Sosial distance, sosialisasi

https://images.app.goo.gl/VHCzSbv6Mno6zohM6

Sosial distance, sosialisasi

 

Patmo dan Klenyor setia menunggu Bidan Fatma untuk menyosialisasikan tentang pandemi yang sedang menyebar di planet sapi.

“Tuk tuk tuk…,” bunyi sepatu Bidan Fatma yang dikenali oleh Patmo terasa mendekat. Bidan Fatma dengan membawa buku kecil di tangan kanan dan bolpoin di tangan kiri. Lalu duduk di hadapan mereka berdua.

“Jadi begini Mas Patmo dan Mas Klenyor. Saya dapat informasi dari Dinas Kesehatan. Bahwa pandemi yang merebak di planet sapi memang harus dilawan bersama. Oleh karena itu, sampean sebaiknya menerapkan sosial distance untuk sapi sampean. Jangan sampai sapi sampean diajak ke tempat yang rawan oleh wabah itu. Misalnya di tempat yang banyak menghimpun massa sapi. Dijaga ya, Mas. Para peternak juga harus selalu menjaga kebersihan kandang dan badannya. Anjuran dari Dinas kesehatan, masyarakat dihimbau menghindari kerumunan demi mencegah penularan virus itu untuk 14 hari kedepan. Kita diperintahkan untuk memberi edukasi kepada masyarakat dengan harapan kasusnya bisa menurun drastis, tanpa penularannya, sehingga bisa terkendali. Kami ini tidak bisa menangani seluruh masalah planet sapi sendirian. Jadi, kami harapkan kerja sama dari pemerintah daerah dan masyarakat khususnya para peternak sapi untuk kita perangi bersama wabah itu. Bagi sapi yang mengalami gejala virus covid-19, seperti demam, pemerintah berusaha keras untuk memastikan ketersediaan fasilitas kesehatan. Diagnostik yang tepat bisa menurunkan jumlah kasus, yang mana akan ditindaklanjuti secara responsif,” ulas Bidan Fatma kepada mereka berdua.

Patmo dan Klenyor mengangguk bersamaan.

“Jadi Mas Patmo dan Mas Klenyor, tetap waspada ya, meskipun masih belum terpantau adanya gejala demam pada sapi-sapi milik peternak di desa ini. Semoga saja desa kita aman dari wabah pandemi virus covid-19. Dengan bersama-sama kita peduli dengan lingkungan yang kita tinggali ini, sapi aman, peternak dan masyarakat lain juga aman. Oiya Mas, silakan itu gorengannya dimakan. Kasian dari tadi didiemin saja.”

“Oiya Bu’, maunya saya ambil tapi ibuk dari tadi berbicara terus, jadi saya menyimak saja,” ujar Patmo sembari mengambil pisang goreng.

“Lhadalah Mo, kamu makan aja. Itu sapinya kita bawa balik saja. Aku takut sapiku nanti kenapa-napa,” sahut Klenyor.

Sapi Klenyor dari tadi makan rumput di sekitar puskesmas.

“Terimakasih Bu Fatma atas informasinya. Kami berdua akan setia ikut menjaga kestabilan desa agar tak terkena virus covid-19 itu. Iya kan, Nyor?!” kata Patmo sambil memegang pundak Klenyor. “Saya pamit dulu Bu Fatma, maaf sudah mengganggu rutinitas ibu.”.

“Ah tidak apa-apa Mas. Aku suka dengan masyarakat yang peduli dengan masalah sosial ini, saya merasa di pedulikan,” jawab Bidan Fatma.

Patmo dan Klenyor melempar senyum kepada Bidan Fatma yang cantik itu.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.