Bermi’raj sebagai Jalan Ninja Kampung Karangkadempel

https://images.app.goo.gl/ofYcgi1cNMksZdYX7

Bermi’raj sebagai Jalan Ninja Kampung Karangkadempel

Patmo, Klenyor, dan Budi terpanggil jiwanya untuk menghadiri undangan rapat di mushala. Kebetulan kepengurusan yang baru telah dilantik. Abah Anam terpilih menjadi ketua takmir. Sebelumnya beliau menjadi sekretaris takmir yang lama. Abah Anam terpilih karena keseriusannya dalam me-manage kegiatan mushala. Beliau terkenal aktif dan rapi dalam merencanakan dan melaksanakan kegiatan PHBI dalam setiap tahunnya. Jama’ah menjadi bergembira karena mushala menjadi mercusuar di desa ini.

Jajaran pengurus mushala di kampung Karang Kadempel ini mayoritas pekerja. Marbot mushala masih tetap diisi oleh Mbah Sugik. Sudah 5 tahun Mbah Sugik mengurus kebersihan mushala untuk para jamaah yang datang melakukan shalat berjamaah. Sebagai marbot dan tukang pijat para jamaah di kampung Karang Kadempel ini, beliau sudah tersohor dengan sebutan yang khas; Mbah Kucur.

Niat yang terpatri di hatinya ialah, membuat para jamaah senang dan betah karena hasil kerja keras Mbah Sugik dalam membersihkan dan merawat inventaris di mushala. Meskipun sekata atau dua kata tak pernah terdengar oleh telinganya.

Malam itu, Abah Anam sebagai ketua takmir yang baru menyosialisasikan kepada para pengurus dan perwakilan  jamaah tentang model kepengurusan yang baru. Mulai dari seksi-seksinya hingga ke tugas para seksi-seksi tersebut. Patmo dan Klenyor terpilih menjadi seksi urusan kegiatan PHBI. Dan Budi terpilih menjadi seksi humas.

Di mushala Patmo dan Klenyor dikenal dengan aktifnya mengurusi adik-adik dalam kegiatan belajar mengaji dan kesenian hadrah. Budi lebih suka kegiatan di luar mushala. Namun bila terdengar suara adzan, aktivitas itu disudahinya lalu bergegas menuju ke mushala.

Sebelumnya Klenyor telah menyimpan usulan, yang mana usulan itu akan diajukan ke ketua takmir. Ia berharap para jama’ah setuju. Sebelumnya Klenyor membicarakan usulannya ke Patmo dan Budi.

“Gimana Mo, Bud, ini aku punya usulan. Tentang diadakannya peringatan isra’ mi’raj. Menurutmu gimana?”

“Aku setuju Nyor, asalkan ada support dari jama’ah,” tanggap Patmo.

Lek aku siap wae, niat apik insya Allah jadi,” sahut Budi.

Denger-denger peringatan isra’ mi’raj ditiadakan. Karena isu terbaru yang lagi viral di jagat ini. Virus Corona,” terang Klenyor.

“Kemarin kan Bidan Fatma sudah menyosialisasikan bahwa masyarakat dianjurkan untuk melakukan social distance. Apakah dengan masalah seperti itu acara penting ini ditiadakan?  Sedangkan peringatan ini menghadirkan banyak orang,” Patmo menanggapi.

“Perlu kita meyakinkan dan me-refresh kepada para jama’ah bahwa peristiwa isra’ mi’raj adalah peristiwa yang luar biasa, yang tak mampu dijangkau oleh akal namun tetap harus diimani oleh umat Kanjeng Rasul Muhammad Saw,” tegas Klenyor sambil mengangkat telunjuknya seperti caleg berkampanye. “Dan peristiwa ini sebagai fenomenologi tentang kehidupan umat manusia.”

Klenyor menambahkan, “Isra’ Mi’raj adalah peristiwa di mana Rasulullah menek langit pada suatu malam, ditemani Jibril al-Amin, dengan didahului perjalanan kilat dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sepulangnya dari Sidrat al-Muntaha, Rasulullah membawa perintah sholat lima waktu dari Allah untuk disampaikan kepada ummat manusia.”

“Di mana letak fenomenologinya sebagai sebuah konsep tentang kehidupan?” tanya Patmo.

“Sebagian orang yang menganggap Isra’ Mi’raj sebagai khayalan belaka. adalah orang-orang yang di dalam hidupnya hanya mengerti tentang jasad, dan tanpa pengetahuan tentang rohani. Isra’ Mi’raj adalah peristiwa rohani, dan untuk mengerti betapa dahsyatnya konsep ruhaniyah yang dikandung oleh peristiwa itu, yang harus dipakai ialah sensor ruhaniyah. Terlebih yang menceritakan peristiwa ini adalah Qur’an, bukan buku sejarah apalagi buku pelajaran sekolah. Qur’an itu abadi dan tanpa keraguan. Maka konfigurasi ruang dan waktu dari setiap peristiwa yang diceritakan oleh Qur’an menjadi berlaku tanpa batas dan sekat. Qur’an adalah kenyataan masa lalu sekaligus masa kini dan masa datang. Tinggal seberapa tajam mata kita sanggup mengupas ayat demi ayat di dalamnya supaya aktif menjadi konsepsi baru di tiap penggalan waktu. Isra’ Mi’raj memang dialami oleh Rasulullah, tetapi jika kita sebagai ummatnya tidak berhak ikut mengalaminya juga, untuk apa Allah ceritakan kepada kita? Meskipun tidak harus dengan kronologi fakta empirik yang sama persis, setidaknya secara substansi kita pun harus ber-mi’raj. Dengan merebaknya virus covid-19 ini kita berikhtiar dengan jalan ninja kita. Gondelan jubahe kanjeng nabi dan tunduk pasrah kepada Allah Yang Maha Besar. Virus kecil dan tak terlihat namun kita mempunyai Tuhan yang lebih besar dan tak terlihat. Allah ada di hati setiap hamba yang beriman,” Klenyor meronta-ronta.

Gendeng arek iki, kesurupan jin islam paling. Top tenan kancaku iki,” gumam Patmo sambil meringis.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.