Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi #46 (Milad ke-4)-Desember 2020 “Catur Rasa”

Bertempat di Ponpes At-Tauhid Dsn. Ngebret Ds. Morowudi Cerme-Gresik, JM Damar Kedhaton melaksanakan rutinan pada tiap bulannya untuk putaran yang ke-46 bulan Desember ini. Bulan Desember sendiri menjadi momen yang cukup sakral, di mana para JM yang khususnya berdomisili di Gresik, saling mengumpulkan balung agar kuat-menguatkan. Sabtu, 12 Desember 2020, dengan penuh kesederhanaan JM Damar Kedhaton ber-tahadduts bin ni’mah melalui Catur Rasa.

Proses perbaikan atap serta Pemasangan Banner

Semangat untuk menyongsong empat tahun usia paseduluran begitu menyala, beberapa dulur jamaah telah menyurvei dan mempersiapkan uba rampe lokasi sejak siang hingga menjelang maghrib. Dari membenahi kerusakan pada atap, membersihkan sudut-sudut ruangan, menata backdrop sederhana sebagai tempat banner, hingga mempersiapkan sound systemnya. Dengan dibantu oleh beberapa santri Ponpes At-Tauhid, persiapan menjelang rutinan telah matang. Meski sesekali datang air hujan, tapi tidak lantas menggigilkan semangat paseduluran.

Pukul 20.23 WIB tepat, dimulai nderes pembacaan Al-Quran Juz 16 oleh santri setempat. Tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikannya, kurang lebih satu jam, Juz 16 tuntas dilantunkan secara bergiliran. Di luar ruangan, curah hujan terbilang masih cukup deras. Ada jeda waktu yang cukup panjang seusai pembacaan ayat-ayat suci Al-Quran. Tukang operator sound system pun tidak kekurangan akal, ia sebagai JM dan juga Santri At-Tauhid memutar beberapa aransemen musik dari Kiai Kanjeng, Cak Wawan namanya. Dari Ilir-Ilir, Duh Gusti, Sholawat Indal Qiyam, Bangbang Wetan, dst sebagai pengisi kekosongan waktu sembari menunggu jamaah yang lain datang.

Nderez Qur’an oleh santri setempat

Tiba waktu pukul 11 malam. Hujan cukup mereda, jamaah sudah tampak berdatangan. Kendati seusai diguyur hujan yang cukup deras, sedikitpun tidak menurunkan semangat dulur-dulur untuk merayakan kegembiraan melalui sinau bareng malam ini. Beberapa batang rokok telah dinikmati, penghangat tubuh kala mengisi jeda waktu. Dengan sebat­­—baca: menghisap rokok—memang menjadi penengah yang cukup efektif, menebas segala sekat yang menghalangi,  meredam obrolan yang mulai bertensi, dan tentunya adalah sebagai kawan sehari-hari bagi rakyat.

Sholawat Mahalul Qiyam dengan diiringi tabuhan oleh Tim Banjari Santri At-Tauhid

Gemericik rintik hujan masih setia menemani, jamaah yang hadir mulai merapatkan diri, dipandu oleh Cak Syueb, beberapa Wirid dikumandangkan. Dilanjut oleh Cak Anam dengan Cak Arief, Wirid Padhang Mbulan beserta Sholawat Mahalul Qiyam dilangitkan. Dengan cinta yang meletup-letup, jamaah yang hadir berbareng untuk saling menyatukan hati, mengemis syafaat dari Kanjeng Nabi.

Cak Teguh mengawali diskusi, dengan berkilas balik awal mula terlahirnya Damar Kedhaton, ia bertutur, “Bahwa, beberapa orang dulunya yang pernah sowan kepada Simbah, ada satu pesan yang paling menancap, yaitu istiqomah”. Momen tersebut dilangsungkan setelah  acara Maiyahan di Pongangan, Gresik. Tepatnya pada tanggal 8 Desember 2016. Hal itu menjadi langkah awal yang ditempuh oleh JM Gresik untuk nyuwun berkah doa dan diparingi nama dari Mbah Nun.

Cak Teguh yg memoderatori acara

Melalui tema “Catur Rasa”, jamaah bersepakat agar tiap masing-masing dari mereka berkenan untuk menceritakan pengalaman selama empat tahun ini, baik ketika bermaiyah, ber-DK, sesrawung dengan dulur lainnya, dll. Jika tidak ingin bercerita mengenai pengalaman pribadi, maka memandu satu nomor sholawat harus dipilih. Konsep sinau bareng yang diusung pada malam itu, benar-benar terasa beda dari yang sebelum-sebelumnya. Diskusi begitu cair, seluruh jamaah kebagian jatah untuk bersuara, dan diskusi benar-benar menjadi milik bersama. Bahwa peranan moderator saat itu cukup sebagai perantara saja, tidak lebih.

Banyak sudut pandang yang dibagi oleh jamaah, dari pertemuan awal dengan Maiyah secara individu ataupun diajak kanca. Entah penuh dengan suka atau duka, banyak pengalaman yang diungkap mengundang gelak tawa. Salah satunya dari beberapa jamaah yang dikenalkan Maiyah melalui Cak Madrim. Cukup banyak juga, kurang lebih 4 jamaah yang bertutur demikian. Pun di tengah asyiknya sesi bercerita, Cak Madrim sendiri membuka jasa pijat bagi siapapun yang hadir dengan tangan terbuka.

Kaji Fian turut bersyukur dan bergembira

Dari beragam cerita yang dibagi, kebanyakan yang diperoleh oleh mereka adalah ketenangan pikiran dan hati. Bahwa, Maiyah betul-betul layaknya rintik hujan di tengah gersangnya riuh rendah globalisasi, yang ditandai dengan pesatnya kemajuan teknologi, namun banyak aspek yang pada kenyataannya menggambarkan kemunduran nilai-nilai. Oleh sebab itu, di Gresik sendiri sudah hampir puluhan kali Mbah Nun dihadirkan untuk menemani wong-wong cilik yang terpinggirkan dalam tajuk acara sinau bareng beberapa tahun terakhir sebelum adanya pandemi. Bahkan, tak jarang acara tersebut diinisiatori oleh para pemuda.

Kendati belum banyak yang mengenal kehadiran Damar Kedhaton sebagai komunitas atau organisme Maiyah yang berwilayah di Gresik—siapapun mereka–setidaknya, keberkahan yang sudah ditanam oleh Mbah Nun melalui sinau bareng yang pernah diselenggarakan di berbagai penjuru Gresik, kelak akan ditumbuhkan sendiri oleh-Nya. Berbekal niat tulus untuk setia menanam nilai-nilai kebaikan, diiringi sholawat kepada Kanjeng Nabi, semoga Gusti Allah tidak tega membiarkan hamba-Nya untuk berjuang sendirian.

Kaji Fian menyampaikan segala maaf atas keterbatasan dalam penyelenggaraan syukuran kali ini, begitu sederhana tapi penuh kegembiraan. Hal tersebut tampak dari wajah-wajah jamaah yang antusias. Senyum berkembang tanpa paksa, sorot mata tampak bahagia, diikuti syukur yang tak terkira. Mic digilir diberikan kepada tiap jamaah. Masing-masing jamaah dipersilakan untuk ber-tahadduts bin ni’mah.

Suasana diskusi yang diselingi gelak tawa oleh jamaah

Cak Amin bercerita, ia berbagi pengalamannya ketika mem-panitiai acara sinau bareng Mbah Nun. Banyak kecocokan yang ia rasakan; kepuasan batin, persaudaraan, dan kegembiraan dalam belajar. Hal ini juga dirasakan oleh Kaji Bombom, banyak momen haru dan menggembirakan hati, serta membesarkan jiwanya. Tak terkecuali selama hampir setahun berkecimpung di Damar Kedhaton. Bagi Cak Madrim sedikit berbeda, ia seringkali mengalami pengalaman yang nyeleneh. Namun, selalu memberikan kesan yang berhasil mengakar di dalam hati. Sedangkan Cak Irul (Surabaya), membawakan cerita konyol yang mengundang gelak tawa bagi jamaah.

Ada beberapa hal yang juga tidak boleh luput dari perhatian, bahwa banyak tangan-tangan ikhlas yang menyedekahkan energi beserta waktu di balik layar dengan peran sebagai  pengatur sound system.

Wajah jamaah yang begitu antusias dengan tawa yang mengembang

Sesi curhat masih sedang berlangsung, Cak Pitro pun tidak ingin ketinggalan. Menurutnya, banyak pengalaman yang sungguh sangat luar biasa dampaknya. “Semakin ke dalam, semakin bermaiyah, semakin bertumbuh pula benih-benih cinta, tuturnya.

Lanjut Cak Rezky, ia menandaskan, aku kepingin senantiasa dikancani oleh Damar Kedhaton. Ketika melewatkan salah satu dari kegiatannya, rasane bener-bener eman”. Cak Edi meneruskan, salah satu manfaat yang ia dapatkan adalah Gresik ini cukup luas wilayahnya. Bagi Cak Edi yang kelahiran Malang, paseduluran yang sudah ia dapatkan, benar-benar menjadi hal utama yang tidak bisa dilupakan.

Banyak cerita mengenai rasa yang begitu mendalam selama bermaiyah. Hal tersebut sudah dibuktikan lewat beberapa penuturan jamaah yang sudah mengalaminya secara langsung. Menjelang subuh, sesi curhat masih berlangsung. “Berbincang hingga menjelang subuh pun tak terasa,kata Cak Arif. Menurutnya, hal tersebut merupakan rasa yang benar-benar rasa. Di mana, saking asyiknya bercerita pun, hingga lupa akan waktu, menjelang subuh pun jamaah masih kuat bertahan.

Pesan Cak Syuaib sebelum memungkasi acara dengan doa

Pada akhir acara, Cak Syueb memberikan pesan yang manthes. “Saling berendah hati, selalu merujuk kepada Mbah Nun selama bermaiyah, dan istiqomah melibatkan rasa untuk menjalani kehidupan sehari-hari,” tutur beliau. Keistiqomahan adalah titik awal dari keseimbangan. Sebab itu, beliau seringkali berpesan keistiqomahan wajib diusahakan setiap saat.

Setelah dipungkasi doa oleh Cak Syueb, berlanjut salaman antar jamaah, kemudian foto, dan  makan tumpeng bersama.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik