JUM’AT MUBARAK

https://images.app.goo.gl/ivcRSU8LUafsqXt59

JUM’AT MUBARAK

Seusai sholat subuh tepat pukul lima, sambil menunggu semburat bangbangwetan di ufuk timur dari wajah dunia, Patmo berjalan-jalan santai di sekitaran gang Nangka. Tidak sempat duduk di teras rumah, melihat awan sedang beramah-tamah dengan pagi ini dengan wajah teduh. Awan mendung yang membentang di langit desa, menandakan bahwa hari ini cahaya matahari sedang malu menembus kaca rumah penduduk.

Rutinitas menyusuri jalan, mematri niat menggapai ridho ilahi, dengan lantaran berangkat kerja di pagi hari, sebagai orang yang mengumpulkan sebuah tekad untuk tidak berkhianat kepada dirinya sendiri, yaitu dengan menjalankan aktivitas hari-harinya dengan bekerja untuk mendapat bisyaroh berupa ilmu manfaat dan tentunya bonus uang lelah.

Dengan diiringi awan mendung yang membersamai jalannya aktivitas hari ini, sejuk, teduh, dan tidak banyak menguras ion tubuh. Menuju ke arah utara sedikit mengarah ke arah timur, searah jarum jam, di salah satu pulau dari rentetan pulau jawa di sisi utara Jawa Timur.  Dengan cara menumpang kapal feri yang telah bersandar di pelabuhan Tanjung Perak menuju pelabuhan Kamal Madura.

Tepat saat berkumandangnya adzan di waktu masuknya sholat Jum’at, bergegaslah Patmo menuju kamar mandi. Sesudah itu, ia mengambil air wudhu lalu bersiap duduk di dalam masjid untuk memulai salah satu rukun di sholat Jum’at. Dengan santunnya Patmo mendengarkan khotib berkhotbah dibersamai suasana tenang para jama’ah yang telah hadir.

Sebagian ada juga yang masih melakukan shalat qobliyah jum’at di waktu sang khatib telah naik mimbar. Ada anak-anak kecil yang memanfaatkan waktu untuk bersenang-senang. Mereka asyik kejar-kejaran di area shaf paling belakang. Sambil sesekali keceplosan tertawa keras. Tiba-tiba, suasana dikejutkan dengan sabetan sajadah tim keamanan takmir untuk mengkondusifkan situasi.

Patmo yang ketiduran karena semilirnya angin dari sisi masjid, seketika itu terbangun. Ia menoleh ke kanan-kirinya, lalu bertanya kepada jama’ah di sebelahnya.

“Ada apa, Pak?”

“Biasa, Mas. Anak-anak kecil itu rame saat khotib berkhotbah”

Owalah, arek-arek iku pancet ae, gak ngerti ta nek khotib munggah mimbar iku gak oleh ngomong dhewe. Kok malah rame ae nang mburi. Apa arek-arek iku gak diajari karo wong tuane utawa gurune? Kok senengane begejekan ae..

Patmo tak bisa menahan diri. Ia terus nyerocos,

Mbok ya lungguh sing tenang, dirungokna khotib pas wayah nang mimbar, nek perlu ditulis ndek resume. Jamanku bien pas sekolah, saben jum’at di ke’i tugas guru agama kongkon ngrangkum isi ceramah khotib. Supaya gak begejekan. Malah saiki dijarke begejekan. Apa wis gak ana tugas sing kaya jamanku ndjisek?

“Sssstttt!!!”, terdengar seruan dari Keamanan Takmir dari belakang Patmo

“Eh Bapak, hehehe maaf, Pak,” jawab Patmo sambil malu-malu.

Terdengar suara iqomah, tanda shalat jum’at dimulai. Sebagian keamanan berjaga-jaga di raka’at pertama. Lanjut di raka’at kedua. Mreka ikut larut dalam khusuknya sholat Jum’at.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.