Njagong di Serambi

https://images.app.goo.gl/PhEjY7D52ibQ6T9p8

Njagong di Serambi

Adzan dhuhur berkumandang di langit-langit desa Wonoayu, Krian. Sebelumnya, Patmo telah menyusun rencana, untuk njagong di serambi seusai sholat dhuhur berjama’ah. Sebelum berangkat, ia mempersiapkan bekal rokok Surya dan kopi. Ia ingin menikmatinya di serambi bersama jama’ah lain yang mau ikut rencananya. Namun dari sekian jama’ah yang hadir, tak satupun yang bersedia ikut rencana eksklusif Patmo. Akhirnya, sendirian saja ia nikmati bekalnya.

Duduk bersila ia menghadap ke arah jalan. Berderet-deret pohon, dari pohon mangga, jambu, palem, pucuk merah hingga pepaya, jadi sajian pandangannya. Barisan pot bunga tersusun rapi di depan pagar masjid. Mulai dari bunga kamboja, kaktus, dan masih banyak lagi bunga yang Patmo tak hafal namanya.

Sebatang Surya diambil dari bungkus dan seketika diarahkan ke bibirnya. Dengan tempo yang pas, korek api yang diselipkan di dalam bungkus ditariknya keluar. Jempol tangan yang memainkan rol korek api itu berhasil membuat batu korek dan pemantik api itu menyala.

Kretekk kretekk… Whuusss… Asap putih beraroma tembakau itu dihembuskan. “Alhamdulillah…,” ucap Patmo lirih. Ucapan yang seolah diniatkan agar hanya telinganya saja yang sanggup mendengar. Benak Patmo menghatur syukur kepada Tuhannya. Hatinya berterima kasih pada para petani tembakau yang berhasil membuat Patmo bisa menghisap rokok yang dibelinya.

Berlalu-lalang orang melintas di depan masjid. Ada yang berjalan kaki, ada yang menaiki sepeda, ada yang mengendarai motor ataupun mobil.

Sesekali ada yang menyapa patmo dengan ucap salam keselamatan, “assalamu’alaikum…”.

“Wa’alaikumsalam,” jawab Patmo dengan senyuman khasnya.

Ada yang menyapa dengan memanggil nama, “Mas Patmo!”. Ada yang menyapa dengan senyum manja sembari menundukkan kepalanya. Ada pula yang menyapa dengan tatapan mata tanpa terlihat senyumnya. Iya itu karena dia pakai masker penutup mulut.

Sruuuppp… Ahh… suara seruputan khas dari bibir Patmo yang sedang menikmati kopi yang tak lagi panas. Ia nikmati kesendirian di serambi masjid itu, tanpa terasa sudah hampir satu jam lamanya.

Dari kejauhan, seorang pengendara motor matic Vario New, dengan atribut berkendara lengkap, serta mengenakan penutup muka yang menjadikan hanya matanya saja yang terlihat, berhenti secara tiba-tiba di depan masjid. Patmo memandangi diam-diam. Setelah turun, pengendara itu berjalan lewat samping masjid. Dengan melirik, Patmo mengawasi gerak-gerik orang asing itu.

“Kira-kira ngapain dia,” gumam Patmo agak curiga.

Sandal dilepas, melangkahkan kaki masuk dan berhenti di depan kotak amal yang berada tepat di sisi pintu masjid.

“Tahan, tahan. Jangan gegabah!”, bisik Patmo dalam hati.

Tangan kanan orang itu mengeluarkan amplop putih dari saku jaketnya. Entah apa isinya. Yang jelas Patmo memaksa kepalanya untuk berpikir positif, dan mengira yang dikeluarkan adalah uang.

“Semoga saja benar,” Patmo berusaha meyakinkan diri.

Dengan gesitnya orang itu memasukan amplop ke sela-sela kotak amal. Lalu plenciing!! Dan pergi begitu saja. Tanpa meninggalkan salam untuk Patmo yang dari tadi duduk di situ dengan gelagat mengawasi sambil menghisap rokoknya.

Bagi Patmo, tak perlu ada olah pikiran yang berbelit-belit dari kejadian barusan. Ia hanya ber-husnudhon saja, seraya berupaya mengambil hikmah. Patmo berharap kepada Allah agar ia dimampukan meneladani apa yang telah dilakukan oleh si pengendara tadi. Ialah shodaqoh sirr.

Sontak Patmo teringat kalimat gurunya, “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu”

Dengan bahasa khas celotehan Patmo, “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak tahu. Tapi jangan salah, Patmo tahu kok”

Hahaha…

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.