“Nilai Cinta di Atas Nilai Hukum”

https://images.app.goo.gl/wkfpu7R9dSrY2svy9

“Nilai Cinta di Atas Nilai Hukum”

Mungkin memang benar apa yang pernah dikatakan bapak, dulu, bahwa saya ini hanya semacam katak di dalam tempurung. Katak kurang pergaulan yang tidak akan menemukan kemungkinan lain sebagai wawasan dan pandangan, selain apa yang ada di depan mata. Begitu membaca esai-esai Mbah Nun, utamanya dalam tema agama yang dikaitkan dengan kenyataan sosial kehidupan manusia sehari-hari, saya tak menemukan wawasan lain tentang adanya tulisan yang bisa membalut tema-tema itu dengan demikian baik.

Seperti juga dalam buku Mbah Nun yang saya miliki, ketika saya menemukan pelajaran-pelajaran hidup yang serupa di sekitar saya. Utamanya, ternyata tulisan-tulisan di dalam buku Mbah Nun menampari kehidupan pribadi saya dalam sehari-hari. Saya seperti diingatkan dari kejauhan oleh bapak.

Umpamanya dalam salah satu esai yang kemudian juga dijadikan judul sampul buku, ‘Slilit Sang Kiai’. Bagaimana ketika sang kiai yang menjadi tokoh utama dalam tulisan, menjadi demikian terganggu dengan sebuah kesalahan kecil yang tidak disengaja.

Selepas menghadiri dan mengisi sebuah acara pengajian dengan jamuan makan, pada perjalanan pulang sang kiai merasa ada slilit yang menelisip di sela giginya. Slilit kecil dan sepele itu nyatanya sangat mengganggu. Tanpa banyak berpikir, sang kiai mengambil sedikit ranting dari sebuah pohon perdu yang dijadikan tanaman pagar di depan rumah seorang penduduk, dan menjadikannya semacam ‘tusuk’ untuk menghilangkan slilit di giginya.

Sepele, dan tentu hal-hal kecil semacam itu seringkali kita anggap sebagai suatu kewajaran. Dengan merasa paling berhak mengambil sesuatu yang bukan menjadi hak kita, tanpa kita sadari sebagai suatu dosa dan kesalahan.

Kelak dalam esai tersebut, ranting kecil itu membebani neraca pahala-dosa sang kiai ketika berada dalam kubur.

Ranting tanaman perdu dan slilit itu adalah suatu metafora, perbuatan kurang baik yang sering kita lakukan dengan berbagai alasan pembenaran, dan lama kelamaan kita anggap sebagai suatu kewajaran. Mengambil hak orang lain, menyerobot tanah, mematikan nafkah penghidupan orang lain, menutup pintu karier orang lain, dengan bersembunyi di balik dalih persaingan kerap kita lakukan dan menganggapnya sebagai kewajaran.

Padahal, perbuatan baik maupun buruk bukan melulu perkara besar kecilnya skala, melainkan tentang bagaimana cara kita menyadari dengan sepenuhnya baik-buruk tindakan atau perbuatan kita tersebut.

Banyak lagi dari esai Mbah Nun dengan analogi sangat baik menuliskan kejadian-kejadian di dalam kehidupan sehari-hari yang akan menampari kebenaran yang terlanjur kita yakini. Apa yang sebelumnya kita yakini sebagai kebenaran karena begitu banyak orang atau pihak lain melakukannya, ternyata adalah suatu hal yang kurang baik sifatnya.

Kebenaran tak berhubungan dengan banyak sedikit orang yang melakukannya, akan tetapi kebenaran mempunyai titik koordinatnya sendiri yang manusia harus menyesuaikan padanya. Bukan sebaliknya.

Pada esai yang lain, Mbah Nun mencontohkan tentang hadirnya semut dalam semesta kehidupan manusia. Seorang tokoh rekaan bernama Kiai Muhammad menjadi sentral cerita. Suatu kali Kiai Muhammad hampir terlambat menunaikan sholat dhuhur karena sedari pagi asyik bergotong-royong bersama warga. Dengan tergopoh karena menyadari bahwa hampir habis waktu dhuhur, Kiai Muhammad menuju sumur dan meraih timba. Tetapi di dalam ember timba ditemukannya banyak semut. Bisa saja kemudian Kiai Muhammad mengabaikan keberadaan semut-semut tersebut dan langsung saja mengambil air di dalam sumur.

Akan tetapi karena kelembutannya, Kiai Muhammad menurunkan satu per satu semut dari dalam ember, agar mereka tak mati atau setidaknya tidak sengsara, baru kemudian ia akan mengambil air. Tetapi begitu selesai dengan semut terakhir, adzan ashar sudah berkumandang. Kiai Muhammad tertegun.

Hanya semut, mungkin begitu yang terbersit dalam benak dan pikiran kita. Tetapi semut pun adalah makhluk ciptaan Tuhan. Dan siapa tahu, semut dihadirkan oleh Tuhan untuk menguji seberapa jauh kadar kemanusiaan kita yang dibebani pangkat dan jabatan sebagai khalifah di muka bumi. Apakah kita akan mengabaikan hak hidup semut-semut tersebut demi eksistensi pribadi kita sebagai manusia, ataukah kita akan berbagi rasa dengan semut dalam semesta kehidupan kita.

Tentu semut itu juga adalah metafora yang coba dihadirkan Mbah Nun dalam berbagai sisi kehidupan kita yang sering kita abaikan dalam berbagi dengan hak hidup orang lain. Demi eksistensi kehidupan pribadi, bagaimana sebenarnya dalam kehidupan sehari-hari kita hanya peduli pada hidup dan kebutuhan diri sendiri, dan abai terhadap kehidupan orang lain di sekitar kita. Tak peduli apakah kawan dan saudara serta tetangga bisa makan hari ini, yang penting kita bisa makan enak dan berkecukupan.

Tak peduli apakah kawan atau teman kita akan ‘terbunuh’ karier pekerjaan dan penghidupannya, yang penting kita bisa meraih pangkat dan jabatan serta sukses dalam segala usaha. Tak peduli kita bisa naik dalam perihal duniawi setinggi mungkin, dengan menginjak orang lain. Bahkan menghiraukan keberadaan mereka. Semut dalam esai yang dituliskan Mbah Nun, menjadi semacam pembelajaran sederhana, bahwa hidup tak hanya tentang diri kita sendiri. Namun hidup menjadikan mulia dengan kesadaran berbagi.

Kadang tidak seimbang pernyataan Mbah Nun dengan kesadaran kita yang terlanjur konservatif dalam menyakini ajaran serta nilai agama Yang menempatkan fiqih atau hukum sebagai panglima dan ujung tombak kehidupan beragama.

Namun bagi kita yang ingin menemukan agama sebagai suatu keindahan, yang mengedepankan akhlak untuk dapat menerapkan hukum-hukum agama, yang menempatkan cinta sebagai nilai paling atas. Bahwa di atas hukum, masih ada cinta. Dari sekian esai Mbah Nun banyak menguak ajaran agama Islam yang penuh kelembutan serta empati terhadap sesama dan semua makhluk.

 

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.