Di Televisi

https://images.app.goo.gl/eZ9JjdVQaRDmFdYx7

Di Televisi

 

Seperti biasa, Patmo, Klenyor, juga penduduk desa lainnya seberes subuh pergi ke ladang, berbekal curit dan karung glangsing, guna merumput untuk sapi yg dipunyainya,

Pagi memang pas untuk memulai aktivitas. Pelepah pinang yang sudah kuning tiba-tiba rebah dan dengan sangat tertib luruh ke bawah. Burung yang bersarang di sana beterbangan. Pelepah itu jatuh dalam lintasan yang agak condong dan mendarat sebagian di air dan sebagian lagi di darat. Pertunjukan alam masih berlangsung. Pelepah pinang itu perlahan-lahan terseret dan akhirnya hanyut terbawa aliran air Sungai. Di atas sana pelepah itu meninggalkan kelopak mayang yang masih kuncup, putih bersih kekuningan. Dan tak lupa sebatang dua batang rokok, kopi yang turut menemani perjalanan pagi ini cukup menjadi sesaji perut.

Mereka merumput rombongan dan arak-arakan layaknya pawai. “Biar seru!” kata Patmo. Namun perbincangan agak berbeda, lantaran akhir-akhir ini, banyak berita yg mengabarkan di planet sapi mengenai pandemi yang disepakati dinamai corona.

Seluruh sapi suddenly gugup, panik tak tertahankan, hampir di segenap sudut desa di planet sapi membungkam mulut dan muka dengan penutup pernafasan, toko-toko kehabisan stok blongsong (bungkus) pernafasan. Bahkan kepala planet sendiri kedunguan, eh kebingungan, hingga segala aktivitas persapian dibatasi. Alias Lockdown.

Patmo dan Klenyor memang memiliki selera humor yang ngawur, segala hal tentang apapun dapat ditemukan sisi lucu dan mengandung makna yang dalam. Juga sisi melow namun pada dasarnya itu karena kedua kepala ini sama-sama tak jelas isinya.

Bermula dari hiburan yang konyol itu, setelah 3 jam mencari rumput, panas matahari mulai terasa menyengat sehingga memaksa kedua laki-laki itu berhenti di warung sederhana kepunyaan Yuk Djum. Di warung ini mereka memiliki hiburan yang disepakati dinamai televisi. Sebuah benda bersudut empat, bersuara, bergambar yang menayangkan berita, acara yang nahasnya jauh sekali dari kehidupan nyata.

Benda itu diisi oleh – katanya – penduduk  na-Mex, sehingga setiap tayangan yang mereka sajikan adalah khayal, imaji dan apalah itu.

“Mo bagaimana dengan itu tu, tadi di pisyi (televisi) tentang pandemi corona,” tanya Klenyor pada Patmo yang sejak tadi asyik dengan tape goreng khas warung Yuk Djum.

“Helluuuuk,” sahut Patmo.

“Ayoo lah Mo..”

Sik yo, sik,” Patmo mengambil air minum, lantaran hampir penuh tape di mulutnya.

Mendengar jawaban itu, Klenyor diam dan menunggu Patmo mengeluarkan gagasannya.

“Pandemi itu kan untuk planet sapi, ngapain ikut gupuh?” Patmo mengawali.

“Lha sapi makhluk hidup, Mo. Apa sapimu juga gak kepingin hidup?”

“Jadi gini, segala proses dan prosedur itu mempengaruhi hasil. Ya jelas kan ini yak? Kamu merumput, sapimu juga diajak gawe (membajak), rutin aktivitas lahiriah dan bathiniah, lhoo kok?”

“Apa, Mo?” tanya Klenyor.

Hambbok kowe ki gak paham paham wae,” Patmo mulai jernih ketika udara memanas. “Segala tayangan yang ada di pisyi sekali lagi jangan sepenuhnya dipercaya. Pisyi didesain untuk mereka yang enggan aktivitas, sehingga datangnya adalah untuk kebingungan tanpa tindakan. Lah kita ini biar kaum emperan wa protolan kan sangat jelas, cita-cita utama adalah husnul khotimah. Hambbok pagi bisa nyruput kopi kaya gini kan ya alhamdulillah wa syukrulillah, urusan nanti kita bisa kan ya menemukan kesyukuran lagi, sapi sudah kita rawat sedemikian rupa, kalau memang digariskan selesai kontrak bisa apa kita ini? Kita ini adalah ….”

Sik sik tahan, aku kebelet iki, Mo”. Klenyor meninggalkan Patmo di warung.

“Lah woy, belum aku selesaikan pembicaraanku ini.”

Teringat ada uang sepuluh ribu di kantong, Patmo membayar hidangan. Lalu melanjutkan pembicaraannya dengan Yuk Djum si penjaga warung sederhana itu.

“Yu Djum, yang manis yang cantik dan baik. Hehehe,” rayu Patmo dengan mesra dengan menyodorkan uang sepuluh ribuan yang lungset.

“Apa Mo? Gak usah nggombal.”

“Oiya, aku mau berbagi informasi, Yuk. Aku heran Yuk, berita di mana-mana pada tegang. Tepatnya berita yang mereka lihat dari dunia maya lewat televisi. Berita tersebut mengabarkan virus Corona yang berdampak buruk dan penyebarannya sangat cepat. Berita sebelah bahkan tak sedikit mengabarkan anjuran untuk pukul mundur virus tersebut. Bahkan planet babi sudah menjadi peringkat pertama setelah kambing. Dan sampai beberapa kota di situ di-lockdown. Dan di Indonesia ini sudah 6 yang positif Corona. Kemungkinan beberapa kota juga akan di-lockdown. Apakah desa-desa akan di-lokcdown juga, Yuk?”

Melihat Yuk Djum menyimak, Patmo melanjutkan, “Tapi aku lihat di dunia nyata penduduk desa tidak sepanik penduduk di kota itu, Yuk. Mereka masih beraktivitas dengan biasanya. Apa karena mereka jarang menonton televisi? Karena sibuk dengan ternak, ladang, dan empangnya? Tetapi Pak Lurah beserta jajarannya telah menginformasikan kepada ketua RT masing-masing untuk tetap waspada.”

“Iya Mo, kita harus tetap waspada. Wabah ini menjadi tamu yang harus kita hormati kedatangannya. Namun kita harus mempunyai sikap waspada terhadap wabah yang kadang bandel. Khususnya bagi tenaga medis seperti Bidan Fatma yang menjadi pelayan puskesmas di desa kita ini, harusnya menyosialisasikan kepada masyarakat sikap yang efektif untuk pandemi ini,” sahut Yuk Djum.

Tiba-tiba ustadz Sholeh datang.

“Eh Pak Ustadz tiba-tiba njedul. Tumben tanpa salam? He-he-he,” sambut Patmo.

“Oiya lupa. Assalamu’alaikum.”

Patmo dan Yuk Djum menjawab dengan seksama.

“Aku mendengar pembicaraan kalian berdua dari balik bilik warung. Menurutku dengan datangnya pandemi ini adalah pengeling marang Pengeran. Kita telah disibukkan dengan suatu pekerjaan yang sia-sia. Hasil mines energi tumpes. Ini adalah kesempatan bagi kita khususnya orang beriman untuk mendekatkan diri kepada Allah, kita juga waspada kepada siapa di balik ini yang semangat memberitakan wabah ini hingga berhari-hari sehingga membuat penduduk di planet sapi ketakutan,” ulas Ustadz Sholeh.

“Iya Pak,”  jawab mereka kompak.

Dengan tergopoh-gopoh Klenyor datang dengan memberi kabar, “Mo, tolong aku. Sapiku lepas!”

Lhadalah. Ayo ayo tangkap.”

Patmo dan Klenyor meninggalkan Yuk Djum dan Ustadz Soleh di warung.

 

Yudha “blagaduz”

JM  Jannatul Maiyah Tuban (JIMAT)