“Lebaran, Liburan, Hiburan, Kekeluargaan, dan Sholawatan Menjadi Satu Paket Komplit”

Momentum Idul Fitri  diidentikkan dengan berkumpulnya keluarga. Hal tersebut sudah lama menjadi tradisi khususnya di Indonesia, di mana para sanak saudara berkumpul untuk merayakan kebersamaan dan kebahagiaan. Keluarga tidak hanya mereka yang memiliki satu ikatan darah, melainkan sejatinya kita di dunia ini diciptakan dengan prinsip kekeluargaan. Salah satunya adalah Damar Kedhaton. Damar Kedhaton ialah keluarga kecil yang terlahir dari rahim Maiyah, empat tahun usia yang terbilang cukup muda–telah menapaki suka-duka bersama-sama. Dengan pondasi Al-Mutahabbina Fillah–kekeluargaan yang terbangun atas cinta–menjadi akar yang kuat dan menembus ke dalam tanah. Sudah banyak terpaan angin, badai, petir, dan segala bandang cuaca dunia yang kian antah berantah, semoga tetap mampu menopang hingga bertumbuh menuju surgaNya.

Di tengah Pandemi Covid-19 yang belum bisa dipastikan kapan akan berhenti, segala daya dan upaya tentunya dijalankan dengan segenap tenaga; merumuskan dan menjalankan protokol kesehatan sebagai bentuk ikhtiar untuk menghadapinya. Lebih dari itu, seperti apa yang disampaikan oleh Mbah Nun, protokol jasadi tidak juga bisa kita percayai seutuhnya. Sebab, sehat dan sakit pun sesungguhnya berasal dariNya. Apalagi itu hanya bikinan manusia yang lemah, manusia yang diperkenankan hidup dengan campur tangan dariNya. Tiada daya dan kekuatan melainkan berasal dari Allah SWT. Oleh karena itu, protokol rohani juga mutlak diperlukan. Menutupi mulut agar terjaga dari omongan dusta, mencuci tangan dari kotoran maksiat sehari-hari, menjaga jarak dari gegap gempita duniawi, terlebih adalah senantiasa membersihkan akal dan hati agar tetap bersih dari noda-noda kemaksiatan–mengakibatkan kesulitannya menuju Allah.

Sabtu, 15 Mei 2021 menjadi momen sakral dan tidak bisa dilupakan begitu saja. Betapa tidak, JM Damar Kedhaton yang biasanya melaksanakan sholawatan di Pesarean, Balai Desa, Halaman Sekolah, Pondok Pesantren, dan Kafe-kafe, pada hari itu mengguncangkan salah satu gedung bioskop di Gresik. CGV Iconmall telah menjadi saksi bisu–diukirnya khazanah baru dalam sholawatan–oleh JM Damar Kedhaton. Maulan Siwallah, Shohibu Baiti, dan Mahalul Qiyam terlantun mengisi sudut-sudut ruangan gedung bioskop Audi 5 CGV Iconmall Gresik–menjelang pemutaran film “Terimakasih Emak Terimakasih Abah”

Dihadiri oleh segenap keluarga besar–kakek, nenek, suami, istri, anak, cucu–dari masing-masing jamaah, sesi pemutaran film berjalan dengan lancar. Banyak alur yang tak terduga diselipkan dalam film tersebut, menguras emosi para jamaah, bahkan sesekali berhasil menjatuhkan tetes air mata.

Sebuah Film yang wajib dilihat oleh siapa pun, diusia berapa pun. Kenapa bisa begitu? Disamping anak-anak yang dengan ciri khasnya, berlarian menaik-turuni anak tangga, bersenda gurau di depan layar saat pemutaran Film–kiranya menjadi hal yang wajar dan perlu dimaklumi. Ada momen menarik yang berhasil ditangkap telinga saya, terdengar lirih suara anak kecil yang berjarak tiga kursi di sebelah kanan saya. Penerangan lampu masih dipadamkan–agar fokus pada layar yang ditatap oleh jamaah–saat pemutaran film sedang berlangsung. “Tadi kudu nangis gak, Bu? Aku tadi kudu nangis tapi gajadi” Ucap seorang anak pada ibunya.

Tak hanya diri saya yang sempat meneteskan air mata, ternyata hal tersebut juga dirasakan oleh anak yang masih usia belia. Tidak rugi bagi diri saya untuk menonton Film “Terimakasih Emak Terimakasih Abah” bersama keluarga kecil saya tercinta. Selain memperkenalkan orang tua saya pada dulur-dulur JM Damar Kedhaton terutama dengan tradisi sholawatannya sebelum mengawali kegiatan apapun, lebih dari itu keinginan saya ialah bagaimana orang tua saya mampu merasakan kedahsyatan wirid sholawat yang dilantunkan oleh dulur-dulur JM Damar Kedhaton–yang menjadi salah satu alasan kenapa saya betah dan berusaha datang ke acara rutinan atau diluar itu, sejauh apa pun ketika tidak bisa hadir rasanya eman-eman.

Semoga Kanjeng Nabi membersamai segenap keluarga besar JM Damar Kedhaton untuk meniti jalan menuju rumahNya. Berbareng keluarga, mewujudkan harapan agar selamat sampai tujuan, yakni rumahNya

 

Febrian Kisworo Aji

JM Damar Kedhaton tinggal di Cerme, Gresik. Sedang menyelesaikan studi di UIN Sunan Ampel Surabaya.