Di Suatu Kesempatan

https://images.app.goo.gl/HwcH7zc3BBhxco9a8

Di Suatu Kesempatan

Bejon yang sedari kecil hanya mengenyam sekolah umum, nekad ingin masuk ke pesantren dengan cara nebeng Patmo, teman lamanya waktu masih menjadi pelajar sekolah, yang sekian tahun terakhir menjadi santri. Ia tak begitu tahu seluk-beluk dan latar belakang Patmo, namun tiap kali berjumpa, dunia tampak lucu dan selalu sedang tersenyum.

Niat yang tergolong nekad itu bermula ketika mereka dipertemukan di suatu pekerjaan. Mereka ingin memperbaiki diri, belajar dan memperluas wawasan, lebih-lebih bisa mengamalkan.

Bejon sontak merasa heran tatkala mendapati Patmo, yang ia tahu sukanya hanya nonton konser musik, tiba-tiba memasang status WA tentang dhawuh  Gus Dur :

Ajaran- ajaran Islam akan terus-menerus mengalami pembaharuan sesuai dengan aspirasi yang terus berkembang di kalangan masyarakat yang memeluknya.”

“Eh tumben, posting quote Gus Dur,” komentar Bejon.

“Hehehehe,” balasPatmo singkat, tanpa penjelasan.

“Kamu pernah ngajita? Ngaji dimana?” tanya Bejon.

“Pernah, lagi wae aku ngaji di Ponpes Darul Falah komplek HA, Krian.”

“Hari apa dan jam berapa?”

“Terserah Jon. Bisa pagi, sore, dan malam, sebab jadwal kerjaku juga shift-shift-an.”

“Oh jadi sangat fleksibel, ya?”

“Iya Jon. Ayo ngaji,  Jon!”

Dan berlangsunglah chattingan itu hingga larut malam, dan mereka bersepakat besok berangkat ngaji bersama jam sembilan malam, usai Bejon kuliah.

“Tolong tanyakan Udin, Abah Yai sampun dhangannapa dereng. Bebeberapa hari terakhir beliau kurang sehat”, pinta Patmo.

Udin yang adalah teman sekelas Bejon di kampus, yang telah lama nyantri di Darul Falah. Patmo menganggap Udin adalah seniornya, yang layak dijadikan panutan.

Mendapati kabar Abah Yai telah pulih kesehatannya, mereka bertiga bertemu di musholla kampus, sebelum beranjak menuju Krian bersama-sama. Bejon dan Patmo hanya bermodal peci dan membawa Al Qur’an serta alat tulis, sesuai arahan Udin.

Mereka tiba di pondok setengah jam kemudian. Udin lekas ganti busana, yang semula necis macam mahasiswa kampus, berubah menjadi santri tulen yang hanya pakai sarung, kemeja polos dan peci. Bejon terdiam seketika, dan bertanya, “Emang wajib ta Din, kita ganti celana dengan sarung?”

“Iya nggak wajib sih, agar lebih sopan saja di hadapan seorang guru. Kita disini belajar untuk memperbaiki diri dan menjaga tradisi pesantren, ” tutur Udin.

Bejon dan Patmo menganggukkan kepala bersamaan, tanda paham.

Bejon merasa tidak mengerti adab di pesantren. Ia hanya nekat datang untuk mengaji dan mengasah bacaan tartil Al Qur’an. Lebih dari itu,Bejon tertarik belajar menulis pegon, dan belajar membaca kitab gandhul sampai kitab gundhul. Dulu ketika di TPQ, Bejon belajar ngajihanya lewat baca Iqro’ sampai Al Qur’an. Itupun tidak khatam. Setelah ia tahu dari Patmo bahwa di Darul Falah ada pembelajaran nulis pegon, baca kitab gandhul dan gundhul, maka ia pun makin bersemangat.

Jam dinding di ndalem Abah Yai menunjuk angka sepuluh, ketika putri beliau mengetahui dari celah gorden jendela, tiga pemuda itumondar-mandir di serambi. Selang beberapa menit, Abah Yai membuka pintu.Dengan santun Udin mengucap salam penuh ta’dzim, sambil melangkahkan kaki dengan badan agak membungkuk, dan menyorongkan kepalanya untuk mencium punggung tangan Abah Yai, sebelum berjalan mundur pelan-pelan, dengan badan tetap agak membungkuk.

Bejon dan Patmo melakukan hal serupa, tak lebih tak kurang. “Apa yang dilakukan Udin, harus aku ikuti,” benak Bejon.

Mereka bertiga lantas bergegas masuk ke kelas. Sambil menunggu Abah Yai yang sedang mempersiapkan diri untuk pengajian malam itu.

“Nanti ketika Abah Yai tiba di depan pintu kelas, tepat sebelum beliau masuk, kalian semua harus ikut berdiri menyambut. Jangan duduk saja, itu su’ul adab. Mengerti?” Udin mengingatkan.

“Mengerti..!!”, sahut Bejon dan Patmo mantap.

Malam itu adalah malam pertama Bejon berhadapan dengan seorang kiai. Dengan khusyu’ ia menyimak apa saja yang Abah Yai dhawuh-kan, dan tak sedikitpun ada kalimat yang luput dari konsentrasinya.

Tiba-tiba terdengar suara “bruuukkkk”

Bejon dan Udin menoleh ke belakang, mencari dari mana bunyi itu berasal. Rasa-rasanya sumber suara itu tak jauh dari mereka berdua. Rupanya Patmo barusan ambruk, tak kuasa ia menahan kantuk.

Berjalan hampir dua jam pengajian malam itu dengan Abah Yai, hingga malam mulai larut. Udin, Bejon dan Patmo, bersepakat untuk  berlanjut di hari berikutnya.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.