Kebaikan Tidaklah Suci ?

https://images.app.goo.gl/HUXXycDvkCEztMRd9

Bulan ini ialah bulan penuh berkah, di mana setiap masjid, musholla, majelis-majelis semakin ramai. Orang-orang bergairah menjalankan misi beribadah, mahdhoh maupun muamalah. Tapi malam ini saya tidak keluar rumah. Badan kurang fit. Rehat di rumah sepertinya lebih baik, daripada saya paksa keluyuran, bisa-bisa kesehatan tubuh malah nge-down.

Saya berencana, nanti sayalah yang membangunkan anak istri untuk sahur. Meskipun sekedar membangunkan orang tidur, dan orang itu adalah anak istri sendiri, saya pikir itu adalah jenis kebaikan yang sayang jika saya lewatkan. Maka, saya bertekad untuk berjaga hingga menjelang sahur. Sekuat tenaga saya harus kuat melek. Di dalam kepala sudah terbayang jelas senyum istri mengembang sumringah mendapati dirinya saya bangunkan.

Namun apalah daya, untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Rencana saya ambyar, dibuyarkan oleh ulah segerombolan anak-anak yang keliling kampung sembari memukuli jerigen, timba, panci, dan entah apalagi. Bunyi yang dihasilkan tak karuan. Yang terdengar kompak tertata hanyalah teriakan mereka, “Sahur.. Sahur!”.

Mereka berhasil, saya gagal. Anak-anak itu sukses membangunkan sahur seluruh warga yang tertidur, termasuk istri saya. Mereka juga sukses membuat hati saya kecewa. Kecewa pada diri sendiri. Sekedar untuk membangunkan istri sahur saja, saya tak mampu ; kedhisikan arek cilik-cilik. Asem! Maka makan sahur bersama keluarga harus saya lalui dengan perasaan dongkol.

Usai makan sahur, benak saya masih diganggu perasaan dikalahkan. Wajah anak-anak onar itu masih membayang kuat di otak. Asem tenan!.

“Ini Yah kopi pean,” saya dikagetkan suara buah hati. Ia datang menghampiri sambil menyodorkan kopi panas hasil seduhan tangannya sendiri. Ah, hati saya menghangat. Ini adalah kali pertama ia membuatkan ayahnya kopi.

Setelah satu seruputan, saya iseng bertanya pada istri, “Buk, piye rasane tugas nggawe kopi diganteni anake?”

“Gak papa, Mas. Kan sing penting iku pean isa menikmati kopi. Sapa ae sing nggawe ora dadi persoalan kok,” jawabnya.

Mak dheg! Kalimatnya sontak membuat hati saya langsung dingin. Kopi yang baru saja diseduh, rasanya pun dingin. “Allah..,” gumam saya dalam hati.

Apa yang sudah saya lakukan tadi? Kenapa hati ini menaruh dendam pada pasukan anak-anak pembangun sahur?

Harusnya, saya cukup merasa senang ada anak-anak kecil rajin keliling kampung membangunkan orang sahur. Seperti halnya saya, mereka telah berusaha melek semalaman, tidak menikmati tidurnya dengan nyaman. Bersepakat bersama-sama menjalankan aksi membantu orang-orang agar tidak terlambat sahur, tanpa ada harapan imbalan apa-apa. Jelas mereka tulus.

Lalu kenapa saya perlu marah? Keluarga saya terbangun untuk sahur, entah oleh siapa yang membangunkan, harusnya saya bersyukur. Saya ataukah anak-anak itu, semua hanyalah aktor saja. Tidak penting siapa aktornya, yang terpenting adalah tujuannya.

Sepertinya saya harus mulai memahami bahwa memang kebaikan tidaklah suci. Mungkin dalam bertindak, saya kerap salah menata niat, sehingga kebaikan yang saya ingini malah menjadi terasa tidak nyaman. Saya teringat pada nasihat sahabat karib, “Semua kebaikan harus dilandasi lillahi ta’ala”.

Setiap aktivitas yang menurut saya baik, saya akan selalu berusaha mengikat dan melandasinya dengan “bismillah”, sehingga segala resiko kebaikanpun akan terasa nyaman.

 

Fauzi “Madrim” Effendy

JM Damar Kedhaton, tinggal di Gresik Kota