“MENOLONG” ALLAH

https://images.app.goo.gl/YsxsbzvrUKMJPvtf6

“MENOLONG” ALLAH

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian. (QS. Muhammad :7)

Kita tentu sering mendengar seruan menolong (agama) Allah. Manifestasinya tentu beragam. Namun akhir-akhir sering diseret ke tanah politik praktis. Sehingga seruan tersebut terasa kehilangan esensi dan kesuciannya. Namun saya juga tak berani menyalahkan juga, karena bisa jadi saya yang memang belum paham dan juga (bisa jadi) apa yang mereka lakukan merupakan ekspresi cinta kepada Allah.

Secara hakiki kita tidak akan mampu menolong (agama) Allah. Karena agama ini dijaga oleh pemilik-Nya sendiri, yaitu Allah. Namun seruan menolong (agama) Allah itu hakikatnya adalah untuk menolong diri kita sendiri. Karena bukankah hakikatnya agama itu dinubuahkan untuk kebaikan manusia sendiri?

Kita sering berpikir yang ndakik-ndakik tentang bagaimana menolong (agama) Allah. Yang pertama kali biasanya terpikir adalah JIHAD. Jihad dalam arti perang. Padahal sebagai orang awam dengan kondisi sekitar kita, kita bisa menolong (agama) Allah dengan hal hal yang sederhana.

Sejenak mari kita perhatikan hadits qudsi berikut :

Hai anak Adam, Aku telah sakit, tetapi engkau tidak menjenguk-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana cara saya menjenguk-Mu, sedangkan Engkau Tuhan Penguasa alam semesta? Allah menjawab: Apakah engkau tidak mengetahui bahwa seorang hamba-Ku bernama Fulan sedang sakit tetapi engkau tidak mau menjenguknya. Sekiranya engkau mau menjenguknya, pasti engkau dapati Aku di sisinya.

Wahai anak Adam, Aku minta makan kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberikan makan kepada-Ku. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya saya memberi makan kepada-Mu, sedang Engkau Tuhan penguasa alam semesta? Allah berfirman: Ketahuilah, apakah engkau tidak peduli adanya seorang hamba-Ku, si Fulan, telah datang meminta makan kepadamu, tetapi engkau tidak memberinya makan. Ketahuilah, sekiranya engkau mau memberinya makan, pasti engkau akan menemukan balasannya di sisi-Ku.

Wahai anak Adam, Aku minta minum kepadamu, tetapi engkau tidak mau memberi-Ku minum. Orang itu bertanya: Wahai Tuhan, bagaimana caranya aku memberi-Mu minum, padahal Engkau Tuhan penguasa semesta alam? Allah berfirman: hamba-Ku, si Fulan, minta minum kepadamu tetapi engkau tidak mau memberinya minum. Ketahuilah, sekiranya engkau memberinya minum, pasti engkau akan menemui balasannya di sisi-Ku. [HR. Muslim]

Apa yang kemudian terlintas di pikiran kita setelah membaca hadits tersebut? Yup, ternyata Allah pun mengajarkan kita untuk menolong-(agama)-Nya dengan hal-hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan. Menjenguk orang sakit, memberi makan orang kelaparan, memberi minum orang yang kehausan bukankah merupakan hal-hal yang sederhana dan mudah untuk kita lakukan? Tapi ini bukan berarti menafikan metode-metode yang lain untuk menolong (agama), seperti menuntut ilmu, zakat, dan sedekah.

Sekarang, mari kita cek tetangga kanan-kiri kita, apakah masih ada yang sakit,  apakah masih ada yang kehausan dan kelaparan?

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.