FILOSOFI ABDAN ABDIYYA

https://images.app.goo.gl/vnpEpKByjSB9KQGKA

FILOSOFI ABDAN ABDIYYA

Suatu hari, ketika Rasulullah SAW berbincang bersama Jibril, datanglah Isrofil dan berkata, “Sesungguhnya Allah mendengar apa yang engkau katakan, maka DIa mengutusku dengan membawa kunci harta simpanan bumi dan Dia juga memerintahkanku untuk memperlihatkan kepadamu bahwa zamrud, yaqut, emas dan perak gunung Mekah dapat berjalan bersamamu. Lalu apakah engkau ingin menjadi seorang nabi dan raja atau nabi dan hamba?”

Kemudian Jibril memberi isyarat kepada Rasulullah SAW agar beliau merendahkan diri. Rasulullah pun menjawab, “Aku memilih menjadi seorang nabi yang hamba.” Demikian sekelumit kisah ketawadlu’an kekasih kita, penutup sekaligus penghulu nabi dan rosul yang diriwayatkan oleh At-Thabrani dan Al-Baihaqi dari sahabat Ibnu Abbas.

Dalam hidup kita tentu memiliki hal-hal prinsipil atau nilai-nilai yang kita pegang, yang menjadi dasar dalam laku kehidupan kita. Ketika kebanyakan manusia ingin dilayani, ketika kebanyakan manusia tidak mau repot dan menginginkan segala kemudahan untuk dirinya, Mbah Nun menawarkan konsep hidup – yang kemudian kita kenal dengan istilah – Abdan Abdiyya. Kalau nabi, yang merupakan uswah hasanah kita, memilih menjadi hamba, maka sebagai umatnya kita pun sudah sepatutnya – bahkan keharusan – untuk meniti jalan sebagai seorang hamba (abdan).

Abdan Abdiyya kalau kita terjemahkan secara kebahasaan adalah hamba yang mengabdi (melayani). Namun di balik konsep tersebut ada semangat totalitas mengejewantahkan pengabdian kepada Allah dengan cara melayani “semua” ciptaanNya yang lain. Tidak hanya kepada manusia, bahkan kepada “saudara-saudara” tua kita, jin, tumbuhan dan hewan. Setidaknya apabila kita tidak memiliki kemampuan untuk mendatangkan manfaat buat mereka, ya janganlah kita mendatangkan kemudharatan buat mereka. Demikian seringkali Mbah Nun berpesan kepada kita, anak cucunya.

Posisi hamba (abdan) berlawanan secara diametral dengan posisi raja (mulkan). Semangat raja biasanya adalah meminta dilayani, sementara hamba adalah melayani. Dalam hal ini banyak kesaksian bagaimana sosok Mbah Nun benar-benar menerapkan filosofi abdan abdiyya. Ketika akhir sinau bareng misalnya, ribuan jamaah mengantri bersalaman satu persatu dilayani. Tidak hanya bersalaman, terkadang ada yang meminta “air doa”, ada yang minta dipeluk, ada yang minta dikucel-kucel rambutnya, semua permintaan akan dilayani Mbah Nun, bukan bermaksud apa-apa melainkan sekedar untuk tidak mengecewakan anak cucunya, dan tentunya pula karena semangat melayani sebagai ejawantah filosofi abdan abdiyya.

***

Menjadi seorang dengan filosofi abdan abdiyya tidak akan berhasil manakala tidak memiliki sifat kasih sayang. Sifat kasih sayang dengan kesadaran mencontoh Sang Maha Rahman dan Rahim. Karena dari rasa kasih dan sayang itulah laku pengabdian bisa dijalani dengan ikhlas dan penuh kesungguhan. “Irham man fil ardhi, yarhamka man fis-samaa’.” Sayangilah yang di bumi, nisacaya yang di langit akan menyayangimu.

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik