Gelap Sama

https://images.app.goo.gl/KZQJt2nUFgHE6No2A

Gelap Sama

Setelah selesai shalat, niatnya tak bisa terbendung untuk melanjutkan perjalanan dan merasakan tajam panasnya kerikil bebatuan. Berbekal kemantapan iman dan semangat yang meluap-luap, dengan kokoh ia melakukan pengembaraan.

Sakir namanya. Dengan keyakinan penuh, bermodalkan kondisi jiwa dan raga yang masih on power, ia telah merasakan keintiman berhubungan dengan Allah. Sebut saja dengan istilah makrifat.

Bismillahi Tawakkaltu ‘ala Allah“. Kalimat tersebut murni berakar dari kalbu, tumbuh melalui persendian, mengalir lewat aliran darah, berkembang menjadi ranting-ranting urat syaraf, membentuk serbuk madu yang terucap menjadi suara lewat mulut, dan kemudian berbuah lelaku yang mengiringi di setiap langkah keluar dari pintu rumahnya.

Tak jauh dari rumahnya, terdapat rel kereta api yang terbentang memanjang. Pijakan pertama dimulai, kaki mulai diayunkan, selangkah demi selangkah, setapak demi setapak, Sakir berjalan menyusuri rel kereta api tersebut. Berpondasi tubuh yang senantiasa melakukan dzikir, baik secara sirri maupun dzohir, ia berkeyakinan bahwa, semua yang dijalani sesuai dengan kehendak Rabbi. Di sisi lain, Sakir tidak terlalu mempedulikan betul jadwal kereta api tersebut; kapan, darimana menuju kemana, pukul berapa, dan berapa kereta api yang akan melintas. Bahkan, Sakir berpasrah total dengan sengaja tidak membawa dan meninggalkan arloji ataupun gawai, untuk menguji keimanan dan ketawakkalannya.

Di tengah keasyikannya menikmati dzikir yang masih sedang berlangsung dan menerjang panas tajamnya kerikil bebatuan di sekitaran rel kereta api tersebut, tiba-tiba tampak kereta api dari arah kejauhan yang perlahan mulai mendekat ke arah Sakir. Dengan gagahnya, kereta tersebut melaju bagaikan peluru, seakan siap menghantam apa saja yang ada di depannya, meski setebal tembok Cina, niscaya akan dilibas tanpa ampun. Sakir tersentak, dzikir yang sedari tadi dilantunkan buyar dengan seketika. Urat menegang, otak bekerja kian cepat, hormon adrenalin melonjak, syaraf pun mulai berontak, mulutnya gagap tak bisa berucap, hatinya gemetaran, dan keyakinannya mulai pudar secara perlahan.

Kereta api semakin mendekati Sakir. Dalam jarak 10 meter dari kereta, kakinya mulai goyah, diikuti dengan imannya, serta gejolak pikiran yang menakutan akan kematian yang tak bisa dielak. Dalam hati ia bergumam, “Apakah ini juga bagian dari kehendak Allah? Aku bisa saja lari, tapi bukankah kematian adalah bodyguard yang paling setia mengamati dan juga tak mungkin tertukar…” Tiba-tiba, datanglah pikiran yang tak diundang. Tanpa basa-basi, pikiran tersebut menantang dengan penuh keberanian pemikiran sebelumnya, “Ini juga adalah kesempatan bagiku untuk berikhtiar menyelamatkan hidupku. Bahwa, aku diciptakan untuk menjadi khalifah. Setidaknya harus bisa mengkhalifahi diriku sendiri…”

Kereta bertambah dekat. Berjarak hanya sekitar lima meter dari hadapan Sakir. Degup jantungnya bergemuruh, otot tangan melemas, pikiran dalam otaknya kosong, dan sepatah kata pun tak ada arahnya. Gelap, hilang, dan terbungkam dengan seketika. Suara klakson kereta api berbunyi secara bertubi-tubi. Sakir mendengar dengan jelas suara tersebut. Fisik kereta sudah terlihat nyata olehnya. Ia tak berdaya. Segala daya reaksi hilang seketika.

Kereta Api telah berjarak tiga meter di depan mata. Situasi dan kondisi tiba-tiba berubah. “Jancok”, satu kata yang disertai dengan tendangan keras ke arah Sakir hingga membuatnya terpental ke sisi kanan rel Kereta Api. Datang tak terduga, Sakir pun terjungkal dan terguling di rerumputan. Sedikit lecet dan luka pada bagian siku juga lututnya, sakit pasti dirasa, namun perlahan akan hilang juga. Kereta api pun masih tetap berjalan dengan semestinya. Melewati jalur perlintasan sembari melambaikan tangan kepada Sakir yang terbengong sebab kejadian yang dialami olehnya.

Nanang Timur

JM Damar Kedhaton tinggal di Kedanyang, Gresik