat taksi yang melintas, meski mata sudah terjaga dengan awas. Hingga kemudian, mereka harus lebih dulu menempuh perjalanan kaki sejauh kurang lebih 1 km. Untunglah, setelah itu, mereka bertemu dengan petugas haji yang bersedia mengantarkan jemaah Bali tersebut hingga ke hotel.

Ia menganggap sudah menguasai dan paham betul dengan medan yang dihadapi. Bahwa, untuk mencari taksi itu sebenarnya tidak sulit. Dengan mengantar ke tempat yang ramai orang, halte, dan tempat-empat penting. Kenapa? Logika menunjukkan sudah pasti yang namanya moda transportasi itu identik dengan keramaian, kerumunan orang, dan tempat-tempat vital. Akan tetapi, pada kenyataannya Cak Kaji Fian tak kunjung menemukan taksi, pun sudah berjalan hingga hampir sejauh 1 km. Hingga bertemulah dengan petugas haji yang kemudian tidak terlalu lama menemukan taksi.

            Suasana diskusi kian elaboratif ketika Cak Madrim dan Cak Amin menyampaikan pendapat yang berbeda. Menurut mereka berdua, keberangkatan haji adalah sebuah bentuk kezaliman jika para tetangga terdekat kita masih belum bisa mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Pendapat tersebut diperkuat oleh Cak Edi melalui contoh nyata, “Ada satu persoalan di suatu desa, terdapat seseorang yang sangat mampu untuk berangkat haji. Tapi, orang tersebut berkomitmen akan berangkat haji jika (semua) tetangga sedesanya mampu untuk mencukupi biaya hidup sehari-hari”.

Letakkan Mekah dan Madinah dalam Hati

Guna Melemaskan Syaraf Otak Yang Mulai Tegang Cak Fauzi bersama Jama’ah Melantukan sholawat Alfu Salam

            Layar gawai menunjukkan pukul 01.25 WIB. Dipandu oleh Cak Fauzi, sholawat Alfu Salam dilantunkan bersama guna melemaskan syaraf otak yang mulai tegang, mendinginkan hati agar lapang, dan menyatukan kembali frekuensi jemaah yang mulai pudar serta menghilang.

            Diskusi tetap berlanjut, semangat jemaah untuk sinau bareng tak mengenal kata surut. Tema ‘Tanah Suci’ tentu identik dengan kota Mekah. Secara historis, Hajar Aswad adalah sebongkah batu yang sengaja diturunkan oleh Allah dari surga. Mengapa kota Mekah bisa dianggap sebagai tanah suci? Sebab, tepat di mana batu tersebut mendarat adalah tempat yang pertama kali dipijak oleh manusia di bumi.

            Kebanyakan orang pasti ingin bisa mencicipi atmosfer Tanah Suci. Betapa tidak, tanah yang teramat suci tersebut telah disebutkan dalam sebuah hadits. Hadits tersebut menjelaskan bahwa dua kota suci – Mekah dan Madinah – tidak akan bisa dimasuki oleh dajjal. Akan tetapi, ibadah haji tidak bersifat final. Bahkan, banyak hadits yang menjelaskan bahwasanya haji bukanlah yang utama, melainkan bagaimana suatu ibadah, apa pun bentuknya, dapat memberikan nilai manfaat kepada sekitar. Ibarat sebuah konstruksi bangunan, haji merupakan bagian atapnya. “Kesucian untuk menyucikan diri”, kata Cak Syuaib, adalah  pondasi dasar atau niat utama ketika akan menunaikan ibadah haji.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

            Mbah Nun, dengan segala ‘keliaran’ pikirannya, sering membesarkan hati jemaah Maiyah melalui pesan, “Taruhlah Mekah dan Madinah di dalam hatimu guna melindung diri dari gelombang dajjal”. Berangkat dari pesan tersebut, diharapkan para dulur Maiyah mampu menyucikan hati, membersihkan pikiran, dan menjernihkan jiwa setiap saat agar tidak mudah terombang-ambing oleh keburaman peradaban dunia saat ini.

            Majelis ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-40 dipungkasi tepat pukul 02.00 WIB. Wirid Maulan Siwallah, Hasbunallah, dan sholawat Tibbil Qullub dilantunkan bersama, melangitkan harapan agar senantiasa diberi petunjuk oleh Gusti Allah. Terlebih, untuk mempertebal pondasi segitiga cinta ala Maiyah. Doa beserta segenap kebersamaan yang telah tercipta malam itu, semoga tetaplah utuh.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik. Sedang menyelesaikan studi di UIN Sunan Ampel Surabaya.