Lintasan Kelembutan Shodaqoh Sirr

https://images.app.goo.gl/HFEgtiQNcv1BvP627

Lintasan Kelembutan Shodaqoh Sirr

Jum’at kali ini tak seperti biasanya. Hari jum’at ini terasa amat sangat keramat. Mengingat hari jumat pertama di bulan Sya’ban. Menurutku, sejak era milenial hari-hari yang dikeramatkan oleh para salafus shalih dalam menjalankan rutinitas sholat jum’at khususnya laki-laki namun sedikit yang meyakininya bahwa hari jum’at adalah hari yang keramat.

Dewasa ini, setiap jum’at, mereka berbondong-bondong menuju masjid untuk melaksanakan sholat jum’at. Menurut perasaanku, setiap jumat terasa kosong melompong. Tak ada rasa yang istimewa di hati. Membuat setiap usai sholat Jum’at terasa gelisah dan merenung di akhir jum’at.

Setelah meluasnya penyebaran virus covid-19, pemerintah mengisolasi tempat-tempat yang sering dijadikan berkumpulnya banyak massa, masjid salah satunya. Tak sedikit dari daerah di negara ini yang menutup masjid sampai meniadakan sholat jum’at untuk mengantisipasi penyebaran virus covid-19.

Aku merasa tidak tega dengan keadaan negara ini, karena pandemi virus covid-19 membuat banyak orang panik. Melihat anjuran Simbah Emha Ainun Nadjib di tulisan serial Corona, menurutku beliau menegaskan untuk memantapkan keyakinan anak cucu untuk merayu Allah dengan kesungguhan yang ekstra; memaksimalkan wirid kelembutan Muhammad, serta sesering mungkin beristighfar. Karenalah kelakuan kita manusia yang menuai hasil kejahatannya saat musim tanam. Kesuburan di musim tanam tidak diindahkan dengan fastabiqul khoirot. Melainkan bersikukuh dengan kebenaran-kebenaran yang belum tentu benar secara universal. Ketimpangan sosial membuat semakin hari malah bikin runyam. Klasa ditambal jadah, jadah dipangan asu, asu mati dibuang ke sungai, air sungai menjadi tercemar. Sehingga kebiasaan mencemari sungai akhirnya menjadi hal yang lumrah.

Khotbah jum’at hari ini membuat hati para jamaah bergetar. Para jamaah berangkat ke masjid bermodalkan keyakinannya untuk mendekat kepada Allah. Pengharapan yang baik para jamaah diwakilkan oleh seorang Khotib saat berkhotbah. Khotib tegas, dengan suasana hati yang bergetar, khotib menceritakan akhlaqul kharimah pimpinan umat muslim; Kanjeng Nabi Muhammad saw. Di saat terjadinya wabah di jaman itu Kanjeng Nabi Muhammad dhawuh “bersedekah dapat mencegah bala”.

Bersedekah yang sangat dahsyat  dengan dilakukan secara senyap, diam-diam, atau sirr. Ditutup dengan keikhlasan yang mantap.

“Obatilah saudaramu yang sakit dengan jalan sedekah,” sabda Kanjeng Nabi Muhammad Saw.

Bersedekah adalah ikhtiar dhohir, keihklasannya adalah ikhtiar batin. Oleh karena itu para salafus shalih menganjurkan untuk melupakan apapun kebaikan yang telah engkau buat. Serahkan semua kepada Allah. Bertawakalah dan bertakwalah.

Sang Khotib menutup khotbahnya dengan berdo’a untuk kesehatan umat manusia dan keselamatan negeri nya. Ya Allah… Bergetar hati para jamaah seraya menggemuruhkan suara “amin” di dalam masjid.

Jum’at yang sangat keramat, mengharap Allah mengabulkan do’a dan mengangkat pageblug jahat. Semoga jum’at kedepan menjadi jum’at yang sehat. Dan masjid yang beristirahat segera kembali selamat.

 

 “Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.