Masyarakat Aqil Baligh 2

https://images.app.goo.gl/R6x56TyCrJ4213Ad7

Pada tahun lalu–2020–dunia digemparkan dengan kemunculan Covid-19. Covid-19 adalah kepanjangan dari Corona Virus Disease 2019, berukuran sangat Mikro atau tak bisa dijangkau oleh penglihatan mata manusia. Tepat pada bulan Maret ini, Covid-19 merayakan ulang tahunnya yang kesatu tahun.

Sejak kemunculannya, kehidupan mulai banyak yang mengalami perubahan secara drastis, baik dari cara bergaul, bersilaturahim, dan ekonomi–membuat seluruh manusia jatuh bangun untuk bisa berdiri.

Kemunculan Covid-19 menjadi masalah yang cukup serius bagi manusia di berbagai negara. Bahkan, tak jarang ada juga yang mengakhiri hidupnya tanpa sebab yang cukup jelas. Tak terkecuali juga di negara yang sangat saya cintai ini–Indonesia.

Namun, jika berbicara tentang ketangguhan-rakyat Indonesia-bisa dibilang nomor wahid alias tiada duanya di dunia. Rakyat yang sudah Aqil Baligh; tak hanya mengejar materi semata, melainkan juga mencoba melakukan apa yang membuatnya agar tetap bisa bertahan hidup. Banyak kisah nyata yang bisa dijadikan sebagai pembelajaran bersama bagi kita, misalnya: ada sekelompok orang yang rela bekerja untuk memanfaatkan poin agar dapat upah dari sebuah aplikasi di Internet, supir Bis kota yang tak punya rumah; ia hanya tinggal di kamar kost kecil, tidak hanya itu-demi keberlangsungan hidup-menjadi kuli panggul sayur mayur pun ia jalani.

Selain dua kisah nyata diatas, mustahil untuk bisa saya tuliskan satu per satu disini. Dalam benak, saya bertanya-tanya, “Darimana? Atas anjuran siapa mereka menjalani kehidupan seperti itu? Mungkinkah hal tersebut merupakan bagian dari ketangguhan rakyat Indonesia?”

Dari beragam persoalan nyata yang sudah terjadi pada kehidupan sehari-hari; melahirkan kesadaran bagi diri saya pribadi khususnya. Memaksa saya untuk membuka mata, hati, dan pikiran atas realita sosial, bahwa kedewasaan, dan kesiapan mental rakyat Indonesia dalam menghadapi krisis atau pagebluk yang sedang terjadi lebih siap dibandingkan dengan negara manapun. Karena itu, mereka merasa tidak begitu membutuhkan apalagi berharap kepada uluran tangan dari Pemerintah. Rakyat Indonesia cukup aktif, kreatif, responsif, adaptatif, serta inovatif untuk dapat menemukan hal baru yang berkenaan dengan keselamatan diri dan keluarga. Selain obah mamah, mereka juga memiliki tingkat religiusitas yang cukup tinggi; berdoa sebagai puncak keyakinan yang selalu mengiringi berbagai langkah ikhtiar.

Ketahanan inilah yang membuat mereka-Rakyat Indonesia-selalu teringat dan yakin akan kebesaran Allah SWT. dan insyaallah juga merupakan bagian dari mahkluk yang disayangi oleh-Nya.

 

Tlogo Oblek, 10 Maret 2021

Fajar Sampoerno(Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik