Rumahku Gua Kahfiku

https://images.app.goo.gl/cNSQd6GXNrwzvYA8A

Rumahku Gua Kahfiku

Melahirkan rasa syukur di dalam benak, sesulit apapun situasinya, adalah sebuah keharusan, kecuali bagi yang tak mengimani janjiNya; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmatKu), maka sesungguhnya azabKu sangat pedih”. Syukur-syukur, upaya melahirkan, merawat dan mengembangbiakkan rasa syukur itu, didorong tak sekedar oleh nuansa kewajiban, namun berangkat dari kebahagiaan mencari, memunguti, sekecil apapun bibitnya.

Maka kita bersyukur, Mbah Nun dengan setia dan telaten menemani dan membekali anak cucunya agar tak kehilangan keseimbangan dalam meniti jalan di tengah kepungan pandemi Covid19. Melalui serial tulisan corona, dua kali dalam sehari selama sebulan terakhir, kita diguyuri ilmu. Di dalamnya termaktub panduan mulai dari taraf konseptual filosofis, hingga tataran operasional-teknis, semuanya ada. Dari skala individu, keluarga, komunitas, hingga negara, jangkep.

Dengan spirit syukur dan semangat tahadduts bin ni’mah, saya hendak menceritakan testimoni beberapa dulur yang antara saya dengannya sempat saling nguda rasa. Memasuki ‘uzlah di Gua Kahfi keluarganya masing-masing, dulur-dulur saya ini menemukan hikmah, kesadaran dan penyadaran baru yang sebelumnya tak mereka dapati di tengah-tengah kebebasan sosial pra-corona.

Dulur A yang mengaku belum lancar membaca Al Qur’an, belum mahir tajwid dan tartilnya, belakangan ia meng-kreatifi berlimpahnya waktu bersama keluarga dengan makin rajin mengasyiki Al Qur’an; ia belajar mengaji pada istrinya. Ia bahkan bersemangat dan tanpa rasa enggan ketika di suatu malam istrinya menyodorkan padanya kitab iqra’. “Wis, sinau kait kene ae Mas,” todong Sang Istri. Keesokan harinya, mereka berdua memasak sekian bungkus nasi dan lalu mider membagikannya ke tukang becak, tukang ojek pangkalan dan pedagang PKL yang sudah usia lanjut, di sekitar rumah.

Barangkali karena saking kangennya dengan atmosfer sinau bareng, Dulur B menuturkan bahwa tiap ba’da isya’ ia dan istrinya bikin majelis ilmu berdua. Mereka menerapkan konsep sinau bareng dengan prinsip peran siklikal “saling menjadi murid sekaligus guru”. Topik yang dibahas apa saja? “Ya macem-macem, Cak. Mulai fiqh, tauhid, sosial politik barang. Gak lali sa’durunge ya wirid sholawat dhisik,” tuturnya.

Karena kantornya memberlakukan jadwal WFH, Dulur C merasa mendapatkan kesempatan emas, yakni menemani anak-anak. Seakan ia menemukan aha momen; selama ini ia merasa telah banyak mengabaikan satu mandat penting. Kesibukan pekerjaan membuatnya berpikir bahwa merawat dan mendidik anak adalah tugas istri dan sekolah. ‘Uzlah kali ini menggiringnya untuk menikmati kedekatan yang intim, sembari mengenali watak dan karakter anak-anaknya. “Siji engkas, Cak. Tibak’e penggaweane wong wedok nang omah iku temenan uwabot!” akunya.

Dulur D, E, dan F menuturkan kisah yang identik, namun tentu saja bagi masing-masing memuat rasa yang tetap khos. Biasanya nyaris tak pernah sholat berjamaah dengan anak-istri, kali ini mereka jadi lebih sering. Bagi sebagian orang yang terbiasa menjadi makmum di masjid kantor atau di tengah perjalanan, maju menjadi imam dan membelakangi istri dan anak, adalah pengalaman dengan suasana batin tersendiri. Apalagi kemudian berlanjut dengan melantunkan wirid-wirid maiyah – yang biasa ia lakukan saat maiyahan-, kali ini wirid itu ia ajarkan dan lantunkan bersama dengan orang-orang terdekatnya. “Hati campur aduk, Cak. Mbrebes mili,” ujar salah satu dari mereka.

“Anakku ternyata kendel pujian ndhuk masjid, Cak. Dan swarane enak,”  tutur Dulur G. Ketika tiba di rumah, Si Anak sangu catatan pujian dari Pakdhe Takmir, dihafalkan untuk besok ia kumandangkan.

Dulur H menceritakan anaknya yang punya hobi baru setelah sekian hari ia sekeluarga istiqomah menjalankan ijazah Wirid Ba’da Isya’ dari Mbah Nun. Semalam sebelum tidur anaknya menghampiri sambil menunjukkan angka di tasbih digital yang melingkari jari telunjuk mungil itu dan melapor, “Dapat seratus, Yah.” Ketika ditanya membaca apa, si ragil berusia tiga tahun itu menjawab, “Ya Hadii Ya Mubiin, Yah.”

Penggalan peristiwa pada keluarga Dulur I berikut memuncaki tahadduts bin ni’mah kali ini. Tiap kali mengingatnya, hati saya lekas menghangat.

Seusai menunaikan jamaah isya’ bersama ibunya, ibu mertua, istri, dan ketiga anaknya, dulur kita ini memandu mereka bersama-sama melangitkan rangkaian wirid Ba’da Isya’. Di bagian akhir ia mengajak menghadiahkan fatihah kepada satu per satu anggota keluarga, baik yang sudah wafat maupun yang masih hidup. Setelah selesai, salah satu putrinya yang kelas 2 SD itu nyeletuk, “Yah, begitu banyak dan berulang-ulang itu untuk melindungi kita ya?”

“Iya, Dik. Kita mohon perlindungan Allah,” jawab Si Ayah.

“Tapi..”

“Tapi apa, Dik?”

“Tadi Ayah baca fatihah untuk Mbah Kung, Mbah Uti, Ibu’, Mbak, Adik, dan banyak tadi, kok aku nggak dengar nama Ayah. Trus siapa yang menyebut nama Ayah?”

Dadanya tercekat. Sejenak ia tak bisa memahami perasaannya sendiri dihantam pertanyaan tak terduga namun diam-diam ia gadang-gadang itu. “Coba Adik tanya Ibu’ atau Mbah Uti,” sahutnya lirih.

Si Putri menatap ibunya, dan kemudian mengangguk yakin setelah mendapati jawaban, “Ya itu tugas Sampeyan, Mbak, dan Adik yang menyebut nama Ayah.”

Kepada saya, Dulur I memungkasi kisahnya dengan kalimat, “Bungah campur haru atiku, Cak. Fatihah cinta anak-anakku itu kujadikan benteng doa yang menyelimuti dan mengawal lakuku.”
Selamat melanjutkan ‘uzlah di Gua Kahfimu masing-masing, dulur.

 

Ahmad Irham Fauzi

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme.