Jubah Kemanusiaan

https://images.app.goo.gl/GEVhZhxPs3MpSwcAA

Si Pengantar Bolu Kukus cuma bisa menjual 6 kardus bolu kukus. Sementara itu target dari Pak Bos 10 kardus. Pak Bos menagih, “kok cuma 6 kardus?!” Si Pengantar Bolu Kukus menjawab, “berarti rejeki hari ini 6 kardus bolu kukus, Pak”. Pak Bos mengejar, “harusnya bisa lebih!” Tapi sahabat kita pengantar bolu kukus ini orang yang ngeyel, “harusnya bapak bisa terima!”

Tak mau berdebat lama, Pak Bos pergi meninggalkan karyawannya itu. Begitu pula Si Pengantar Bolu Kukus itu pergi ke kantin untuk beli es teh.

Logika yang sama tetap dipakai oleh Si Pengantar Bolu Kukus saban Pak Bos menagih tanggungan yang telah ia targetkan kepada karyawannya itu. Pak Bos jengkel, merasa tak dituruti kemauannya. Kurang dari masa kerja sebulan, sahabat kita yang polos itu dipecat demi progresivitas usaha bolu kukus Pak Bos.

Malam ketika Si Pengantar Bolu Kukus itu dipecat, ia mampir ke kontrakan paseduluran mantab jiwa. Dengan membawa 2 kardus bolu kukus kepada penghuni kontrakan untuk bancakan bahwa dia masih bisa tersenyum. Dan sebagai uba rampe malam itu.

Mat Juki menyuruh Mat Hari membuatkan kopi untuk tamu kontrakan. Yang juga sebenarnya untuk mat Juki. Modus yang dilakukan Mat Juki dipahami oleh Mat Hari. Tak lama lekas ke dapur dan beraksi.

“Kenapa kamu kok kelihatan kecut gitu, Mal?” tanya Mat Juki pada Jamal, Si Pengantar Bolu Kukus.

“Aku dipecat sama Pak Bos,” jawab Jamal dengan lesu, seraya meneruskan, “karena aku tidak memenuhi target penjualan bolu kukus.”

“Kamu tidak paham economic development sih. Dan teori ekonomi progresif juga!” sela Mat Juki.

Mat Hari yang baru nongol dari dapur ikut merespon, “padahal apa salahnya juga sahabat kita ini. Dia cuma bisa jual 6. That’s all. Nothing to do with so called “rejeki hari ini”, sekeras apapun usahamu. Enam ya enam. Tapi toh sahabat kita ini menjawab juga.”

Mat Hari meneruskan, “seluruh teori ekonomi dari Adam Smith sampai Xi Jin Ping tidak pernah akur dengan alam berpikir kemanusiaan, hati nurani, apalagi konsep-konsep yang kita serap dari agama: syukur, rizqi, qodrah, iradah, shodaqoh, zakat, atau apapun saja yang menjadi tali pertautan antara perdagangan bumi dengan pasar langit. Economic development itu tidak selalu sejalan dengan akhlaq development. Ekonomi progresif bahkan bisa justru sangat tipis bedanya dengan kerakusan dan keserakahan. Etos kerja tidak sama dengan semangat tinggi, ia lebih dekat kepada ambisi untuk mengalahkan ‘kiri-kanan’. Bagaimana mungkin kita menjangkau hari depan dengan konsep-konsep destruktif semacam itu? Bagaimana kita menjalankan gerbong hidup yang dimasinisi oleh nafsu syahwat dan birahi money oriented semacam itu?”

Tak cukup berhenti di situ, Mat Hari melanjutkan, “SDM, sumber daya manusia, adalah sebuah term yang lahir dari dunia ekonomi dan bisnis. Dia tidak lahir, misalnya, dari fakultas adab dan humaniora. Maka, kata ‘manusia’ yang terkandung dalam term SDM lebih dekat maksudnya dengan potensi industrial (pada) manusia. Maksudnya, yang dilihat dari manusia adalah ambisinya, etos kerjanya, progresivitasnya dalam urusan menghasilkan profit, kreativitasnya dalam hal membesarkan dan memajukan sebuah korporasi ke arah pendapatan yang lebih tinggi. Manusia tidak dilihat—terutama—akhlaqnya, budi pekertinya, kebaikannya, kasih sayang kemanusiaannya, kepasrahan kepada Tuhannya, hati nurani polosnya kepada hidup, dan sejuta aspek lain yang sebetulnya lebih mencerminkan “manusia”. Manusia bukan mesin uang, tapi manusia tidak pernah merasa terhina apabila diperlakukan layaknya ATM berjalan. Dan itu terjadi selama berabad-abad. Sehingga amat sulit untuk mengikis karakter yang terlanjur menjadi kerak peradaban.”

“Jadi, kalau Si Pengantar Bolu Kukus ini hanya percaya kepada konsep bahwa rizqi adalah kecukupan yang Tuhan kasih pada saat itu juga, Si Pengantar Bolu Kukus ini jelas sangat tidak kompatibel dengan dunia ekonomi dan bisnis abad 21. Sebab untuk masuk ke dalam dunia itu, Si Pengantar Bolu Kukus mestinya menanggalkan dulu jubah ‘manusia’-nya, melipatnya secara rapi, lalu meletakkannya ke dalam lemari es. Dan jangan pernah sekali-kali sebut nama Tuhan. Jangan. Tuhan tidak marketable,” Mat Hari memungkasi.

Mat Juki pun berujar, “Iya Mal, tidak hanya di kerjaanmu saja yang seperti itu. Banyak sahabat kita yang masih berada di tepi jurang ambisi. Toh harapan mereka ingin juga keluar dari jurang itu. Kamu harusnya bersyukur, Mal. Masih diberi kesempatan oleh Tuhan memakai jubah manusia yang ada di lemari es. Ambilah dan lakukanlah apa yang engkau anggap mulia.”

 

Lontar, 5 Desember 2020

“Tedjo” Andreanto

JM Damar Kedhaton tinggal di Driyorejo, Gresik.