Bermesraan dengan Masalah

https://images.app.goo.gl/GjnbtfrFAwQ8q9MF6

Bermesraan dengan Masalah

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering diselimuti dengan masalah, entah dalam masalah ekonomi, sosial, maupun mental (psikologis). Banyak cara dalam menyelesaikan masalah. Menurut data dari orang-orang yang saya temui, kebanyakan dengan dua pilhan. Pilihan Pertama, berhadapan. Kedua, memikirkan dan melakukan sesuatu yang lain.

Untuk yang pertama dengan ; berhadapan. Pilihan ini seringkali bahkan tak sadar dipilih untuk bersedia menghadapi sebuah masalah karena merasa mempunyai tekad untuk menghadapinya. Misal, dengan pengetahuan dan cerita dari pengalaman orang yang telah menghadapi masalah itu. Mengapa demikian? Karena mereka merasa mampu menyelesaikannya. Malah kerapkali mereka merasa tertantang untuk menghadapi masalah itu untuk diselesaikan secepatnya, agar tidak membebani hidup mereka. Namun jika sudah terbentur masalah yang sulit dihadapi, mereka akan mengadu kepada Allah dan meminta pertolongan.

Hendaknya menghadapi masalah itu dengan tenang, jangan dengan emosi. Jika dengan emosi malah menambah masalah-masalah lain. Seperti syair lagu dolanan “eh dayohe teka, eh beberna klasa, eh klasane bedah, eh tambalen jaddah, dst…“. Jika tak sanggup, karena sudah mentok dari usaha yang dilakukannya, atau tak mengerti peta penyelesaian masalah. Bisa dengan ikut arus tersebut (mengalir). Sampai mengetahui sumber dari mana masalah itu timbul. Dengan mengetahui sumber masalahnya, barulah bisa memikirkan dan berdiskusi (jika urusan orang banyak) untuk menyelesaikan masalah tersebut.

Masalah-masalah itu juga mendorong kita untuk berbagi pengalaman dengan orang-orang terdekat kita, alias sambat. Kalo saja orang yang kita sambati itu mau menerima dan memberi solusi, oke saja. Jika tidak? Mungkin hanya jadi pendengar kegelisahan saja, seraya berucap, “ya kamu yang sabar aja”.

Mungkin dengan begitu orang akan tersadar bahwa, mereka tidak mampu menyelesaikan masalah tanpa campur tangan Allah. Makanya dia pasrah kepada Allah. Atau bisa disebut tawakkal.

Sebenarnya kita diuji, untuk rela mengakui bahwa kita ini hanya makhluk remeh dan tak berdaya. Sampai Allah memberi ujian kepada kita. Apa yang selama ini kita ketahui (pelajari) bisa kita amalkan untuk menyelesaikan suatu cobaan atau masalah yang menimpa pada kita. Jika kita mampu menyelesaikan dengan hati dan pikiran tenang, dengan mencoba bertafakur, agar terlihat jelas petunjuk-petunjuk Allah, pastilah kita akan merasa lega. Karena atas petunjuk yang Maha Kuasa, bonusnya adalah Allah membukakan hati kita untuk bisa memetik hikmah dari kejadian tersebut. Bukan berarti Allah itu kejam, tapi kita sedang didewasakan.

Tak lazim bagi kita mengatakan “cobaan hidup, permasalahan yang bertumpuk-tumpuk kita biarkan saja, toh sudah ada yang mengurusi”. Saya mengira bahwa hal itu menjadi perilaku tidak bertanggung jawab. Atas sebab yang dia kerjakan, sehingga berbuah akibat untuk orang sekitar. Dan masing-masing dari kita menanggung akibatnya.

Kedua, memikirkan dan melakukan suatu yang lain. Adakalanya suatu masalah diselesaikan tidak dengan berhadapan dengan masalah itu. Tapi dengan berpindah konsentrasi, memikirkan atau melakukan sesuatu yang lain sama sekali. Semakin engkau berkenalan dengan sifat-sifat kehidupan yang hampir tak terbatas keluasannya dan tak terukur kedalamannya, semakin engkau lincah dan kreatif untuk tidak berhenti mengurung diri atau dikurung oleh ruang sempit masalah yang sedang merundungmu.

Dalam khazanah maiyah, Mbah Nun mengajak kita bermesraan dengan masalah-masalah hidup. Namun tidak membuat kita berputus asa. Misal dengan cara kreatif yang dituturkan oleh Mbah Nun. Sehingga kita bisa bermesraan dengan masalah yang kita hadapi.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.