“Kun Covid-19! Fayakun”

“Kun Covid-19! Fayakun”

Mohammad Shofie

Dunia tiba-tiba terbangun dari mimpi panjangnya setelah 75 tahun ‘tertidur’ pulas sejak Perang Dunia II. Ia terbangun sambil terkaget-kaget dan kebingungan, bukan karena rumahnya ditubruk meteor raksasa, kebanjiran air bah atau kemasukan asap dari hutan gambut yang dibakar, juga bukan karena ke-197 penghuninya sedang baku hantam dan saling lempar rudal nuklir. Jauh dari perkiraan, dunia dibangunkan oleh sebuah entitas ‘ghaib’: VIRUS. Secara teknis, mayoritas ahli mikrobiologi dan biologi molekuler sepakat untuk mengkategorikan virus lebih sebagai benda mati ketimbang makhluk hidup karena, selain tidak punya mesin metabolisme sendiri (metabolically inert), virus juga bisa dikristalkan. Virus bisa (akan menjadi) ‘hidup’ dan berkembang biak hanya jika berada dalam sel inangnya (host)―ia mendapat ‘pinjaman hidup’ dari sel inangnya. Maka, kita lalu dipersilahkan oleh Tuhan untuk menemukan sendiri logika dibalik pandemi Covid-19: Bagaimana mungkin sesuatu berukuran skala nanometer (1 nm = sepersejuta milimeter), yang jaaauh lebih kecil dari serbuk tepung paling halus, dengan struktur amat-sangat sederhana tanpa dilengkapi self-metabolism system, ternyata sanggup melumpuhkan ratusan ribu manusia bertubuh besar―dengan bobot triliunan kali lipat lebih berat―sekaligus menimbulkan ‘terror’ intens di seluruh negara dunia hingga mengakibatkan perekonomian global porak-poranda ??!!

Bangunan peradaban modern yang batu pondasinya adalah world view materialistis-reduksionis kronis dengan hiasan bangunan berupa berhala-berhala raksasa bergelar “At-Takabbur”, “At-Tamak”, “Al-Munafiq”, dan “Az-Zalim”―yang sesajen dan dupa-dupanya dibuatkan dari daging dan darah hedonisme serta konsumerisme akut ala Qorunian―kini telah tiba di masa puncak komplikasinya yang tidak saja telah melemahkan, tetapi juga sangat mungkin sedang menghancurkan sistem  imunitasnya sendiri dari dalam. Tak usah kaget kalau ternyata besok-besok akan lebih sering terjadi wabah dan bencana. Di tengah-tengah kemegahan globalisasi yang di dalamnya informasi dipertukarkan dalam kecepatan super, pekerjaan dilakukan oleh tangan-tangan mesin, analisis-analisis sosial diserahkan kepada komputer-komputer berkecerdasan super, keputusan-keputusan penting diambil berdasarkan mekanisme politik pasar bebas, bangunan-bangunan ditinggikan menembus langit, sawah-sawah dan tanah dibongkar dijadikan lapangan beton, serta sumber daya alam dieksploitasi sedemikian rupa hingga tinggal ampasnya, pada saat yang sama, jauh di kedalaman skala nanometer, di sebuah dunia yang sama sekali luput dari perhatian dunia, Tuhan berbagi uneg-uneg kepada sekumpulan struktur biokimia berskala nanometer yang sesungguhnya (uneg-uneg itu) ditujukan kepada peradaban manusia modern: “Aku Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

“Kun!!”. Seketika itu terbukalah semua pintu-pintu kemungkinan yang melaluinya sekumpulan struktur biokimia tadi menjalankan peran sebagai the hidden messenger untuk mengkoreksi tata kelola peradaban modern yang kelewat takabbur dan tamak! Tak ada satu orang pun yang tahu pasti dari pintu mana Covid-19 keluar pertama kali sampai akhirnya memicu outbreak di Wuhan, Cina. Salah satu dari puluhan kemungkinan, bahkan bisa jadi ratusan pintu yang ada, ikhtiar awal para ilmuwan di berbagai negara dalam menyelidiki Covid-19 menunjukkan bahwa ada dua pintu yang terbuka. Pintu pertama: virus Corona berkembang hingga mencapai bentuknya saat ini (SARS-Cov-2) melalui seleksi alam yang difasilitasi oleh (berlangsung di dalam tubuh) hewan inangnya, lalu berpindah ke (tubuh) manusia. Tubuh (sel) hewan inang menjadi semacam ‘kawah Candradimuka’ bagi virus Corona dimana di dalamnya mereka ‘khusyuk bersemedi’ sambil bermutasi―merubah susunan kode genetiknya―sedemikian rupa selama sekian tahun. Setelah waktunya tiba, dengan susunan kode genetik baru, virus-virus Corona baru sudah sangat siap jika sewaktu-waktu mereka diminta oleh Tuhan untuk berpindah ke tubuh manusia, mewujudkan misi “preliminary deconstruction of 21st century”. Pintu kedua: virus Corona berpindah dari hewan inang ke manusia, bisa langsung, bisa juga melalui perantara hewan lainnya, lalu ‘bersemedi’ dan bermutasi secara simultan selama sekian tahun di dalam tubuh manusia, berpindah-pindah dalam lingkaran populasi manusia, sampai akhirnya mereka menjadi cukup ‘sakti’ untuk menjebol sistem pertahanan tubuh manusia.

“Kun! Fayakun!”. Makhluk berukuran nanometer yang beberapa bulan lalu bahkan belum terdaftar dalam kosa kata bahasa manusia, kini (Covid-19) tiba-tiba menjadi “nama” paling ditakuti oleh dunia. Siapa saja yang terinfeksi SARS-Cov-2 (positive case) sangat mungkin akan ‘menyantet’ orang-orang yang ada di dekatnya dengan virus ini, meskipun ia sendiri tak pernah bermaksud melakukannya. Begitu ia bersin dan batuk, atau menyentuh benda-benda di sekitarnya, maka Covid-19 auto transmitted ke semua benda dan orang yang dikenainya, tak peduli apakah yang dikenainya itu seorang menteri atau penjual bakso, anak-anak atau kakek-kakek, muslim atau ateis, pengusaha atau pengangguran, sarjana atau lulusan SD, kulit putih atau kulit hitam, semua berpotensi dihinggapi dan diinfeksinya. Bersin dan batuk, sebagai kendaraan perang Covid-19, faktanya adalah gerak refleks tubuh: keduanya tak butuh persetujuan (otak) kita kapan harus melaju; kalau sudah waktunya nggebres dan batuk ya saat itu juga harus terjadi, tak bisa ditunda. Maka, melihat ukuran, kemampuan beradaptasi lewat teknik mutasi, serta mekanisme penularan serta penyebarannya yang inherent dengan fisiologis tubuh, pandemi Covid-19 ini mirip seperti ‘santet’ biologis skala global. Bedanya dengan santet konvensional yang melibatkan (minimal) dua pihak berbeda, pelaku (dukun) dan korban, Covid-19 tidak mengenal pemisahan antara pelaku dan korban karena di sini ‘pelaku santet’ adalah sekaligus ‘korban santet’―di dalam tubuh keduanya sama-sama ada ‘jarum dan paku’ biokimia yang mampu beranak-pinak. Maka, anjuran semacam stay at home dan social distancing substansinya bukanlah bentuk perlawanan atas Covid-19, tetapi lebih ke pengendalian ego individu (nafsu lawwamah). Wajar jika siapapun saja diminta untuk tinggal di rumah atau menjaga jarak aman dengan orang-orang di sekitarnya agar ia tak sampai menjadi korban ataupun pelaku ‘santet’ di tengah wabah ‘ghaib’ Covid-19.

“Kun Covid-19! Fayakun” seketika membuat dunia terguncang dan dilanda kepanikan massal! Betapa dahsyat kehendak bebas-Nya yang dalam sekedipan mata telah melemparkan “ego” peradaban modern, dengan watak “adigang-adigung”-nya, dari puncaknya yang tertinggi ke pinggiran jurang yang curam. Sesungguhnya, apa yang dunia cemaskan saat ini atas wabah Covid-19 bukan hanya skala pandeminya atau seberapa banyak kota yang harus lockdown, tetapi juga resiko resesi global serta chaos besar yang sangat mungkin akan mengikutinya. “Alarm kematian” yang kini dibunyikan oleh Covid-19 sudah terdengar oleh hampir semua penduduk Bumi, mengirimkan sebuah pesan universal: “Tak ada yang dapat menghalangi Kami untuk mengirimkan (kepadamu) tanda-tanda (kekuasaan Kami)”. Hanya saja, kali ini Tuhan memilih pasukan tak kasat mata berukuran 120nm (0,00012 milimeter) sebagai tanda kekuasaan-Nya, yang peradaban modern belum memiliki perangkat forecasting dan early warning system atasnya; berbeda dengan air bah, gempa bumi, atau tsunami, yang teknologi prediksi dan sistem peringatan dini maupun mitigasinya relatif jauh lebih mapan. Covid-19 mengingatkan dengan agak keras kepada siapapun untuk tidak hanya mengimani forces of nature (hukum alam, sunnatullah), tetapi juga fardlu ‘ain mempertimbangkan serta mengaplikasikannya dalam setiap hal, terlebih dalam pengambilan kebijakan-kebijakan menyangkut masyarakat dan pemerintahan suatu negara. Covid-19 bisa dilihat sebagai anti tesis dari peradaban modern yang memuja-muja “superioritas”, “kemegahan artifisial”, dan “eksploitasi alam”. Siapa yang sangka dalam waktu kurang dari tiga bulan, imperium global beserta ratusan negara anggota di dalamnya tiba-tiba kelimpungan dan dibikin lumpuh oleh sekumpulan “virus bau kencur” yang numpang hidup dari cipratan-cipratan mukosa bersin dan batuknya orang-orang di Wuhan sana.

Peradaban modern sudah cukup lama berjalan di muka bumi dengan sombong, adigang-adigung, serakah sundul langit! Barangkali, dalam konteks Covid-19, surat Al-Isra: 37 dapat kita baca sebagai pengingat atas fakta bahwa kecanggihan peradaban modern tak mampu menembus dan melenyapkan (dunia) virus. Covid-19 hanyalah sebagian kecil dari sekian banyak konsekuensi atas pemujaan-pemujaan peradaban modern kepada berhala “At-Takabbur”, “At-Tamak”, “Az-Zalim”. Tadabbur atas Ar-Rum: 41 menyiratkan bahwa Covid-19 tidak sedang melakukan holocaust kepada manusia, ia sekedar tunduk patuh mengikuti standar operasional prosedur yang telah diatur oleh sunnatullah. Apa SOP nya? Bahwa keserakahan, eksploitasi atas alam, dan pertumbuhan ekonomi bersifat bukan tanpa batas; maka evolusi menghendaki agar semua pelaku kehidupan di Bumi, termasuk virus, terjamin kelangsungan hidupnya dan kelestarian keturunannya. Evolusi juga harus memastikan terlaksananya pembagian kekuasaan (power sharing) diantara semua pelaku kehidupan agar jangan sampai terjadi otoritarianisme, oligarki, atau monopoli kekuasaan dalam ekosistem global (biosfer). Virus, bakteri, wereng, kecoa, semua mempunyai teritori kekuasaannya masing-masing yang dijamin oleh Tuhan dan mereka akan mempertahankannya mati-matian. Di mata saya, Covid-19 ini sebenarnya sedang menginfeksi siapapun (entah itu individu, masyarakat, negara-bangsa, ataupun keseluruhan peradaban modern) dengan ‘menyuntikkan’ sebuah pertanyaan mematikan―yang harus ditemukan jawabannya sesegera mungkin―ke dalam operating system peradaban global: “Dengan parameter-parameter dan indikator-indikator apakah kita hendak dan saling mengamankan (menciptakan sekuritas) kehidupan di dunia?? Pertanyaan ini mendekonstruksi logika berpikir dan moralitas peradaban global pada level paling dasar. Jika jawabannya salah, atau sengaja memilih jawaban yang tidak benar, maka skala ujian (bencana) yang diterangkan dalam surat Ar-Rum:41 akan berbanding lurus dengan jawaban tersebut. Bagian akhir Ar-Rum: 41 “… agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” adalah tantangan kuncinya: Sebagai anak-cucu-cicitnya peradaban modern, apakah kita bersedia mengubah cara-cara hidup kita yang salah atau tidak tepat agar sebisa mungkin mendekat kepada cara hidup yang “rahmatan lil ‘alamiin” ??

Mohammad Shofie

Jamaah Maiyah Damar Kedhaton (JMDK), Tinggal Di Cerme, Gresik.