“MENGIMANI” ILMU

https://images.app.goo.gl/wegiX8E7vKScCSjZ7

“MENGIMANI” ILMU

Kalau kita cermati, wabah corona saat ini telah menimbulkan kekhawatiran yang cukup massif. Sebenarnya wajar ketakutan muncul mengingat bukti empirik berdasarkan sains (ilmu) yang sudah tampak. Namun sebaliknya, tetap saja ada yang dengan mengatasnamakan iman, bahwa ketakutan harusnya hanyalah kepada Sang Pencipta, kemudian mengabaikan saran-saran yang dikemukakan oleh ahli tentang pencegahan-pencegahan semakin menyebarnya wabah ini. Seolah iman dan ilmu berada pada kutub yang berlawanan.

“Takutlah kepada Allah. Jangan takut kepada Corona.” Demikian pernyatan sebagian pihak. Sebuah pernyataan yang seolah benar, namun menyiratkan konsep fatalistik. Di mana manusia tidak punya daya upaya. Kita mengenalnya dengan aliran teologi Jabariyah. Perkataan tersebut sejatinya benar, namun dimaksudkannya salah. Kalimatul haq uridu biha albathil.

Dalam konteks wabah corona ini, berdasarkan ilmu dan praktik yang sudah dilakukan – tentu saja berdasarkan ilmu, salah satu saran untuk mencegah semakin merebaknya wabah adalah dengan melakukan social distancing. Bahkan beberapa kota dan negara melakukan lock down. Oleh karenanya kemudian banyak ulama berfatwa – termasuk Darul Ifta Mesir, dan juga MUI – tentang bolehnya meninggalkan sholat jamaah di masjid termasuk sholat jumat ketika wabah sudah merebak.

Nah, fatwa MUI dan lembaga-lembaga fatwa yang memberikan rukhsoh (keringanan), untuk tidak sholat berjamaah, maupun meniadakan sholat jumat inilah yang menjadi sasaran tembak sebagian kelompok yang merasa lebih islami. Padahal kalau kita renungkan, siapakah yang lebih memahami alquran dan hadits selain ulama?

Tidak hanya berdasarkan alquran dan sunnah, fatwa tersebut, saya yakin juga sudah termasuk mempertimbangkan ilmu – sains – yang terkait dengan wabah yang terjadi, dalam koridor mencegah bencana lebih diutamakan daripada mengambil manfaat. Dar’ul mafasid awla min jalbil al masholih.

Kalau kemudian saya bisa ambil kesimpulan pribadi – yang bisa jadi anda tidak setuju – sejatinya apa yang dilakukan ulama-ulama kita, dalam mempertimbangkan ilmu (sains) dalam konsideran fatwanya adalah praktik “mengimani” ilmu. Sebentar, jangan berpikiran terlalu jauh. Mengimani ilmu yang saya maksud bukanlah kemudian menambahkan item rukun iman kita menjadi tujuh. Rukun iman kita tetap enam, Bro.

Mengimani ilmu adalah mempercayai ilmu pengetahuan. Meski ia adalah produk akal manusia, namun bukankah tentu atas perkenan Allah. Bukankah kemudian kita juga ingat bahwa Allah akan meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu? Keduanya selaras bukan? Kenapa harus dipertentangkan?

Memang kemudian, sains terkadang menjadikan seseorang takabur sehingga menafikan peran Allah. Dan inilah yang dalam Tajuk, Mbah Nun yang merespon corona menjadi salah satu titik kritik beliau, karena seolah-olah kita mengabaikan upaya-upaya “langit” dalam memyelesaikan masalah wabah ini.

Maka di sinilah bedanya orang beriman dan tidak. Iman menjadikan sains tetap sebagai kemungkinan-kemungkinan saja. Karena qudroh dan irodah Allah lah penentunya. Namun iman tidak menafikan keberadaan ilmu (sains). Karena sains sejatinya berkembang berdasarkan evidence based. Sains bekerja dalam hukum kausalitas yang tentunya tidak melanggar sunnatullah bukan? Maka “mengimani” sains hakikatnya adalah mempercayai Allah telah menetapkan serangkaian perangkat sunnatullah yang berlaku dalam semesta ciptaanNya.

 

Jamaluddin Rosyidi

Pegiat Simpul Maiyah Bontang, berasal dari Panceng Gresik