Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #47 – Januari 2021 ”Menyalip di Tikungan”

Dulur, masih ingatkah sampeyan ketika kita mengasyiki proses menebak-nebak kepanjangan dari “Is”, “Iz”, “SDSA”, “YM”, “S3J” dan banyak singkatan lainnya sekitar dua tahun lalu? Ya, tepatnya pada 20 Februari 2019, melalui esai “Apakah Indonesia akan di-Suriah-kan?”, Mbah Nun membekali kita sebuah perspektif atas perjalanan bangsa Indonesia dan umat manusia. Perspektif yang sebutlah, spektrumnya men-cakrawala ; tidak hanya lintas dekade atau abad, bahkan lintas milenium. Itu dari sisi waktu. Jika ditilik dari sisi geografis, esai itu membentangkan ruang pandang yang tak hanya lintas benua, bahkan lintas alam.

Ada satu poin yang dijadikan titik berangkat Mbah Nun dalam mengelaborasi paningal beliau melalui esai tersebut, yakni : Mimpi Indonesia 2085. Apa sajakah kandungannya? Sebaiknya, sampeyan mendayagunakan jari dan kecermatan saja untuk membacanya kembali.

Sementara itu, di kesempatan BangbangWetan edisi Desember 2020 yang lalu, Mas Sabrang MDP sempat mengetengahkan wacana bahwa sampai dengan lima belas tahun ke depan, Indonesia sedang berada pada titik kritis. Jika kaum muda dan penduduk usia produktif (15 – 65 th) gagal menjalankan peran yang semestinya, maka berdasarkan pengalaman sejarah, dapat dijamin masa depan Indonesia akan terus under control pihak luar. Akan miskin terus dan tak bisa meroket.

Sampeyan boleh saja membayangkan titik kritis itu semacam kondisi yang diwarnai oleh nuansa himpitan, kesempitan, atau bahkan benturan. Dan lalu sampeyan terinspirasi oleh koordinat majma’al bahrain dalam peristiwa perjumpaan Nabi Musa dan Nabi Khidhir, demi menerbitkan husnudzon akan lahirnya kehidupan atau kebangkitan pasca kematian ikan.

Atau, sampeyan boleh juga membayangkan event adu cepat antar pembalap. Tak jarang kita dapati, di jalur perlintasan yang menikung, seorang pembalap berhasil mencuri momentum dan menyalip, untuk kemudian melesat meninggalkan para rivalnya.

Memang kurang lebih demikianlah situasi perjalanan bangsa kita hingga dua dasawarsa ke depan. Indonesia berpeluang menikmati “bonus demografi”, yaitu percepatan pertumbuhan ekonomi akibat perubahan struktur penduduk yang ditandai dengan menurunnya rasio ketergantungan (dependency ratio) penduduk non-usia kerja kepada penduduk usia kerja. Rasio ketergantungan telah melewati batas di bawah 50% pada tahun 2012 dan akan mencapai titik terendah sebesar 46,9% antara tahun 2028 dan 2031. Maka momentum “Menyalip di Tikungan” menemukan relevansinya bagi bangsa ini.

Ndakik temen Cak mbahas ekonomi nasional barang!

Dulur, dengan meminjam prinsip Think Globally – Act Locally, mari melakukan pembacaan bersama atas semua bahan yang telah diulas di muka, untuk menemukan formulasi bekal dalam menjalankan peran di skala gerak kita masing-masing. Berbekal cakrawala kesadaran sinau bareng yang senantiasa meluas dan mendalam, mari melingkar kembali pada Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-47, pada :

 

Rabu, 06 Januari 2020

Pukul 19.23 WIB

Di Balai Rukyat Condrodipo, Kebomas, Gresik.