TERUS BERJALAN

https://images.app.goo.gl/4mTGmdgBckXvE6NL8

TERUS BERJALAN

Di tempat setinggi apapun, dan serendah apapun, baik keras maupun gembur, kasar maupun halus, makhluk hidup sebesar dan sekecil apapun tetap ada. Mayoritas mereka adalah berkoloni. Lalu menjadi suatu peradaban hingga melanjutkan hidup dari generasi ke generasi.

Seperti yang kutemui di lantai 55 rooftop suatu apartemen. Seorang pekerja gondola, sedang asyik ngasih sambil ngopi bersama timnya. Sedikit dari kopinya itu tumpah dan bercecer di lantai. Tak lama kemudian, mungkin 10-20 menit barisan semut merah berpantat hitam berjajar rapi menuju tumpahan kopi. Salah seorang pekerja itu bergumam, “Kok bisa ada semut di lokasi yang penuh dengan lapisan beton dan cor-coran ini? Dari mana kira-kira semut tersebut?”

Penasaran di benaknya mendorong pekerja itu menganalisa asal-usul semut itu muncul. Didapatinya segaris retakan beton di tembok. Terlihat semut keluar-masuk melalui garis retakan itu. Kemungkinan di dalam beton cor itu masih ada tanah yang bisa digunakan untuk berkembangbiak, mungkin tidak banyak, namun cukup untuk bertahan dan beranak pinak.

Tapi, di manapun tempatnya, semut selalu hadir tiap kali ada makanan yang tercecer. Meskipun di tempat yang diakui kebersihannya.

Bila tidak ada tumpahan kopi, atau serpihan makanan berbau manis yang berceceran di lantai, apakah semut masih bisa bertahan hidup di tengah kerasnya beton yang ada di lingkungannya itu? Ataukah dia akan pergi mencari sumber penghidupan mereka hingga sampai menemukan makanan yang bisa dimakan? Ataukah semut doyan dengan makanan yang tidak beraroma manis? Atau mereka betah tirakat berhari-hari sampai menemukan makanan?

Ternyata hidup semut tidak berhenti di situ, mereka masih terus mencari-cari sumber kehidupan mereka meski terhimpit oleh lapisan beton. Dengan kata lain, untuk mendapat makanan. Agar populasi semut terus terjaga.

Pernah kujumpai ada semut yang terdiam. Mungkin saja kakinya terkilir atau tidak kuat lagi berjalan. Sehingga semut yang lain berinisiatif menggotong semut yang terdiam itu kembali ke sarangnya. Dan bergegas kembali untuk mencari makanan.

Melihat peristiwa itu, Allah menyapaku lewat semut yang menyapa dengan gigitan kecilnya di kulitku. Kujadikan sebagai pelajaran pribadi dan sebagai ladang untuk mengucap syukur.

Hadirnya batas membuat makhluk hidup lebih kreatif dan mampu menjebol tembok-tembok yang mengurung mereka. Hadirnya tembok itu membuat kita fokus dengan siapa yang harus kita hadapi. Dengan ketekunan dan bekerja sama sehingga mampu menerobosnya tanpa harus merusak lingkungan sekitar.

Hidup gotong-royong yang sudah dijalani semut sebagai tamparan halus bagi yang melihat dan mau berpikir. Setiap bertemu sesama semut lain, mereka menyapa, bersalaman, berpelukan. Mungkin juga mengajak ngobrol. Dan mereka saling mengamankan satu sama lain.

Jika makanan yang didapatinya terlalu besar, maka gerombolan semut itu datang untuk menggotong dan dibawa ke sarang semut. Kalo tidak mampu menggotong atau mendapati makanan yang sifatnya cair maka semut-semut itu bancakan untuk makan di tempat.

Semut sebagai lambang gotong-royong: menjaga, merawat, dan melestarikan. Mereka terus berjalan. Mondar-mandir tanpa henti meskipun beton-beton itu kian hari makin bertambah.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.