Anugerah dari Allah yang Berupa Keluarga

Dok. TETAMOVIE

Film keluarga yang berjudul Terimakasih Emak Terimakasih Abah adalah sebuah film yang baru dirilis pada awal bulan Syawal. Film tersebut ditayangkan secara serentak di bioskop seluruh Nusantara pada momentum hari kemenangan yang Fitri.

Saya mengajak keluarga kecil untuk menonton film tersebut bersama-sama. Selain itu, ada juga saudara-saudara se-gelombang, dan se-frekuensi yang tak terikat darah, namun sering menyatu dalam sebuah asa-JM Damar Kedhaton.

Saya yang memang mempunyai keterbatasan untuk mencoba mengakali bagaimana caranya supaya satu sepeda bisa memuat anggota keluarga, yang terdiri dari istri beserta ketiga anak saya. Sembari terus memanjatkan doa agar tidak ada penegak hukum-polisi-yang akan ngonangi untuk menghadang dan menilang saya karena membawa motor yang muatannya berlebihan.

 Sesampainya di lokasi, saya langsung memasuki ruangan yang dingin berAC, di salah satu mall di Kota Gresik–CGV Cinema Icon Mall. Wirid Sholawat mengawali sesi pra pemutaran film. Pelantunan Wirid Sholawat tersebut berhasil membuat hati dan tubuh saya bergemuruh hebat, merasakan semacam atmosfer dan fenomena luar biasa, yang mungkin baru pertama kali dilakukan di dunia ini; ritual keislaman di dalam sebuah gedung bioskop modern.

 Kami tidak bisa memilih siapa yang menjadi keluargamu, mereka adalah pemberian Allah, maka pasti yang terbaik.

 Sebuah kalimat pembuka yang dapat membuat seluruh bagian tubuh bertadabbur, menghantamkan petir petir ke hati untuk mengelaborasi dan meresapi.

 Selama ini, saya memang sering menyaksikan orang-orang yang memprotes hal demikian dengan berbagai pertanyaan, mengapa keluargaku miskin? Kenapa bapakku si A? Kenapa ibuku si B? Bahkan ada juga dari mereka yang sampai tega hatinya untuk membuang kedua orangtuanya.

 Kita memang tak bisa memilih, dilahirkan melalui siapa? Diasuh-didik-besarkan oleh keluarga siapa? Hal tersebut memang sudah menjadi ketentuan dari Allah. Di sebuah tempat lain, juga menemukan beberapa anak dari orang kaya yang merintih karena mereka merasakan kurangnya kasih sayang, jarang bertemu dengan orang tuanya karena sebuah kesibukan.

 Hal demikian membuat imajinasi positif saya mengarah pada sebuah pepatah Jawa yang berbunyi, Kabeh iku sawang-sinawang yang artinya, terkadang apa yang kita bayangkan baik dan enak, belum tentu dapat membuat kenyamanan dan kedamaian di dalam hati. Maka terimalah pemberian dari Allah yang Maha Esa, yang telah mengatur segalanya.

Tlogo Oblek, 17 Mei 2021

Fajar Sampoerno(Cak Pitro)

JM Damar Kedhaton tinggal di Menganti, Gresik