Reportase Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton Edisi#50-April 2021 “RUWAH RAWUH”

Malam itu, suasana cukup syahdu. Bertempat di Kompleks Pesarean Mbah Joyo, Dusun Pacuh, Desa Pacuh, Kecamatan Balonggpanggang, kerinduan antar dulur Damar Kedhaton berhasil dituntaskan dalam kehangatan suasana rutinan Majelis Ilmu Telulikuran. Lokasi yang cukup jauh dari perkampungan—di tengah persawahan—menjadi saksi bisu betapa ghirrah sinau bareng masih tetap menyala. Di tengah himpitan kegelapan zaman yang kian mengaburkan jalan untuk pulang, masih ada beberapa orang yang senantiasa menjaga sinar paseduluran dalam setangkup asa yang bernama Al-Mutahabbina Fillah. Sebuah usaha kecil-kecilan para JM untuk senantiasa nandur cinta yang murni tanpa tendensi duniawi.

Nderes Al-Quran Juz 20 wirid dan sholawat, mengawali acara sinau bareng.

Angin berembus tidak begitu kencang dari udara bebas di sekitar lokasi Telulikuran yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota, membuat suasana terasa cukup sejuk. Pada area pojok belakang yang berjarak sekira lima meter dari lokasi pusat acara, sebuah tungku api menyala-nyala, mengepulkan uap panas dari air yang tengah dijerang di atasnya. Di dekat tungku, Cak Djalil dan Cak Arif tampak saling sengkuyung menyiapkan hidangan—menata rapi mangkuk-mangkuk hidangan bersama beberapa buah termos pengampu kopi. Sementara itu, pendarasan Al-Quran Juz 20 terdengar mengalun, mengawali acara sinau bareng.

Sesuai tradisi yang sudah berjalan, Cak Teguh mengajak jamaah melantunkan wirid dan shalawat yang dipandu oleh Cak Syueb dan Cak Fian. Sesi tersebut berlangsung dengan khidmat. Bunyi tetabuhan banjari Remas Dusun Pacuh menemani puja dan puji cinta kepada Kanjeng Nabi tersebut.

Habis sholawat, terbitlah sebat (baca: merokok). Agar afdol, sebelum mengawali diskusi, masing-masing orang (kecuali yang wanita) menyulut api rokok dari korek milik sendiri atau meminjam dulur sebelahnya. Kebaikan dan keburukan rokok ukurannya relatif di mata manusia. Namun bukankah lebih baik menyulut api rokok untuk mencairkan suasana ketimbang menyulut api amarah di antara sesama? Jadi, ini bukan lagi perkara wajib, sunah, makruh, atau haram, melainkan sebagai salah satu ekspresi kemesraan yang sengaja dihadirkan untuk merekatkan persaudaraan antar jamaah. Tetapi, persaudaraan Telulikuran tidak lantas tergantung kepada ada tidaknya rokok sehingga bagi yang bukan perokok harus coba-coba atau meminta belajar bagaimana mengisap rokok yang baik dan benar kepada dulur lainnya. Sekali lagi, rokok hanyalah salah satu bahasa kemesraan dalam Telulikuran. Terutama malam itu, ada kenikmatan tersendiri saat mengucapkan tema diskusi “Ruwah Rawuh” seraya mengembuskan asap rokok ke udara.

Cak Syueb Mengulas Tema Majlis Telulikuran Secara Mendalam serta mempertajam sudut pandang jamaah terutama yang berhubungan dengan tema

Secara garis besar, tema Ruwah Rawuh yang diangkat oleh dulur-dulur Damar Kedhaton merupakan wujud usaha aktif untuk menyikapi situasi terkini. Usaha tersebut adalah hasil olah pikiran yang telah dimusyawarahkan dalam forum Wirid Sholawat dan Rembug Tema, seminggu sebelum pelaksanaan Telulikuran. Budaya saling nyengkuyung menjadi rakaat panjang yang ditempuh oleh JMDK, salah satunya adalah merumuskan tema yang kemudian disinauni, dihikmahi, dan juga ditadabburi pada forum Telulikuran untuk menjawab persoalan-persoalan hidup. Tak hanya itu saja, JMDK di wilayah mana saja—utara, tengah, barat, dan selatan–menyedekahkan energi dengan spirit gotong-royong guna mempersiapkan lokasi digelarnya Telulikuran.

Dalam tradisi Jawa, Ruwah diidentikkan dengan upacara perayaan di pedesaan yang dilakukan menjelang datangnya bulan suci Ramadhan. Dari masing-masing wilayah, hingga pada batas geografis desa pun memiliki bentuk perayaan Ruwah yang beragam. Perbedaan tersebut tentunya menjadi nilai kekayaan budaya tersendiri dan menjadi pengingat bahwa perbedaan merupakan hal yang tak dapat dihindari mengingat begitu kompleksnya kultur pada tiap daerah. Cak Naufal, dulur Paseban Majapahit, menandaskan bahwa Ruwah merupakan usaha kita—sebagai anak cucu—untuk menggali dan memperdalam lagi nilai-nilai kebaikan yang diwariskan oleh nenek moyang. Ia juga menambahkan, Ruwah menjadi salah satu jalan untuk mempresisikan makna dari sangkan paraning dumadi.

”Dengan meruwah, kita mencoba untuk mencari lagi apa kiranya yang pernah ditemukan, dilestarikan, dan ditanamkan oleh mbah-mbah leluhur kita,” pungkas Cak Naufal.

Selain dulur Mojokerto, juga tampak dulur dari Lamongan dan Surabaya. Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton memang selalu terbuka bagi siapa saja, baik dari lingkungan sekitar, maupun selain area Gresik. Kendati dilaksanakan di Gresik, tak menutup kemungkinan bagi dulur dari luar Gresik untuk menghadiri serta menikmati kemesraan Nggresikan. Keterbukaan yang sama juga dimiliki oleh forum rutinan Maiyah di kota-kota lain.

“Ruwah penting untuk kita pelajari secara utuh agar dapat dijadikan pegangan di masa depan, terutama untuk anak cucu kita nanti, respon Cak Syueb. Ia pun menambahkan, “Rumus yang perlu kita pegang sebagai kunci dan pondasi untuk menghadapi dunia adalah masa lalu, masa sekarang, dan masa depan.”

Susana Khas Maiyahan, Serius namun Mesra, Seluruh jama’ah yang hadir sangat berdaulat

Belajar ke masa lalu bukan berarti harus mengadopsi secara mutlak apa yang pernah ada untuk kemudian diterapkan pada zaman sekarang. Tiap masa ada orangnya (tokohnya). Tiap orang juga hidup pada masanya. Sebab pada tiap masa tentu memiliki tingkatan beban situasi, kerumitan, kondisi perekonomian dan sosial-budayanya masing-masing. Maka kita tidak boleh tinggal diam dan harus terus bergerak untuk menyesuaikan diri terhadap dinamika lingkungan, pekerjaan, dan kehidupan. Sangat penting bagi kita untuk senantiasa mengasah dan mengembangkan daya cipta agar lahir berbagai inovasi, baik pemikiran, bentuk perjuangan, serta keterampilan baru, sesuai kondisi zaman.

Peradaban Jawa adalah sebuah teladan luar biasa tentang bagaimana manusia Jawa menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. Ribuan pepatah leluhur bertebaran dalam keseharian manusia Jawa modern dan uniknya masih relevan untuk diterapkan. Aja Kagetan, Aja Gumunan, Aja Getunan, Aja Aleman dapat kita ambil sebagai contoh. Secara umum, filosofi tersebut dapat dimaknai sebagai jangan mudah terkejut, jangan mudah heran, jangan mudah menyesal, jangan mudah manja. Sungguh, di tengah kecanggihan dan percepatan arus informasi yang kian masif, keempat filosofi tersebut cukup ampuh bila kita jadikan sebagai pegangan. Keempat filosofi tadi menjadi metode merentang jarak yang perlu kita ambil agar kita tidak gampang ikut-ikutan dalam arus globalisasi yang diam-diam mematikan dan melumpuhkan potensi unggul orang-orang Jawa pada khususnya, Nusantara pada umumnya.

Tradisi ruwahan yang sudah berlangsung di desa-desa tentu memiliki perbedaan dalam hal tata cara pelaksanaan, entah dari segi lokasi, persembahan, atau bahkan pelafalan doa. Pada diskusi tersebut, Cak Amin mengungkapkan kekurangsetujuannya terhadap tata cara pelaksanaan ruwahan di desanya.

“Masyarakat zaman sekarang terlalu berlebihan dalam simbolisasi momen ruwahan, berlomba-lomba membagikan jajan. Masa iya, bentuk penyambutan Ramadhan seperti itu?” Cak Amin cukup panjang lebar menceritakan uneg-unegnya.

Lain halnya dengan apa yang disampaikan oleh Cak Madrim. Ia mengulas kembali pesan dari Lik Ham pada Telulikuran beberapa bulan silam. Titi, titèn, opèn, panèn. Dari keempat kata itu, salah satu penerapannya ialah ketika datang momen empat masa berturut-turut. Dari rejeb, ruwah, pasa, sampai riyaya. Cak Madrim mengingatnya sebagai pola yang semaksimal mungkin harus dilakukan terutama saat datangnya bulan-bulan tersebut.

Di tengah diskusi yang sedang berlangsung, beberapa orang jamaah secara spontan mengungkapkan keinginan untuk melantunkan sholawat Ibadaallah. Lantunan sholawat tersebut kemudian dipandu oleh Cak Huda dan diikuti oleh segenap jamaah yang hadir beserta hati yang tunduk berserah, seraya berharap semoga Allah tetap menuntun sekaligus menyatukan hati semuanya.

jamaah menikmati jamuan yang telah dipersiapkan

Selepas pelantunan sholawat Ibadaallah, jamaah dipersilakan untuk menikmati jamuan  yang telah dipersiapkan sebelumnya—semangkuk kecil mie dan lontong. Perlu diketahui juga, di balik sajian mie dan lontong, terdapat geliat dulur-dulur yang sudah mempersiapkannya dengan penuh cinta kasih kendati mereka tidak mengikuti jalannya diskusi. Sebuah pemandangan khas dalam Maiyahan, bahwa setiap orang menjalankan perannya masing-masing–tidak melulu berwirid, bersholawat, berdiskusi–sebagaimana hidup yang memiliki kompleksitas dimensi sehingga diperlukan kesadaran untuk saling melengkapi. Maka, jika kita menikmati suatu acara Maiyahan, patutlah kita ingat bahwa selalu ada jamaah Maiyah ýang seolah tidak hadir dalam diskusi, namun sesungguhnya turut bekerja keras di balik layar. Justru, seringkali mereka yang bekerja dalam diam itulah yang memberikan sumbangsih besar atas terselenggaranya acara.

Biasanya setelah selesai menikmati hidangan, acara Telulikuran pun usai. Namun tidak pada Telulikuran edisi ke-50 tersebut. Rupanya jamaah belum puas akan hasil dari diskusi malam itu. Setelah melakukan sedikit diskusi, maka jaamaah memutuskan untuk melanjutkan Telulikuran. Mereka masih antusias dan bersemangat untuk melanjutkan diskusi. Kali ini, Cak Ateng urun suara. Menurutnya, puncak dari kesuksesan ialah ketika kita mampu berdialektika dengan dinamika yang sedang terjadi di lingkungan sekitar. Hemat kata, mampu beradaptasi terhadap pasang-surut keadaan yang sedang terjadi.

Pada kesempatan tersebut, Cak Syueb menyambung apa yang telah disampaikan oleh Cak Madrim mengenai pesan Lik Ham. “Rejeb minangka mencari, ruwah minangka mengolah data atau informasi dari masa lalu, dan Idul Fitri hanya Allahlah yang berhak untuk mengidulfitrikan kita”. Tambahan tersebut disarikan oleh Cak Syueb dari dhawuh  Mbah Nun mengenai posisi kita dalam momen Idul Fitri, “Baiknya, kita memosisikan diri pada pengharapan yang penuh. Mengakui ketidakberdayaan kita. Semoga kita bisa diidulfitrikan oleh Allah”.

Setelah dirasa cukup atas waktu injury time, mengingat waktu juga hampir mendekati pagi, maka acara Telulikuran edisi yang ke-50 pun diakhiri. Cak Syueb memungkasi dengan doa penutup. Kemudian, sembari melantunkan sholawat, jamaah saling berputar untuk berjabat tangan. Lalu berakhir dengan sesi foto bersama.

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik