Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #43-September 2020 “Resesi Katresnan”

Di bawah langit malam tanpa penghalang, suasana terbuka ditemani angin juga hawa yang dingin, lingkaran majelis ilmu Telulikuran edisi ke-43 dengan tema Resesi Katresnan digelar oleh dulur-dulur Damar Kedhaton. Pada Kamis, 10 September 2020, Lembah Kidang Kuning, Suci, Manyar menjadi saksi bisu akan kemesraan dan kehangatannya. Lantunan ayat-ayat suci Al-Quran, wirid, dan sholawat mengawali jalannya diskusi. Seluruh jamaah yang hadir larut, tenggelam, dan meresapi.

Sesi Perkenalan Beberapa Jamaah Baru oleh Moderator (Cak Pur )

Gus Farhat dan Bang Nawi membersamai sinau bareng pada malam itu. Diiringi rasa syukur dan juga apresiasi atas terselenggaranya majelis ilmu sinau bareng hingga kesekian kali, Gus Farhat menandaskan bahwa Telulikuran hadir sebagai sesuatu yang berbeda dari situasi umum terkini. Pada era yang tengah terkontaminasi oleh virus ingin benar sendiri, menang sendiri, ambisi pribadi, dan pendewaan materi, masih ada segelintir orang yang rela duduk berjam-jam untuk berkenduri ilmu—berbagi pengalaman pribadi, menggali kesejatian, mengurai nilai, dan tentunya tanpa ada rasa saling menggurui.

Setelah beberapa patah kata disampaikan oleh Gus Farhat pada sesi pembukaan, Cak Pur—yang memoderatori acara—mempersilakan jamaah untuk memperkenalkan diri secara bergantian. Terhitung 60-an orang hadir menghangatkan suasana sinau bareng pada hari itu. Dari Gresik wilayah utara, barat, selatan, bahkan dari luar kota (Lamongan, Jombang, Bojonegoro), mereka rela menyempatkan diri serta waktu demi mencicipi atmosfer Telulikuran.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

Katresnan berasal dari kata “tresno”, atau dalam terjemahan bahasa Indonesianya “cinta”. Membahas tentang cinta memang tak ada habisnya. Layaknya menyelami samudera, mengitari cakrawala, mengorbiti angkasa, atau bahkan mengunjungi tiap sudut terkecil yang pernah tercipta di semesta raya. Sungguh teramat pendek, sempit, dan dangkal jangkauan pikiran kita untuk mampu menerjemahkan makna dari cinta itu tersendiri.

Menurut Bang Nawi, cinta atau tresno merupakan sejatinya roso. Gampang-gampang sulit untuk bisa memahami dan mendalami rasa yang begitu kompleks. Betapa tidak, rasa itu suci apa adanya. Tidak akan pernah bisa salah, kecuali dikotori sendiri oleh para pelakunya. Sebab, cinta adalah anugerah terindah dari Gusti Allah. Salah satu alasan kenapa cinta merupakan anugerah dari Gusti Allah adalah karena kita beserta semesta diadakan atas nama cinta kasih itu sendiri. Bermula dari cinta, lahirlah semesta beserta segala isinya. Namun, seringkali kita tergelincir ke dalam jurang nafsu dengan dalih cinta sehingga menyengsarakan lingkungan sekitar. Cinta dan nafsu memang berbeda tipis. Oleh karenanya, perlu kebeningan jiwa dan kejujuran pikiran agar bisa menjangkau rasa yang sejati. “Terlalu sempit kata-kata untuk mengungkap segala hal tentang rasa.” imbuh Bang Nawi.

Di tengah perbincangan yang asyik dan menarik mengenai cinta, terlihat beberapa orang “petugas” dengan tabahnya menjaga juga mengatur segala perlengkapan sound system. Tanpa mereka, suara-suara diskusi malam itu kecil kemungkinan untuk bisa didengar. Di sisi lain, ada tangan-tangan yang sabar mengaduk jamuan kopi beserta kaki-kaki juang yang sibuk mendistribusikan ragam cemilan. Tak lupa, beberapa dulur juga sudah siap siaga di depan jalan masuk menuju area lokasi Telulikuran digelar. Tali-tali pengaman telah mereka pasang di sepanjang jalan agar jamaah yang lewat tidak terperosok ke dalam lubang bekas tambang. Suasana urip sesemutan memang diutamakan, saling mengisi dan berbagi tugas jika ada kekosongan peran dengan kesadaran diri tanpa ada paksaan. Demikianlah suasana dan budaya khas Maiyah.

Bang Nawi membersamai dan Memberi Panjabaran Mengenai Tema Majlis Telulikuran

“Kita yang berkumpul di sini, malam ini, tidak kenal kata resesi”, kata Bang Nawi penuh semangat.

Rupanya diskusi masih berlangsung meskipun malam telah amat larut. Jamaah begitu antusias menyimak paparan demi paparan yang disampaikan. Cinta benar-benar membara seperti nyala api unggun di tengah-tengah lingkaran diskusi. Menghangatkan tubuh juga menyala-nyala bagai kesungguhan hati jamaah untuk sinau bareng tanpa henti.

“Untuk menumbuhkan katresnan, kita harus menambah sikap simpati dan empati.” tambahnya.

Kalimat Bang Nawi tersebut sejalan dengan dhawuh Mbah Nun bahwa mencintai adalah keputusan sosial. Mencintai adalah perilaku, langkah perbuatan kepada yang bukan diri sendiri. Bentuknya tidak lagi seperti yang ada di dalam diri sendiri. Ia sebuah dinamika aplikasi keluar diri, bisa berupa benda, barang, jasa, pertolongan, kemurahan, dan apa pun sebagaimana peristiwa sosial di antara sesama manusia. Di situlah letak keutamaan cinta. Maka, simpati dan empati menjadi modal penting untuk mewujudkan cinta dalam bentuk kemanfaatan diri bagi lingkungan sekitar.

Gus Farhat Mengulas Tema Majlis Telulikuran Secara Mendalam

Saking asyiknya berdiskusi, tak terasa hari telah berganti. Kidung Wahyu Kalaseba karya Sri Narendra Kalasebo kemudian disenandungkan bersama-sama. Lirik langgam khas Jawa tersebut sarat akan makna, baik tersurat maupun tersirat. Dipandu oleh Cak Pitro dan Cak Madrim, lantunan Kidung Wahyu Kalaseba menenteramkan hati dan juga pikiran jamaah yang habis terkuras oleh jalannya diskusi. “Kidung Wahyu Kalasebo bisa diartikan sebagai perjalanan spiritual cinta” Demikian tadabbur Gus Farhat tentang keluasan makna yang terkandung dalam Kidung Wahyu Kalasebo.

Kemesraan, kebahagiaan, dan kebersamaan majelis ilmu Damar Kedhaton yang sudah berjalan hampir empat tahun lamanya wajib disyukuri dan ditumbuh-tambahi secara istiqomah, tuma’ninah, dan juga ma’iyah. Cak Syuaib mengingatkan bahwa keluasan rasa syukur, baik secara dhohir maupun batin, atas pertemuan-pertemuan tersebut dapat menjadi sumber kekuatan untuk melingkar kembali pada pertemuan-pertemuan selanjutnya. Semoga, dengan ketulusan niat dan ikhtiar dalam berproses, kelak, dapat terlahir tunas-tunas baru pembaharu bangsa.

Kolaborasi Pembacaan puisi oleh Cak Nanang dan Cak Kisworo

Malam itu, dua judul puisi yang dipersembahkan oleh Cak Nanang dan Cak Kisworo turut melengkapi jalannya diskusi. Puisi, wirid, sholawat, musik—setiap orang boleh memilih bentuk ekspresi pendapat yang disukainya dalam ruang publik tercinta ini, asalkan menjadi bahan kegembiraan bersama menuju cinta kepada Sang Maha. Perbedaan ekspresi atas tema, baik bentuk maupun isinya, yang dinyatakan dalam diskusi tetap terasa indah bila berangkat dari rasa cinta serta menarik untuk dilestarikan. Kedatangan dulur-dulur baru turut memperkaya semburat warna keindahannya. Agar keindahan katresnan tersebut tetap bisa dinikmati dan tidak mengalami resesi sebagaimana kekhawatiran yang tercermin dalam judul tema, kita hendaknya membudidayakan cinta. Antara lain dengan cara bahu-membahu menumbuhkan potensi di antara jamaah, serta menyambung tali persaudaraan kepada seluruh alam semesta. Kata Gus Farhat, kalau kita mempunyai cinta, maka kita tidak akan bisa hancur. Sebab, cinta itu adalah anugerah dari Gusti Allah yang kekal abadi. Laku apa pun, asalkan berdasarkan cinta, akan terasa begitu indah. Walaupun, hamparan duri-duri kekecewaan siap merajam apabila hasil keinginan tak sesuai dengan harapan yang pernah dicita-citakan.

Susana Khas Maiyahan, Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah Maiyah

Jarum jam menunjukkan pukul 02.30 WIB. Tak baik bilamana diskusi terus dilanjutkan, sebab ada pagi yang siap menjadi lahan untuk berjuang kembali. Keluarga di rumah pun telah menanti. Akhirnya, doa yang dipandu oleh Cak Syueb memungkasi Telulikuran pada malam hari itu.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton yang tinggal di Cerme, Gresik