PUTRA DESA TELAH KEMBALI

https://images.app.goo.gl/yh3bJUJJcabTvi8S7

PUTRA DESA TELAH KEMBALI

Muda-mudi di Desa Kenanga mulai ramai memperbincangkan kedatangannya. Setelah empat tahun ia mengembara di tiga kota dipesisir utara Jawa, kini ia kembali ke kampung halamannya, Desa Kenanga, di sebuah kabupaten yang tak punya kebun tembakau tapi berdiri pabrik rokok besar.

Yoga, biasa ibunya memanggil sedari ia kecil, adalah pemuda yang mempunyai mimpi mulia. Sebelum melangkah pergi meninggalkan desa empat tahun lalu, Yoga menerima wejangandari Simbahnya, di atas sofa bekas mobil kursi mobil Carry, di teras rumahnya. Ia rawat betul wejangan itu selama ia tinggal di kota. Ia simpan menjadi mimpi mulia.

Setiap hari, ia tak lepas dari kopi dan rokok. Serta guyonannya yang tampil sebagai bumbu komunikasi yang mantap.Tertawanya mengembang bak penonton yang dihibur oleh pelawak senior kota budaya. Ia yang besar di daerah mataraman, gaya bicaranya sedap dengan logat yang khas.

Tak jauh dari persoalan masjid dan kuburan. Tema yang dipilihnya sangat memantik iman.

Aku pernah disuatu kesempatan berkunjung ke Desa Kenanga.Sebelumnya aku singgah di Desa Pandan Wangi.Yoga yang sedang dihinggapi kangen, merekahkan senyum melihat kedatanganku, sembari menghembuskan asap rokok yang dibeli dengan uang kertas lungset dua ribuan

“Silakan duduk,joh,” sambutnya. Kami memang terbiasa saling memanggil dengan sebutah “joh”.

“Siap!” jawabku.

Kowe kopi apa banyu putih?”

Teh wae, tapi tambahana kopi.

“Bento…!!”

Dan terjadi saling sahut gelak tawa antara aku dengan Yoga.

Aku mampir di rumahnya jam sepuluh malam, ketika sebagian penduduk Desa Kenanga sudah larut menikmati malam.

Kowe nginep apa langsung balik?” tanya Yoga.

Nginep,joh,” jawabku sambil menaruh tas selempang.

Njaluk turu mushala apa turu omah?”

Turu mushala.”

“Oke, mengko awakdhewe ziaroh sek!” ia mengajak dengan nada mantap.

“Okelah.”

Setelah ngobrol diruang tamu, dan tak sadar sudah empat batang rokok telah aku hisap, kami berangkat dengan bermodalkan sarung, karena terasa hawa dingin sudah menyeringai di kulit ari.

Entah apa yang Yoga pikirkan, ia sering mengunjungi makam umum di desanya. Pernah aku mendapati jawaban darinya, bahwa ia menemukan ketenangan ketika sanggup duduk bersila di maqbarah orang alim.

“Aku sudah mencari data dari orang tua di Desa Kenanga. Tentang orang yang berjuang dalam kemaslahatan desa. Aku juga diberi data nasab orang alim di desa ini.” Yoga menceritakan kepadaku.”Ketika suatu kegelisahan datang di benakku. Aku selalu menepi, aku bersila di tempat ini. Pesarean ini aku jadikan wasilah untuk memantapkan imanku dan rasa cintaku kepada Kanjeng Rasul.”

Aku selalu menikmati tiap penuturanya.

“Kadang Pak Tari juga hadir disini, setelah seharian mencari rumput untuk makan kambingnya. Meskipun hanya sekedar menyapa dan meminta rokok. Kadang juga bercerita panjang lebar tentang pengalaman menanam,merawat,dan memanen hasil kebunnya.”

Suasana tenang memang selalu dicari setiap insan. Dimana pun tempatnya, Yoga selalu mencari makam orang alim. Ketika tinggal mengembara di tiga kota pesisir utara pulau Jawa, ia selalu menyempatkan diri untuk berkunjung dan hormat kepada orang alim. Ke-tawadhu’an-nya menjadi hobi dalam bersikap. Barokah orang alim menjadi energinya, untuk selalu terus dan terus mampu menjalaninya.

Kini ia telah kembali ke kampung halamannya, Desa Kenanga, mengukir mimpi mulia.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.