ILMU MENCACI – MENCACI ILMU

https://images.app.goo.gl/fBFfZQ4jv7ysgxFH7

ILMU MENCACI – MENCACI ILMU

Selain manfaatnya yang banyak, kemajuan teknologi informasi menjadikan kita dengan mudahnya saling sengkarut satu sama lain. Bahkan dengan orang yang tidak dikenal sekalipun.

Kadangkala, ketika tidak tahu duduk persoalan yang sebenarnya pun, tidak menjadikan kita untuk tidak ikut nimbrung dan berbalas cacian. Hanya mungkin karena perbedaan afiliasi, bahkan perbedaan pilihan politik pun jamak menjadi alasan kita untuk saling mencaci.

Dalam banyak kasus – yang tampak dalam media sosial kita belakangan ini – ilmu yang dimiliki banyak digunakan sebagai senjata untuk menjatuhkan orang di luar kelompoknya, atau yang berbeda pandangan. Meski kita pun bisa menjumpai orang yang benar-benar semangat berbagi ilmu, tanpa bermaksud menjatuhkan.

Memang benarlah kata Alquran, “Kullu hizbin bima ladaihim farihun”. Setiap kelompok akan berbangga dengan kelompoknya masing-masing. Sehingga ini yang kemudian sering menjadi basis, alasan untuk mencaci orang atau kelompok di luar afiliasinya.

Kalau dulu, orang saling mencaci itu bertemu muka, sedangkan kemajuan teknologi menjadikannya lebih absurd. Seorang yang tidak pernah bertemu, bahkan tidak kenal bisa saling caci dengan hebatnya. Bahkan dengan persoalan yang seringkali tidak ada hubungannya dengan mereka. Aneh bukan?

Bisalah dikatakan, teknologi informasi kini menjadikan ilmu mencaci kita ke arah next level. Mungkin berikutnya kita bisa saling mencaci dengan teknologi virtual reality sehingga bisa lebih mengena dibandingkan dengan hanya berperang kata melalui media sosial.

Suatu ketika seorang Syaikh – saya lupa namanya, kalau tidak salah Yahya bin Uyain – di hadapan murid-muridnya, tiba-tiba dicaci maki oleh orang yang tidak dikenalnya. Apa yang terjadi, beliau hanya diam saja.

Karena caci maki yang sedemikian hebatnya, malah murid-muridnya yang tidak tahan untuk membalasnya. Namun Sang Syaikh tetap dengan ketenangannya, tidak berniat untuk membalas sama sekali. Sehingga para muridnya pun bertanya kepada Sang Syaikh, “Wahai Syaikh, tidakkah engkau hendak membalas penghinaan, cacian, yang diarahkan kepadamu?”

“Kalau aku membalas caciannya, terus apa gunanya aku menuntut ilmu?” jawab Sang Syaikh.

Adab. Itu yang kemudian tampak hilang akhir-akhir ini. Khususnya di lini media sosial kita. Padahal banyak ulama sangat mementingkan adab. Adab sebelum memiliki ilmu. Adab dalam menuntut ilmu. Dan adab ketika “sudah memilki” ilmu. Apa gunanya ilmu kita kalau kemudian tidak menjadikan kita menjadi manusia manusia yang lebih beradab?

Kalau kemudian kita ingat, bukankah risalah kenabian adalah tujuannya untuk menjadikan adab (akhlak) sebagai panduan utama? “innama bu’itstu liutammima makarimal akhlak”.

Ada tiga tahapan dalam menuntut ilmu – yang dinisbahkan kepada Khalifah kedua – Umar Bin Khattab : “Ilmu ada tiga tahapan. Jika seorang memasuki tahapan pertama, ia akan sombong. Jika ia memasuki tahapan kedua, ia akan tawadhu’. Dan jika ia memasuki tahapan ketiga ia akan merasa dirinya tidak ada apa-apanya.”

Kalau kemudian kita proyeksikan dalam kebisingan dunia maya saat ini, apa yang bisa kita petik? Di manakah saat ini posisi kita sebagai penuntut ilmu? Pantaskah kita larut dalam hiruk-pikuk caci maki media sosial, yang kata Simbah, merupakan ekspresi ketidakberanian?

Bukankah dengan ikut-ikutan larut dalam caci maki, sumpah serapah, sejatinya kita malah mencaci ilmu yang kita miliki? Jika demikian, patutkah kita berharap keberkahan dari ilmu? Coba kita merenung kembali.

Jamaluddin Rosyidi
Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik