Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #48 – Pebruari 2021 ”Among Dulur ”

Dulur (baca: saudara) merupakan bentuk ikatan diantara manusia satu dengan yang lainnya.

Pandemi yang sedang terjadi sejak tahun lalu hingga detik ini, belum menunjukkan tanda-tanda untuk segera berakhir. Dua tahun lagi, tiga tahun lagi, atau bahkan selamanya pun, belum ada jawaban yang pasti. Segala kecanggihan pengetahuan manusia di abad modern pun belum mampu menjangkau butiran halus tak kasat mata yang bernama Covid-19. Gerakan sadar 5M: memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menjauhi kerumunan, dan mengurangi mobilitas pun digalakkan besar-besaran oleh pemerintah. Hal itu memunculkan dampak yang begitu besar terhadap beragam aspek kehidupan tanpa terkecuali. Mulai dari pendidikan, kesenian, budaya, sosial, keagamaan, olahraga, perkantoran, perekonomian, dll banyak yang diberhentikan untuk sementara waktu. Kalaupun diperbolehkan untuk menjalankan aktivitas pun harus benar-benar menerapkan standar protokol kesehatan yang begitu ketat. Jika dilihat secara fisik, memang sangat tidak diperbolehkan untuk saling berdekatan; minimal dari satu orang ke yang lainnya berjarak satu meter. Di sisi lain, perjalanan untuk keluar kota pun benar-benar dijaga super ketat. Mulai dari TNI, Polisi, dan Satpol PP juga turut dikerahkan untuk ngubraki masyarakat yang masih bandel atau tidak patuh kepada anjuran gerakan 5M.

Menyikapi fenomena yang sedang terjadi saat ini, tidak sedikit pula orang-orang yang merasa enggan untuk melakukan mobilitas secara berlebihan. Salah satu contohnya adalah semakin berkurangnya waktu untuk saling bertemu dengan tatap muka secara langsung. Bahkan dalam skala keluarga pun, yang biasanya rutin melakukan pertemuan, kini menjadi jarang dan tentunya banyak faktor yang menjadi hambatan. Kerekatan jalinan silaturahim bisa menjadi taruhan, bahkan tidak jarang pula bisa mengakibatkan keretakan. Maka dari itu, diperlukan upaya untuk menyikapi permasalahan ini. Di tengah pandemi yang belum bisa diketahui kapan berakhirnya secara pasti, ada baiknya bagi diri kita masing-masing untuk mengambil jarak dari situasi yang sedang terjadi, mentafakkuri, mentadabburi, dan ngudar rasa. Langkah-langkah apa yang harus kita ambil dari segala rentetan peristiwa yang sedang terjadi di akhir-akhir ini.

Allah Swt telah berabad lampau mengingatkan diri kita melalui firman-Nya dalam Surat Al-Anfal ayat 63 yang berbunyi, Dan yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” bahwa, tidak ada yang bisa melakukan sambang-sambung rasa persatuan, terlebih adalah persaudaran tanpa adanya campur tangan dari-Nya. Paseduluran al-Mutahabbina Fillah merupakan satu konsep yang ditanamkan oleh Mbah Nun kepada kita semua, Jamaah Maiyah. Idiom tersebut tidak lain berangkat dari ayat di atas, adalah bagaimana cara kita agar Allah selalu membersamai untuk mengarungi waktu. Minimal Allah tidak marah kepada kita dan mau untuk menganggap keberadaan kita di dunia.

Persaudaraan yang ditali-temalikan kepada Allah, sungguh merupakan anugerah yang tiada terkira. Betapa tidak, kita – manusia – mahkluk yang fana, penuh ketidakpastian, mengada karena Sang Maha Ada juga diberi dengan segala kelengkapan dari Sang Maha Pelengkap, begitu lemahnya diri kita ini dengan tanpa kekuatan dari-Nya. Oleh sebab itu, perlu kiranya kita berbareng ngoncek’i ati untuk menyatukan frekuensi, meneguhkan rasa persaudaraan di antara kita – manusia – terkhusus sedulur Maiyah, dan juga alam semesta.

Mari kita berkenduri, membawa bekal dari diri masing-masing yang sudah kita hikmahi, untuk menemukan formulasi yang tepat agar ke depannya bisa menjadi kendaraan menuju akhirat. Setia membaca ke dalam diri, bersama mendiskusikan apa yang sudah kita dapati, melalui forum sinau bareng Majelis Ilmu Telulikuran edisi ke-48, pada:

Jum’at, 5 Pebruari 2021

Pukul 19.23 WIB

Di Balai Desa Mojoasem Kec. Sidayu Gresik