TAKBIR YANG MENGECILKAN

https://images.app.goo.gl/JynephTQHX2X9gAS9

TAKBIR YANG MENGECILKAN

Sebagai muslim, kita tentu teramat fasih mengucapkan kalimat takbir. Dalam setiap rokaat solat, kita mengucapkan lima kali kalimat “Allahu Akbar”. Allah Maha (lebih) Besar. Kalaupun sholat kita masih bolong-bolong, niscaya kita tidak akan absen ikut takbiran pada saat hari raya, baik idul fitri maupun idul adha.

Kalimat yang biasa kita ucapkan, terkadang kita terlupa untuk merenungkan esensinya. Karena ia sudah diajarkandan dibiasakan semenjak kecil, kalimat ini seringkali berhenti pada ucapan di mulut saja.

Allah Maha (lebih) Besar. Apanya yang besar? Apakah ukurannya? Tentu saja tidak demikian. Karena Allah bukanlah entitas yang dapat diukur dalam dimensi ruang dan waktu. Karena yang dapat diukur dalam dimensi ruang dan waktu adalah makhluk. Dan sungguh Allah berbeda dari makhluk-Nya. Lantas, apa yang kita besarkan dari kalimat tersebut?

Takbir, karena ia – dalam bahasa arab – merupakan kata kerja transitif, membutuhkan objek, niscaya membutuhkan sesuatu yang dibesarkan di luar pengucapnya. Dalam hal ini “objek” takbir adalah Allah. Karena ketika kita mengucapkan takbir hakikatnya kita “membesarkan” Allah. Bukan membesarkan diri kita sendiri atau kelompoknya. Kalau membesarkan diri sendiri itu artinya takabur, bukan takbir.

Takbir memiliki konsekuensi mengecilkan yang selain Allah. Harta, tahta, wanita, kelompok, ormas, atau parpol yang seringkali berkelindan kepeningan dalam benak kita semuanya tidak berarti. Bahkan segala kepentingan diri kita baik dunia maupun akhirat tidak ada yang lebih penting dari Allah itu sendiri.

Pekik takbir memang bisa menggelorakan semangat. Ia bahkan menjadi katalis adrenalin agar menggelegar semangat di medan juang. Namun kalau kemudian kita melihat realitas yang ada saat ini, takbir seakan begitu mudahnya diteriakan untuk mengecilkan, menyepelekan keberadaan kelompoklain, yang notabene adalah saudara seimannya. Bisa jadi malah – mudah-mudahan tidak – pekik takbir malah memicu rasa takabur.

Maka kemudian muncullah plesetan-plesetan kalimat takbir sebagai bentuk ketidaksetujuan atau bentuk kritik. Meski secara pribadi saya tidak pernah bersepakat dengan plesetan kata takbir dengan apapun karena ia adalah kalimat suci.

Allah al-Kabir, Allah lah Yang Maha Besar. Sebagian ulama mengaitkan sifat ini dengan keagungan dan kekuasaanNya. Hujjatul Islam mengaitkan kebesaranNya adalah kesempurnaan Dzat, kesempurnaan wujudNya.

Bahkan sejatinya semua wujud selainNya adalah fana semata sehingga tiadalah patut selainNya untuk memiliki sifat sombong. Karena sifat sombong adalah selimut kebesaran Allah dan hanya Dialah yang pantas untuk menyandangnya. Sekedar mengingatkan kembali sabda nabi, tiadalah berhak masuk surga yang di dalam hatinya terdapat seberat dzarroh dari rasa sombong.

Sekali lagi, mari kita merenenungkan ucapan takbir kita. Apakah ia sudah membesarkan Allah sebagaimana mestinya dan bersamaan pula mengecilkan selainNya?

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik.