Persentuhan Awal dengan Mbah Nun

https://images.app.goo.gl/KXxTZ9DPWbs2mPNw8

Persentuhan Awal dengan Mbah Nun

Sekitar 1 tahun yang lalu saya bekerja di perusahan keramik di daerah Gresik sisi selatan. Selama saya bekerja di pabrik tersebut saya masih menjadi karyawan kontrak.

Suatu hari saat saya sedang bekerja saya sangat jengkel dengan problem saya sendiri. Yaitu gaguk dalam berkomunikasi dengan orang baru lebih-lebih dengan atasan. Apalagi hari itu saya dihabisi dengan ocehan atasan saya. Jengkelnya karena tidak bisa menghentikan ocehannya dan ingin menyakinkan beliau bahwa saya bisa bekerja di bawah kendali beliau.

Sedang sumpek-sumpeknya akhirnya saya mengunjungi Sinyo, teman saya satu bagian di pabrik yang saya rasa berteman dengan saya lahir batin. Kebetulan saat itu di bulan ramadhan. Saya temui dia sedang usung-usung keramik. Memindahkan keramik untuk dirapikan.

Saya duduk di tempat duduknya. Tak sengaja. Saya melihat handphone-nya menyala. Di wallpaper-nya ada gambar seorang bapak berambut gondrong dengan pose kepala menunduk tangan kanan menyangga di dahinya. Serta ada quote di gambar itu (saya lupa bunyi quote-nya), tapi dari quote tersebut saya sungguh amat sangat penasaran. Akhirnya saya beranikan bertanya.

“Siapa itu yang di wallpaper hape-mu?”

“Mbah Nun,” jawabnya singkat.

“Siapa Mbah Nun?”

Mosok koen gak ngerti Mbah Nun?”

Temenan, aku ora kenal Mbah Nun.”

Akhirnya Sinyo menceritakan siapa itu Mbah Nun beserta cerita perjuangan beliau yang Sinyo ketahui. Mendengar ceritanya, saya tertarik untuk mengenal lebih dalam tentang sosok di wallpaper itu.

Akhirnya saya kian penasaran dengan Mbah Nun. Saya cari di internet tapi tak jadi. Ada hal lain yang mengubah rencana saya.

Galih, teman sekamar dengan Sinyo di kos, mengalami kecelakaan kerja. Jarinya terjepit conveyor. Akhirnya dibawa ke klinik pabrik keramik.

Sinyo menghubungi, dan ia menyuruh saya untuk mengantarkan Galih pulang ke kos terlebih dahulu. Karena dia tidak bisa mengendarai motor sebab jarinya memar usai terjepit conveyor.

Sesampai di kos, saya berdialog seru menanyakan tentang siapa itu Mbah Nun. Galih adalah anak Sebani, desa sebelahnya Menturo. Rumah kakeknya bertetangga dengan ndalem Menturo. Sejak umur balita Galih diajak ibunya rutin mengikuti pengajian Padhang mBulan waktu itu.

Namun Galih tidak bercerita panjang lebar. Dia seperti menyuruh saya untuk mencari sendiri tentang sosok Mbah Nun. Galih menunjuk sebuah buku di atas rak yang ada di sisi kanan lemari baju.

“Itu ada buku tentang siapa itu Mbah Nun. Itu bukunya Sinyo. Baca aja,” pungkas Galih. Tampaknya ia sudah lelah dan sedikit energi untuk berbicara lama dengan saya.

Akhirnya saya buka buku itu. Baru dapat 2 halaman, hati saya dibikin penasaran dan terdorong untuk segera menghabisi lembar demi lembarnya. Buku “Spritual Journey; Pemikiran dan Permenungan Emha Ainun Nadjib” akhirnya saya bawa pulang. Saya lanjutkan baca di rumah.

Tak hanya mengenal sosok kepiawaian Mbah Nun ketika saya membaca buku itu. Melainkan saya mendapat berkah lebih. Melalui buku itu saya juga mengenal siapa itu Sabrang, Kiai Kanjeng, dan berbagai macam simpul maiyah.

Setelah mengkhatamkan buku itu, saya tergelitik untuk mencari tahu tentang musikalisasi puisinya Mbah Nun. Akhirnya saya mengunjungi Sinyo lagi, sebab ialah yang gampang untuk saya tanyai tentang kiprah Mbah Nun. Sinyo adalah jama’ah maiyah sejak SMA. Akhirnya Sinyo mengirimi saya musikalisasi puisi Mbah Nun yang berjudul “Kemana Anak-Anak Itu”. Selebihnya saya cari sendiri dan mengenal Mbah nun lebih dalam lagi.

Tersentak saya mendengar musikalisasi puisi Mbah Nun. Suara gamelan Kiai Kanjeng beraura kharismatik menggedor dada. Merinding saya mendengarnya. Hingga saya terpesona dengan suara Mbah Nun ketika membaca puisi-puisi itu.

Teman-teman jama’ah maiyah pasti tahu tentang isi lirik puisi “Kemana Anak-Anak Itu”. Tak lama saya berpikir, dan menggandengkan apa yang ada di puisi itu dengan keadaan kegelisahan saya itu. Akhirnya saya mendapat kabar baik lantaran puisi Mbah Nun. Dan membuat saya berani bersikap di hadapan orang baru lebih-lebih dengan atasan di pabrik. Tak lagi ada rasa gemetar ketika berhadapan.

Barokahnya saya lebih berani. Tidak gaguk lagi. Karena Mbah Nun menuntun saya lewat karya-karyanya untuk memperbarui cara pandang terhadap kehidupan ini. Dan saya lebih rileks waktu itu.

Masih banyak cerita yang saya miliki, namun tak semua bisa saya tulis di sini. Terimakasih Mbah Nun. Sugeng Ambal Warsa Mbah Nun. Semoga Allah menambah taufiq, hidayah, dan rahmat-Nya untuk Mbah nun. Dan semoga tetap istiqamah membersamai jama’ah maiyah di manapun berada.

Matursuwun Simbahku.

 

Griya kencana, 27 Mei 2020

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.