TENTANG WAKTU (1)

https://images.app.goo.gl/dWjpWtogJGGVrvta7

TENTANG WAKTU (1)

 Kontinum waktu terbagi menjadi tiga. Kemarin adalah hari yang sudah kita lewati. Hari ini, dan esok yang bisa jadi tak akan pernah kita jelang. Meskipun kita hidup dalam hari ini, kita seringkali terjebak pada dua kontinum waktu yang lain. Kemarin dan esok.

Romansa masa lalu seringkali menjebak kita. Entah itu kebahagiaan yang menggembirakan, ataukah kesedihan yang merajam. Kepingan-kepingan masa lalu memang menjadi bagian identitas manusia saat ini. Tapi berlarut dalam kubangan masa lalu juga bukan sebuah pilihan.

Sebaliknya, masa depan yang senantiasa menjadi misteri seringkali menjadi bahan angan-angan kosong. Manusia terbuai mimpi dan harapan akan bayangan indahnya, namun tak pernah sungguh-sungguh merealisasikannya. Atau malah ketakutan-ketakutan yang muncul menambah suram gambaran masa depan, namun kita pun tak pernah sungguh-sungguh mempersiapkan antisipasinya.

Nah, bagaimana sih caranya mengoptimalkan waktu? Allah sejatinya sungguh telah memberikan panduan (baca : peringatan) kepada kita bagaimana menggunakan waktu. Karena waktu adalah nikmat yang seringkali tidak menjadi objek syukur kita, sehingga kita menjadai abai bahkan cenderung mengisinya dengan hal sia-sia.

Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran. (QS. Al-Ashr:1-3)

Demikian Allah bahkan perlu bersumpah. Tiadalah Allah bersumpah melainkan hal itu memang sangat penting untuk kita perhatikan. Dalam bahasa sehari-hari, kita perlu bersumpah manakala lawan bicara kita cenderung tidak mempercayai kita. Dalam konteks ini, nampaknya Allah sangat mengenal betul bahwa ciptaanNya akan cenderung untuk menyia-nyiakan waktu. Sehingga Allah bahkan perlu bersumpah untuk menarik perhatian kita agar benar-benar memperhatikan pesan yang terkandung dalam surat tersebut.

Abu Abdullah Muhammad bin Idris asy-Syafi’i al-Muththalibi al-Qurasyi atau yang lebih terkenal dengan sebutan Imam Asy-Syafi’i rahimahullah mengomentari keutamaan Surat Al-‘Ashr seraya berkata:

لو ما انزل الله حجة على خلقه إلا هذه السورة لكفتهم

Sekiranya Allah tidak menurunkan hujjah bagi makhlukNya kecuali surat ini saja, maka sungguh hal itu sudah mencukupi

Ada tiga hal yang harus kita lakukan agar tidak termasuk orang merugi. Yang pertama menjadi orang beriman. Yang kedua beramal sholeh. Dan terakhir adalah saling memberi nasihat tentang (dan dengan) kebenaran dan kesabaran.

Kalau kemudian kita mengingat dhawuh Mbah Nun, bahwa menjadi orang beriman itu tidak cukup dengan beriman (percaya) kepada Allah semata. Melainkan kita harus mengupayakan agar Allah pun “mengimani” kita. Apa maksudnya? Ya sebagai hamba kita harus mengupayakan agar kita pun dipercaya oleh Allah. Bukankah awal penciptaan kita adalah menjadi wakil (khalifah)-Nya di muka bumi? Namun kenyataannya banyak dari kita yang belum benar-benar menjadi khalifahNya, bukan?

Beramal sholeh pun tidak sebatas ibadah mahdhoh saja. Kita seringkali terjebak pada pemahaman bahwa ibadah hanya itu saja. Sedikit-sedikit bid’ah. Bid’ah kok sedikit-sedikit. Eh.. Padahal bukankah kita sudah berikrar bahwa sesungguhnya sholat kita, ibadah kita, bahkan hidup dan mati kita adalah sebuah persembahan kepadaNya. Lantas yang sedemikian itu bukan ibadah namanya?

Kesadaran bahwa segala gerak-gerik kita, bahkan lintasan hati dan pikiran kita, semuanya bisa menjadi sarana ibadah kepada Allah, maka tentu kita akan betul-betul memanfaatkannya dengan sebaik mungkin. Agar semuanya selaras dengan kehendakNya. Itulah amal sholeh yang sebenarnya.

Nah, karena Allah tidak menginginkan kita masuk sorga sendirian, sebagaimana surat tersebut turun pun bukan buat kita semata, maka pesan terakhir Allah adalah agar kita senantiasa melakukan yang namanya tawashow, saling memberi nasihat tentang kebenaran dan kesabaran. Saling memberi nasihat dengan cara yang benar serta disertai dengan rasa sabar. Karena menasihati diri sendiri saja susah, apalagi menasihati orang lain bukan?

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.