Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi#47- Januari 2021 “MENYALIP DI TIKUNGAN”

Rabu, 6 Januari 2021. Bertempat di Balai Rukyatul Hilal Bukit Condrodipo, Kebomas, Gresik, rutinan sinau bareng dulur Damar Kedhaton mengawali tahun 2021. Telulikuran edisi kali ini bisa dibilang cukup istimewa. Betapa tidak, dengan dibersamai oleh Cak Yasin, Pak Kris, Cak Syueb, dan Pak Juang, diskusi ilmu yang berlangsung mampu menambah khazanah benih nilai dari hal yang paling mendasar untuk dijadikan pondasi bagi kokohnya bangunan Indonesia pada umumnya, hingga yang secara khusus ditujukan bagi paseduluran Al Mutahabbina Fillah—semoga ikatannya tetap terjalin hingga Yaumul Qiyamah.

Nderez Qur’an, Wirid Sholawat

Berangkat dari kegelisahan atas berbagai ketimpangan yang terjadi pada negeri ini, dulur-dulur berikhtiar sedikit demi sedikit untuk menemukan solusi melalui ghirah sinau bareng, dengan harapan, hasilnya dapat dipanen oleh anak cucu kita kelak.

Banyak yang bilang, Nusantara adalah bagian kecil dari surga dengan ragam budaya dan sumber daya alam melimpah. Penggalan lirik lagu karya Koes Plus memang benar adanya: orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman. Di atas hamparan bumi Nusantara, tetumbuhan apa pun dapat hidup subur. “Negara Indonesia sebenarnya sangat berpotensi untuk menjadi maju dan beradidaya.” Demikian pembukaan diskusi yang dijabarkan oleh Pak Kris. Sayangnya, peluang tersebut tidak dipahami dan dikreatifi betul oleh pengelola negara, malah kebanyakan dimanfaatkan sebagai ajang untuk mempertebal laba pribadi mereka. Sebut saja, proyek pesawat N-250 karya monumental Pak Habibie—yang lucunya tidak didanani dan di-support oleh negara. Namun, menyaksikan banyaknya inovasi potensial anak negeri, Pak Kris tetap optimis bahwa bibit-bibit kemajuan tersebut akan terus lahir, entah itu masih dalam proses persemaian, masih sedang berjalan, atau pun masih sedang menemukan pintu rahim kelahiran.

Pak Kris Aji mempertajam sudut pandang jamaah terutama yang berhubungan dengan tema

Pada dasarnya, untuk membangun kesejahteraan di dalam negeri ini tidaklah sesulit yang kita bayangkan, tidak serumit teori-teori dunia akademi, tidak pula terlalu berkelok sebagaimana jalanan pertambangan yang dilalui oleh truk-truk pengangkut berton-ton emas di tanah Papua. “Membangun dan menumbuhkan percepatan kesejahteraan di negara ini sebenarnya mudah. Adalah bagaimana membangun dan membudidayakan konsep desa dengan sebaik-baiknya,” lanjut Pak Kris. Membangun desa yang dimaksud tidak serupa dengan komposisi kegagahan kota, melainkan bagaimana meracik bumbu-bumbu konsep desa yang sederhana dan memasukkannya ke berbagai sektor kehidupan yang ada. Konsep peradaban desa sesungguhnya lebih sehat, kuat—dan menguatkan, serta bergizi, baik bagi rohani, jasmani, diri sendiri, atau kehidupan sehari-sehari. Namun, lagi-lagi konsep globalisasi, yang katanya merupakan tanda kemajuan peradaban dengan dukungan kecanggihan teknologi, tanpa sadar telah mendoktrin pola pikir manusia abad ini di seluruh penjuru bumi ke arah yang salah. “Nyatanya, banyak hal yang diakibatkan oleh globalisasi yang berujung pada melemahnya mental serta keterampilan orang-orang masa kini,” tegas Pak Kris.

Pak Juang : Mengulas Tema Majlis Telulikuran Secara Mendalam

Sedangkan menurut Pak Juang, percepatan kesejahteraan negara akan melaju pesat jika pejabat negara memiliki kesadaran untuk bertirakat atau berani hidup tak bermewah-mewahan. Ambillah contoh, suri teladan kita bersama, yakni Kanjeng Nabi Muhammad. “Kunci utama dari keberhasilan Rasulullah dalam melakukan percepatan nilai-nilai kemajuan adalah dengan tidak pernah sedikit pun berpikir tentang dirinya pribadi. Yang selalu beliau pikirkan adalah umatnya, masyarakatnya, negerinya,” kata Pak Juang. Selain itu, Kanjeng Nabi Muhammad juga tidak pernah berhasrat untuk memperkaya diri, melainkan justru bekerja keras untuk menyejahterakan orang lain, meskipun beliau memiliki latar belakang sebagai saudagar. Bahkan, rumah beliau hanya berukuran 3×4 meter, tidurnya pun hanya beralaskan pelepah daun kurma. Sebab itu, beliau menjadi Nabi yang abdan abdiyya—hamba yang menghamba, pelayan yang melayani. Karena ia hamba dan pelayan, maka ia menghamba dan melayani. Tidak seperti zaman sekarang; atmosfer yang terbangun justru menunjukkan watak ingin menjadi raja, penguasa, baik dalam dimensi politik, ekonomi, maupun dalam tiap jengkal sisi kehidupan lainnya.

Susana Khas Maiyahan, Serius namun Mesra, Wajah-wajah Jamaah Maiyah

Perubahan drastis nilai-nilai kehidupan tersebut, tambah Pak Juang, dimulai semenjak Zaman Renaissance, sekitar abad 15-16 Masehi. Pada zaman tersebut, doktrin-doktrin tentang kepemilikan pribadi perlahan mulai ditanamkan. Salah satu akibatnya, Pak Kris menambahkan, lahirlah pola pikir umum: bagaimana selepas lulus sekolah, kita mudah mencari pekerjaan. Kita bisa menyaksikan sendiri betapa segala sistem yang ada di negara ini sudah tidak murni dan tidak sesuai lagi dengan karakter Nusantara. Jawa digawa, Barat diruwat, Arab digarap seharusnya menjadi landasan berpikir, bersikap, dan berkehidupan yang wajib kita teguhkan.

Diskusi berlangsung begitu ganyeng dan mesra, terkadang serius namun diselingi gelak tawa. Beragam sudut pandang diulas, dan di sela-selanya, sholawatan dilantunkan bersama. Beginilah sinau bareng ala Maiyah. Ada banyak cerita, pengalaman, kegembiraan, dan tentunya, paseduluran.

Suasana gayeng nan cair, begini : khas atmosfer maiyahan

Sebagai sebuah peradaban besar, Nusantara sebenarnya menyimpan nilai-nilai yang begitu banyak, tapi teramat jarang dipraktikkan oleh generasi selanjutnya, lanjut Pak Juang. Hal ini patut disayangkan, sebenarnya. Di tengah zaman yang serba tidak keruan, nilai-nilai tersebut berpotensi sebagai kemudi untuk menyalip di tikungan. Tirakat, contohnya.

Menyoal tirakat, kita bisa menghikmahi salah satu sosok leluhur Nusantara, yaitu Patih Gajah Mada. Di balik Sumpah Palapa, tersimpan banyak pelajaran tak terkira. Dari literatur maupun keterangan lisan, dapat kita simpulkan bahwa Patih Gajah Mada, dan para leluhur kita yang berhasil membuat perubahan-perubahan besar dalam sejarah, merupakan pelaku tirakat tingkat tinggi.

“Jika warga Indonesia benar-benar pancasilais, sudah pasti ia agamis. Jika sudah agamis, maka kesadaran tidak tegaan terhadap lingkungan sekitar pasti terbentuk. Kalau pun tidak, indikator dari pancasilais perlu dipertanyakan kembali,” pungkas Pak Juang.

Diskusi kemudian dilanjutkan dengan pembacaan doa penutup oleh Cak Syueb. Pada menit-menit terakhir, semua saling berpamitan, bersalaman, dan berfoto bersama. Dengan demikian, Telulikuran edisi awal tahun 2021 telah selesai.

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme