Budidayakan Cinta, Tumbuhkan Ekonomi Kita

Budidayakan Cinta, Tumbuhkan Ekonomi Kita

Siang ini, tujuh orang berkumpul di rumah Cak Syueb—salah seorang kamituwa Desa Iker-iker Geger, Cerme, Gresik. Kopi, gorengan, minuman gelasan, dan tak lupa rokok menjadi pendamping setia pertemuan kami. Dengan aneka suguhan tersebut, obrolan berat dapat dielaborasi secara ringan, mudah dicerna otak, dan menancap dalam hati. Bismillah. Dalam payung paseduluran Al-Mutahabbina Fillah, segala diskusi yang tercipta tetap mengupayakan itikad untuk saling menggembirakan.

Topik budidaya lele menjadi pembuka diskusi. Pembahasan mulai dari langkah awal, pemberian makan secara rutin, pemahaman terhadap kadar air, perhitungan biaya, hingga akomodasi selama proses tersebut terkemas secara luwes mempesona. Pak Dul, salah seorang JM Damar Kedhaton yang telah lebih dahulu mencicipi suka duka bersama sedulur tua (ikan lele), membagikan sedikit pengalamannya. Cak Sriyono (Bangle, Tenggor, Balongpanggang) menyimak penuturan Pak Dul dengan saksama. Antusiasme tersebut terbaca jelas melalui ekspresi wajahnya. Kata Cak Sriyono, ia ingin menyerap pengetahuan orang-orang yang memang telah berpengalaman.

Cerita Cak Edi lain lagi. Meski tak terlalu lama membudidayakan ternak lele seperti Pak Dul, ada bermacam-macam pengalaman yang bisa ia bagikan, contohnya budidaya maggot. Azola, salah satu jenis tumbuhan yang turut dibahas Cak Edi, ternyata bisa menjadi pakan alternatif lele, belut, angsa, ayam, dll. “Aku oleh teko Turi, Lamongan.” terangnya, ketika ditanya dari mana ia memperoleh bibit Azola. Bagaimana Cak Edi mendatangi berbagai tempat yang mendukung suplai pakan ternak, alternatif pakan, bibit, bahkan melakoni peran sebagai pihak distributor di pasaran juga menjadi cerita menarik untuk disimak.

Lelah pasti dirasa, energi banyak terkuras, dan jam istirahat pun sedikit sekali. Namun bagi Cak Edi, yang paling utama adalah bertambahnya pengalaman diri. Sebab, pengalaman adalah guru paling berharga yang tak dapat dinilai lewat kalkulasi angka semata. Titen dan telaten adalah kuncinya. Sebenarnya, masih banyak pengetahuan lain yang telah dibagi oleh Cak Edi. Namun, hanya sedikit yang mampu Penulis pahami, bahkan masih merasa lebih miskin pengalaman daripada mereka yang sudah terjun di lapangan.

Tak lama waktu berselang, Cak Djalil pun datang, duduk, dan ikut nimbrung dalam obrolan hingga biji kelor pun tak luput dari pembahasan. Usut punya usut, ternyata, biji kelor bisa dijadikan obat alami untuk mengatasi tingginya kadar gula, kolesterol, dan sebagainya. Gusti Allah memang benar-benar menakdirkan Nusantara memiliki sumber daya alam yang tak terkira. Sayang, dominasi ilmu kedokteran modern sedikit demi sedikit menggerus kepedulian dan keyakinan masyarakat terhadap kemuliaan manfaat yang dititipkan Allah kepada alam Nusantara raya.

Dari diskusi mini hari ini, Penulis dapat mengambil hikmah sederhana. Bahwa, seruwet apa pun keadaan yang tengah kita hadapi, tetaplah menyempatkan diri untuk saling berbagi pengalaman bermanfaat sebagai upaya kita membudidayakan cinta kepada sesama. Sesuatu yang kita anggap biasa bisa jadi amat berguna untuk menumbuhkan ekonomi orang lain, sehingga selamatlah hidup serta martabatnya sekeluarga.

Berangkat dari semangat persaudaraan, semoga tumbuh keberkahan.

 

Sabtu, 27 Juni 2020

Febrian Kisworo Aji