Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #44-Oktober 2020 “Kecelik”

Sabtu, 10 Oktober 2020, Majelis ilmu telulikuran Damar Kedhaton edisi yang ke-44 berlangsung dengan penuh kegembiraan juga keromantisan. Bertempat di Pesantren Haqquna, Siwalan, Panceng-Gresik, kurang lebih 60-an jamaah hadir menyetiai hingga acara usai. Pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an juz 14 mengawali diskusi, kali ini Cak Faiz dan Cak Kamsidin nderes dengan tuntas. Berlanjut dengan pelantunan Wirid beserta Sholawat, sebagai wujud pengakuan kelemahan diri di hadapan Allah dan pengharapan syafaat kepada Kanjeng Nabi; tanpa pertolongan-Nya, kita tidak akan mampu menghadapi virus-virus kehidupan yang begitu mematikan.

nderes ayat-ayat suci Al-Qur’an juz 14 dan Wirid serta Sholawat oleh Cak Faiz dan Mas idin

Menyoal kecelik, banyak sebab yang menjadikan kita kecelik, terutama dalam menjalani kehidupan sehari-hari; antara keinginan dengan kebutuhan, antara  harapan dengan kenyataan, dll. Betapa tidak, Allah sendiri telah menfirmankan dalam ayat-Nya, bahwa kehidupan ini tak ubahnya hanya permainan dan senda gurau belaka. Dipertegas dalam Surat Al-An’am ayat 32:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا لَعِبٌ وَلَهْوٌ

Artinya: “Dan kehidupan dunia tak lain adalah permainan dan senda gurau.”

Cak Anis(Surabaya) memaparkan pembahasan tema

Sebab itu, kecelik merupakan kewajaran yang sudah pasti tidak mungkin untuk bisa kita hindari. Yang tidak wajar adalah ketika kita terlalu ngoyo untuk mengejar angan berdasarkan nafsu sesaat, tanpa pertimbangan kebersihan hati dan juga akal yang sehat. Kunci utamanya terletak pada bagaimana cara kita memandang dan menyikapinya dengan penuh bijaksana. Seperti apa yang disampaikan oleh Cak Anis (Surabaya), “Kecelik adalah sebuah kewajaran, yang menjadikan tidak wajar adalah bagaimana cara menyikapinya”

Dalam hal kecelik, Mbah Nun sering menyampaikan pesan kepada kita. Beliau kerapkali mewanti-wanti antara pinter, sugih, kuasa, atau apik; yang mana menjadi pencarian kita selama ini, apa sih sebenarnya yang kita jadikan fokus tujuan? Dari keempat pilihan tersebut, tentu harus senantiasa kita usahakan dalam kuda-kuda keseimbangan sikap dan pikiran guna mengarungi kehidupan sehari-hari; mana yang harus dinomorsatukan.

Cak Yusuf dan Cak Nanang (Siwalan) memoderasi diskusi

Penggalian atas tema kian elaboratif. Cak Yusuf dan Cak Nanang (Siwalan) yang berduet memoderasi diskusi, memainkan perannya dengan apik.

Mengenai tema kecelik, Cak Syuaib berpendapat, “Semua hal kecelik tidak melulu tentang kecewa, banyak pembelajaran yang akan dapat kita peroleh apabila mau membijaksanainya dengan baik”.

Sedangkan dari Abah Fauzan, selaku Pengasuh Pesantren Haqquna yang turut membersamai diskusi pada malam itu berpendapat, “Lek durung tau kecelik, gak bakal ketemu.” Dalam hal ini, sejatinya kita dalam menjalani kehidupan senantiasa terus mencari dan mencari. Dalam lubuk hati yang paling dalam, suara nurani pasti tergerak untuk menuju yang sejati. Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun adalah tujuan utama kita. Sesungguhnya kita semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Karena kecelik adalah hal yang niscaya mewarnai perjalanan hidup kita, maka yang menjadi paling penting kemudian adalah menyiapkan sikap batin saat mengalami kecelik, sebagaimana ditandaskan oleh Abah Fauzan, “terhadap semua peristiwa yang menurutmu itu kecelik, husnudzon-lah pada Allah, gak atik tapi!”

Abah Fauzan mempertajam sudut pandang jamaah terutama yang berhubungan dengan tema

Kepada jamaah Damar Kedhaton, beliau berpesan, “Damar kalian boleh menyala dengan terang, tapi tidak boleh dilupakan bahwa, minyak gas sebagai bahan bakarnya jangan sampai kehabisan”. Singkat, padat, berbobot, dan sarat akan makna. Multi makna yang dapat digali, tiap orang pasti memiliki perbedaan persepsi. Menurut hemat penulis, pesan tersebut secara umum bisa diartikan sebagai semangat dari dalam diri sendiri jangan sampai redup, sepanjang berjuang menebar nilai-nilai kemanfaatan di lingkungan sekitar.

Obrolan masih berlanjut, tukar-menukar gagasan dari masing-masing jamaah belum surut. Di bawah cerahnya gemintang dan langit malam yang begitu cerah, seluruh jamaah menikmati atmosfer sinau bareng malam itu dengan penuh bahagia.

Cak Pitro juga urun rembuk, menurutnya, yang kerapkali membuat kita bisa kecelik adalah karena isi dalam kepala yang tak pernah berhenti bekerja. Sejalan juga dengan pendapat dari Cak Rifky, bahwa faktor utama penyebab dari kecelik dikarenakan kepala yang terlalu meraja atau mendominasi terlalu kuat dalam mengambil keputusan.

Kolaborasi Cak Yusuf, Cak Pono beserta Cak Amin menambah kegayengan dan kemesraan

Di tengah asyiknya diskusi, iringan musik juga turut menambah kegayengan dan kemesraan pada malam itu. Tiga judul lagu Iwan Fals dipersembahkan; “Lingkaran Hening” oleh Cak Yusuf, dilanjut “Bongkar” dan “Ibu” oleh Cak Pono beserta Cak Amin. Jamaah yang hadir tak ingin ketinggalan juga, mereka pun ikut bernyanyi bersama.

Telah tumbuh pohon-pohon baru, paseduluran Al-Mutahabbina Fillah yang saling kita perjuangkan bersama. Di atas tanah yang pernah kering, bumi pertiwi kita yang masih tergores penuh luka hingga kini belum kunjung ditemukan obatnya. Air hujan air hidup, seperti ketulusan cinta yang kita bangun bersama. Mengalir dari jiwa yang hening, bertumbuh menjadi kesejatian yang mengejawantah sikap dan perilaku dalam meniti jalan kehidupan.

Diskusi pun dipungkasi dengan pelantunan doa oleh Abah Fauzan, Seluruh jama’ah yang hadir sangat berdaulat

Diskusi pun dipungkasi dengan pelantunan doa oleh Abah Fauzan. Setelahnya, jamaah dipersilahkan menikmati hidangan makanan yang sudah dipersiapkan oleh dulur Gresik Utara di tengah-tengah lingkaran diskusi malam itu.

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme Gresik