Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #50 – April -2021 “Ruwah Rawuh”

Sudah teramat banyak budaya leluhur yang turun-temurun masih terjaga hingga saat ini, ekspresinyapun beragam. Sebagai anak cucu–kita–seyogyanya memahami maksud dibalik ekspresi yang sudah diejawantahkan. Layaknya busur panah, menarik sejauh mungkin mundur ke belakang untuk kemudian dilepaskan agar melesat jauh ke depan. Semakin kuat dan jauh tarikan busur ke belakang, maka busur panah akan jauh melesat ke depan. Seringkali simbolisasi busur panah disampaikan oleh Pak Nevi Budianto saat gelaran Sinau Bareng Mbah Nun dan Kiai Kanjeng. Dalam tataran logika teoritis, hal itu tidak bisa dipungkiri atau diabaikan begitu saja. Sebab, sejarah nenek moyang kita di masa lampau yang sempat tertulis–berwujud Aksara Nusantara-menjadi pijakan kuat bahwa, Nusantara juga pernah berjaya. Seperti kata pujangga yang sering kita dengar, gemah ripah loh jinawi, dengan segenap kekayaan sumber daya alam, manusia, dan keanekaragaman budaya menjadikan peluang kekuatan untuk bisa disebut negeri yang makmur. Namun, dunia dengan segala cuaca yang menggiring peradaban manusia modern agar berkesadaran untung rugi berhasil menguasai. Bahkan, penguasaan tersebut tidak lain hanya berpihak pada segelintir orang saja. Hal tersebut berkebalikan dengan budaya gotong royong, saling berbagi, dan saling bisa “rumongso” yang sudah lama tertanam pada diri manusia Nusantara.

Dengan tidak mengabaikan suku dan budaya yang sudah ada, Jawa dan Islam boleh disebut sebagai “Tumbu Ketemu Tutup”. Idiom tersebut dirasa tidak asing lagi bagi manusia Jawa pada umumnya. Bukti-buktinya juga cukup banyak, dari  ruwah deso, tegal deso, brahatan, muludan, dan masih banyak lagi. Dalam momentum perayaan hari besar Islam, manusia Jawa cukup adaptatif dan inovatif untuk mengkolaborasikan hingga muncul beragam penyebutan, yang bahkan di tiap-tiap desa pun memiliki perbedaan. Namun, perbedaan yang sudah ada tersebut sama sekali tidak melenceng jauh dari nilai-nilai hakikat dibalik ritus tertentu.

Pada bulan-bulan mendekati puasa–momentum–yang dijadikan sebagai dasar untuk disinaui bersama, dari Rajab (Rejeb) dengan adanya peristiwa Isra’ Mi’raj, Sya’ban (Ruwah) untuk meruwah atau kirim doa kepada arwah para leluhur terdahulu serta membersihkan ‘ruh’ kita untuk menyambut kerawuhan bulan Ramadhan (Poso). Di mana pada bulan Ramadhan (Poso) konon katanya, para leluhur yang mendahului kita akan rawuh dan tidak mendapat siksaan alam kubur. Tiga ritus tersebut bertemu pada satu titik keseimbangan antara tradisi Jawa yang kerap dinilai bercorak Hindu-Budha dengan tradisi Islam menjadi salah satu ciri tradisi, yakni kepercayaan akan adanya relasi yang terus terjalin antara ruh-ruh leluhur dengan generasi berikutnta yang masih hidup. Sebab itu, masih ada kesinambungan antara sejarah masa lalu dengan masa depan yang akan mendatang

Seperti dawuh Mbah Nun, memasadepankan masa silam, menjadi ageman bagi kita bersama–yang menyebut diri sebagai cucu dan murid-dari beliau, dengan memanfaatkan momentum waktu untuk saling berkenduri dan berdiskusi ilmu pada gelaran rutin tiap bulan. Dengan tetap bersama untuk senantiasa berupaya membangun spirit al-mutahabbina fillah, mari kita gali budaya, ajaran, serta nilai-nilai leluhur agar dapat kita jadikan sebagai pegangan pribadi, khususnya bebareng memroduksi keilmuan untuk diwariskan pada anak cucu kita kelak pada Majelis Ilmu Telulikuran edisi yang ke-50 pada:

Hari/Tgl: Senin, 5 April 2021

Waktu: 19.23 – selesai

Lokasi : Pesarean Mbah Joyo, Dusun Pacuh Desa Pacuh, kecamatan Balongpanggang