Ngopi Kasih Sayang

https://images.app.goo.gl/SHfX6QbReYdfRZCm9

Ngopi Kasih Sayang

 

Bulan Februari, bulan kedua dari tahun Masehi, ketika tiba pada tanggal 14 Februari., kalangan remaja berwajah berseri-seri. Bak putri kerjaan dilamar calon suami. Patmo merasa heran, kok tidak biasanya pagi ini banyak yang suka makan coklat, beli bunga, pakai parfum, tapi belum mandi. Di dalam benaknya ia membatin, “mereka sedang terjangkit virus malas mandi sregep raup“.

“Tapi biarlah”, sambung Patmo sambil menyusuri jalan menuju warung kopi.

Sesampainya di warung, Patmo bertemu Mbah Slamet. Mbah Slamet adalah pelanggan tetap warung kopi yang jarak rumahnya tidak jauh dari tempat berkumpulnya ahli hisap wal sruput kopi.

“Sugeng enjing mbah,” salam Patmo kepadanya.

“Sugeng nang omah, Le, hahaha… ya, Le!” jawab Mbah Slamet dengan gaya guyonannya.

“Owalah orang tua… orang tua,” geram Patmo sambil meringis. “Mbah Met, tolong aku diceritani, tentang hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari itu, banyak dari kalangan remaja milenial menyebutnya hari valentine. Valentine itu apa, Mbah?”

Sebelum menjawab, Mbah Slamet mengawali dengan nyeruput kopi. “Valentine itu kosakata baru dari kalangan anak-anak remaja, yang maksudnya memperingati hari kasih sayang, Le”

“Lalu, apa yang dilakukan remaja untuk mengisi hari valentine itu Mbah?”

“Anak-anak itu mengisinya dengan memberi hadiah, Le. Berupa coklat, boneka, dan bunga”

“Diberikan ke siapa, Mbah?”

“Diberikan kepada orang yang mereka sayangi”

“Owalah… Ngunu tibake

Merasa belum lega atas jawaban Mbah slamet, Patmo lanjut bertanya soal sejarah hari kasih sayang itu.

“Mbah, gimana ceritanya kok di jadikan hari kasih sayang?”

Dengan memperbaiki posisi duduk di lincak, Mbah Slamet mulai ulasannya, “begini Le, menurut salah satu versi sejarah, valentine pertama kali dirayakan oleh kaum Romawi, antara tanggal 13 sampai 18 Februari. Mereka mengatakan perayaan ini adalah perayaaan Lupercalia, yaitu saat untuk mengerahkan dewa-dewi kesuburan untuk berbahagia. Dan dalam sejarah tercatat peringatan ini dilanjutkan oleh gereja Katolik Roma sebagai hari cinta kasih dan persahabatan. Tapi itu dari kalangan bangsa Romawi, Le”

Patmo tampak khusyu’ menyimak lanjutan penjelasan Mbah Met.

“Padahal jika kita meruntut tarikh Islam, ada momentum dahsyat semacam valentine yaitu yang bernama “Yaumul Marhamah”, hari kasih sayang. Momentum ini bertepatan dengan Fathu Makkah yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai Fathan Mubina. Kemenangan yang nyata, yakni kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah berhasil menaklukan kembali kota Mekkah pada tanggal 10 Ramadhan tahun 8 Hijriyah. Dan jika kita ingin memperingati hari kasih sayang, tanggal 10 Ramadhan lah momennya.”

“Momen apa itu Mbah?”, tanya Patmo sembari mengunyah pisang goreng yang ada di depannya.

“Waktu itu, kaum Quraisy berhasil dikalahkan. Mekkah berhasil ditaklukkan dari tangan kaum Quraisy tanpa pertumpahan darah sedikitpun. Kaum Quraisy, yang pada saat itu sebagai tawanan, merasa sangat ketakutan. Seolah mereka hanya tinggal menunggu dieksekusi pasukan muslimin. Tetapi Rasulullah malah memberikan ampunan massal kepada semua tawanan. Hal luar biasa yang dilakukan Sang Rasul, mungkin mengagetkan sekaligus menyenangkan bagi kaum Quraisy, di kala mereka seperti hanya sejengkal dengan maut.”

Kali ini Mbah Slamet membeberkan dengan mengambil hadits Rasulullah, “Kanjeng Rasul bersabda, ”Inna hadza laisa yaumil malhamah, walakinna hadza yaumul marhamah, wa antumut thulaqa”. Hari ini bukan hari pembantaian, tetapi hari ini adalah hari kasih sayang, dan kalian semua bebas merdeka”

Mbah Met menambahkan, “tidak hanya itu, selain dibebaskan, kaum Quraisy bahkan juga diberikan ghanimah, perhiasan dan unta. Padahal kaum muslimin sendiri tidak dapat bagian apapun, sehingga banyak dari para sahabat yang heran karena Rasulullah tidak memberi bagian harta kepada kaum muslimin yang setia berjuang bersama Rasulullah. Kemenangan dan ghanimah sudah di depan mata, eee mereka malah dilepaskan begitu saja. Dikasih sangu pula”

“Lha para sahabat apa ndak ada yang protes, Mbah?”, potong Patmo.

“Manusiawi lah, sebagian sahabat mempertanyakan itu. Dijawab oleh Rasulullah, ”Sudah berapa lama kalian mengikutiku? Apakah sejauh ini aku tidak mencintai kalian? Mana yang kalian pilih, harta rampasan perang atau memilih cintaku?”

“Lantas bagaimana reaksi sahabat, Mbah?”

“Sontak menangislah para sahabat. Tentu mereka merasa bersalah karena telah membandingkan harta dengan cinta dari Sang Kekasih Allah. Cinta Rasulullah melebihi apa yang ada di dunia dan seisinya. Dan sangat wajar apabila para sahabat menangis, lalu memilih cintanya Kanjeng Nabi. Itulah sifat para shahabat. Coba kalau kita, aku, dan kalian semua, mungkin kita menjawab: “Yaa masak cinta doang Kanjeng Nabi? Mbok ya sama unta satu saja lho, cinta tok ya garing…”

Patmo tak kuasa menahan tawa.

“Kalau diamati, fenomena akhir-akhir ini banyak survey tiap tahun yang dilakukan oleh surat kabar terkenal yang menyebutkan bahwa banyak sekali konteks dan konsep yang dipahami secara salah oleh anak muda dan sebagian besar remaja di Indonesia dan dunia pada umumnya tentang perayaan hari valentine ini. Beberapa kali diadakan survey hasilnya memprihatinkan dan menakutkan,” imbuh Mbah Met dengan agak gemetar. “Kowe aja keblubuk ngono kuwi ya, Le!”

Patmo menunduk meresapi pesan Mbah Met.

“Kalau dikaitkan dengan ajaran agama, khususnya Islam, hal seperti itu adalah hal yang dilarang. Bukan berarti Islam adalah ajaran yang tidak berlinang kasih sayang, justru Islam adalah agama yang menjadikan rasa cinta sebagai pilar pembangun ukhuwah bagi pemeluk-pemeluknya. Islam dengan tegas dan mengatur hukum bagaimana memilih cinta secara hakiki,” terang Mbah Met.

“Jadi, apakah setiap tanggal 14 Februari pantas untuk kita dengungkan sebagai hari yang spesial, Mbah?” tanya Patmo.

“Ya betul, hari spesial, hari ekstra waspada, Le. Waspada kepada pergaulan anak-anak remaja saat ini, karena tanggal 14 Februari adalah hari yang mengkhawatirkan, sebab telah terjadi banyak mudharat di jaman ini. Awak dhewe iki wong Islam, panutannya ialah Kanjeng Nabi Muhammad. Jadi perlu awakmu sinau tentang tarikh Nabi Muhammad”.

Inggih, Mbah,” jawab Patmo sambil manthuk-manthuk.

Wis ya, Le. Mbah arep sholat dhuha. Iki kopi awakmu sing bayar ya. Kowe sayang Karo Mbah met ora?”

“Owalah… Orang tua.. orang tua,” timpal Patmo sambil meringis kedua kalinya.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.