Masyarakat Aqil Baligh 1

https://images.app.goo.gl/XboosG2RXBX5CMn7A

Berbicara tentang Covid-19 memang sangat menarik. Covid-19 atau bisa juga disebut dengan Corona Virus Desease 2019 telah menjadi pemberitaan paling utama di mana pun berada, mulai dari televisi, koran, dan juga tak ketinggalan di dunia maya yang belum mempunyai sebuah filter yang baik; mana yang sehat dan tidak untuk dikonsumsi oleh kita.

Begitu banyak pemberitaan mengenai Covid-19 yang masih simpang siur dan tidak sesuai fakta yang terjadi di lapangan. Ketidakpastian itu juga datang dari kebijakan penguasa—seharusnya menentukan sikap—yang menjadikan dilema pada tiap individu masyarakat untuk menyikapi keadaan, ditambah pula notabene masyarakat cukup latah ketika menerima sebuah informasi dari berbagai media.

Namun, di tengah kebijakan yang lumayan carut marut itu, saya menemukan sesuatu yang menarik dan melahirkan decak kagum atas apa yang sedang terjadi. Terlepas dari arus pemberitaan media mainstream—dari mana dan penyebab datangnya Covid-19—saya menemukan kemajemukan masyarakat yang mungkin sudah mencapai tingkat kedewasaan yang tinggi, sehingga kalau dinalar otak saya tak akan mampu.

Dalam menyikapi hal ini, saya melihat banyak sekali masyarakat yang menjadi tangguh untuk mempertahankan keberlangsungan hidupnya, martabatnya, dan juga keluarganya—tanpa memedulikan dan mengharapkan apa yang negara berikan. Bahkan boleh dibilang pada taraf hakekat, jiwa masyarakat lebih besar dari masalah yang terjadi. Tidak kagetan untuk menyikapi keadaan yang terjadi. Mereka—masyarakat—juga perlahan demi perlahan membantu, mengayomi, dan bersedekah untuk ikut andil dalam penyembuhan pada sakit yang diderita oleh negara ini, kalau orang Jawa biasa menyebut dengan “Arek jek wingi sore”.

Hal itu terbukti dan saya temukan di berbagai desa, kecamatan, kabupaten, dan kota. Banyak masyarakat kita yang memiliki pola pikir tangguh dan pemberani untuk menyikapi beragam peristiwa, entah atas dasar takut dan teror yang membuatnya tangguh, atau memang jangan-jangan mereka sudah terbiasa menghadirkan Tuhan dalam urusan apapun.

Sebut saja si Mbok Ya, wanita paruh baya dari Kota “S” yang saya temui. Ketika ia batuk dan pilek, yang biasanya ia selalu rutin untuk periksa ke dokter. Ia mengambil sikap enggan periksa daripada ada kabar yang menjadi bumerang dalam pikirannya. Ia pun berusaha untuk menemukan obatnya secara mandiri. Ia meracik ramuan yang sesuai dengan kondisi pada dirinya. Alhasil dalam beberapa hari kemudian, ia sembuh total dan tidak merasa sakit lagi.

Ada juga di Kota “J”, di jalan “GLY”. Ada orang yang menjual obat penangkal Virus Covid-19. Tanpa izin resmi dengan tetek bengek dari Dinas Kesehatan. Dengan bermodalkan rombong yang dipasang pada sepeda motor, ia mangkal di sebuah pasar kecil. Dalam hitungan beberapa jam, jamu—penangkal Virus Covid-19—yang ia jual ludes terbeli. Beberapa pembelinya pun datang kembali pada esok hari untuk membeli jamu—penangkal Virus Covid-19—yang serupa. Dari beberapa pembeli yang sebelumnya divonis sebagai Pasien Dalam Pengawasan, ndilalah kok malah sembuh karena sering minum jamu—penangkal Virus Covid-19—yang serupa.

Banyak sekali kejadian-kejadian yang saya tuliskan seperti di atas yang mungkin saja tidak akan termuat di media-media mainstream terkini, padahal kalau dilihat dari segi manfaatnya pun tidak bisa diragukan lagi khasiatnya. Dalam benak saya bertanya-tanya, “Dari mana dan atas anjuran siapa di balik semua peristiwa itu?” Sedikitnya banyak hal yang membukakan mata saya dari penjara-penjara media mainstream terkini, adalah  kedewasaan dan kesiapan mental masyarakat kita dalam menghadapi Covid-19 ini lebih siap dibanding negara manapun. Mereka dapat menemukan obat dari, dalam, dan melalui diri mereka sendiri. Kesehatan mereka ciptakan sendiri melalui ekspresi yang berwujud ikhtiar dan doa. Sehingga mereka tidak begitu “membutuhkan” ulur tangan dari Pemerintah, karena mereka adalah masyarakat yang sudah mencapai Aqil Baligh pada dirinya masing-masing.

Rabu, 15 April 2020

Fajar Sampurno (Cak Pitro) 

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik.