TENTANG WAKTU (2) : MALAM

https://images.app.goo.gl/awfv5VgnYdzpoLXh9

TENTANG WAKTU (2) : MALAM

“Demi malam apabila menutupi.” Demikian salah satu sumpah Allah terkait dengan waktu. Di ayat yang lain Allah menyatakan fungsi malam adalah agar kita bisa istirahat. Karenanya, ia adalah sebentuk rahmat Allah kepada kita. Dan benar saja memang faktanya sebagian besar kita menjadikan malam-malam kita untuk beristirahat.

Coba kemudian kita mentadabburi ayat yang lain yang masih terkait dengan waktu malam. “Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian.” Perhatikan fungsi malam dalam penggalan ayat tersebut. Malam berfungsi sebagai pakaian/hijab. Karenanya malam menutupi karena ia adalah pakaian. Mari kita menelisik lebih dalam.

Sesuatu yang ditutupi maka ia mencegah apa yang di dalam untuk terlihat dari luar. Dan sebaliknya apa yang di luar tidak dapat dilihat dari dalam. Masalahnya apa (siapa) baik yang di dalam maupun di luar? Dicegah atau ditutupi dari apa?

Kebanyakan orang menggunakan malam untuk beristirahat setelah seharian berlelah payah mencari penghidupan. Meski tak sama persis pada tingkatan usia, menurut National Sleep Fondation dalam laporan utamanya di Sleep Health Journal menyatakan bahwa rata-rata orang dewasa membutuhkan waktu delapan jam. Kalau kemudian kita asumsikan bahwa durasi malam adalah 12 jam, maka itu sudah dua pertiga malam kita. Bahkan kalau dibandingkan dengan lama waktu harian kita yang 24 jam, itu adalah sepertiganya.

Keheningan malam (sepertiga akhir) sangat membantu untuk kita berkonsentrasi. Makanya banyak kemudian yang menyarankan belajar di malam hari. Bagi yang memiliki hafalan Al-Qur’an, waktu malam adalah waktu terbaiknya untuk melakukan muroja’ah, mengulang-ulang hafalannya.

Pekatnya malam membantu menghalangi mata dari pandangan kepentingan duniawi. Di saat yang sama membantu membuka mata batin agar memiliki ketersambungan dengan Sang Pencipta. Kesendirian di keheningan malam akan menumbuhkan kesadaran bahwa yang benar-benar membersamai kita hanyalah Allah. Tiada tempat bergantung selainNya.

Bayangkan apabila kita bicara dengan kekasih kita, hanya berdua, tidak ada yang lain yang mengganggu. Bukankah akan terbangun keintiman yang nyata? Yang jomblo gak usah berpikir ngeres dulu. Nah seperti itu pulalah, munajat-munajat tengah malam akan semakin intim karena hanya ada kita dan Allah. Kita bisa menceritakan segala keluh kesah kepadaNya.

Banyak cahaya-cahaya yang akan terbuka dalam gelapnya malam. Hijab-hijab hati akan tersingkap satu persatu dengan aktivitas ruhani di malam hari. “Saat yang paling dekat bagi Allah dengan hamba-Nya adalah pada penghujung akhir malam. Maka, jika engkau bisa menjadi orang yang berdzikir mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.” (HR. Tirmidzi)

Al Fudhail bin ‘Iyadh berkata, ”ketika matahari mulai tenggelam, saya merasa gembira dengan kegelapan karena dapat berdua (kholwat) dengan Allah, dan ketika fajar mulai terbit saya merasa sedih karena banyaknya orang yang berbondong-bondong ke saya yang dapat menggangu ibadah saya.”

Rasulullah, sahabat, tabi’in, tabiit tabi’in, salafus sholeh semuanya berlomba-lomba menghidupkan malamnya. Bahkan diriwayatkan dari Sayyidah A’isyah, kaki Rasulullah sampai bengkak disebabkan munajat-munajat panjangnya di malam hari. Lantas, bagaimanakah kita yang mengaku umat nabi, mengaku mengikuti jalan salafus soleh dalam menghidupkan malam malam kita?

***

“Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya. Sementara, mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap.” Demikiankah Allah menyifati orang-orang beriman. Imam At-Thabari menjelaskan bahwa orang-orang beriman menjauhkan lambungnya dari tempat tidur, tidak tidur, untuk berasyik mesra, bermunajat penuh takut dan harap kepada Allah di saat sebagian besar hambaNya terlelap tidur.

“Dan pada sebagian malam, lakukanlah shalat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu, mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.”

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.