Prolog Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedathon Edisi #52 – Mei -2021 “Rab(b)i”

Sudah diinformasikan di dalam Al-Qur’an Surat Az-Zariyat ayat 49, “Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan agar kamu mengingat (Kebesaran Allah)” bahwa semua diciptakan berpasang-pasangan, tak terkecuali pada manusia. Adapun manusia mempunyai tata cara tersendiri dalam menemukan dan mengusahakan takdirnya yang berupa pasangan; menjemput jodoh melalui jalan yang halal dengan menikah. Menikah dalam bahasa Jawa dikenal dengan Rabi. Dari kata Rabi, terdapat kesamaan redaksi kata dengan Rabbi. Entah sebuah kebetulan belaka atau memang tingkat religiuitas manusia Jawa dalam pemilihan kata—terlepas dari benar dan salah—sudah banyak ditemui diksi kata yang berasal dari Jawa, yang mengherankannya ialah, ketika diutak-atik gathukkan dan dihikmahi sebagai kebaikan seringkali melahirkan pemaknaan yang mendalam; terutama dalam khasanah keislaman. Bermula dari Rabi, lalu menjadi Rabbi; suatu hal yang bisa mendekatkan diri kepada Rabbnya¬—Allah Azza Wa Jalla.

Mengapa bisa demikian? Jika kita telisik lebih mendalam lagi mengenai Rabi atau pernikahan, maka akan banyak sekali hikmah yang bisa dipetik, di antaranya adalah selalu mempertimbangkan baik-buruk, manfaat-mudharat, serta bijaksana-bodoh dalam mengambil semua keputusan, sekecil apapun itu itu bentuknya. Namun, perjodohan juga bukan hanya sekadar hubungan antara laki-laki dan perempuan saja, melainkan bisa mencakup seluruh dimensi dalam kehidupan. Hutan dengan berbagai macam satwa liar. Bebunga dengan lebah. Dan masih banyak yang lainnya. Bahkan lebih luasnya lagi seperti apa yang pernah disampaikan oleh Mbah Nun, “Tuhan Menciptakan jodoh. Jadi, kalau Anda berbuat baik, jodohnya adalah berkah. Kalau Anda berbuat dzolim, jodohnya adalah adzab. Jangan gampang melakukan keburukan karena nanti akan ketemu jodohnya”

Seringkali manusia lalai sejak pijakan awal atau pondasi dasar kerangka berpikir dalam memaknai dan melaksanakan ihwal perjodohan dan pernikahan. Kiranya ada beberapa hal yang perlu kita waspadai gejalanya, dari sikap angkuh, sombong, rakus, dan tamak; menjadikan pernikahan hanya sebagai pemuas nafsu dan keinginan. Dan, telah kita ketahui bersama bahwa, yang namanya nafsu dan keinginan pun tidak akan pernah habis.

Jika Allah dijadikan sebagai landasan dasar dalam menjalankan pernikahan, maka tidak akan terjadi beberapa hal yang menyeleweng; melampiaskan nafsu. Perlu adanya kaidah-kaidah yang ditaati dan diugemi. Pernikahan pun disebut sebagai Mitsaqan Ghalidza, yang berarti bahwa, pernikahan bukan perjanjian yang bisa dibuat main-main. Untuk memperkuat firman-Nya, Nabi Muhammad pun bersabda bahwa perbuatan yang diperbolehkan tapi paling dibenci oleh Allah adalah perceraian. Maka dipertegas lagi dalam ajaran Islam, bahwa seseorang yang sudah terikat dalam sebuah pernikahan tidak bisa melakukan gugatan perceraian—untuk dimain-mainkan—seenaknya saja. Tidak semestinya pernikahan dijadikan sebagai bahan mainan, yang seenaknya bisa dilempar, dibuang, dipecahkan, atau bahkan dirusak.

Ada kalanya pernikahan dilaksanakan karena obsesi dan ambisi untuk bisa menguasai harta dan mengincar jabatan. Ada kalanya pernikahan juga dilaksanakan karena nafsu syahwat dan gengsi. Namun, bila itu semua sudah kadung terjadi mungkinkah kesadaran akan muncul dengan sendirinya, ketika sudah dalam perjalanan mengarungi bahtera kehidupan.

Dulur, kiranya dalam pertemuan besok menjadi sinau bareng yang menggembirakan. Bertepatan dengan momen pernikahan salah satu dulur kita, mari berbareng merayakan kebahagian dalam Majelis Ilmu Telulikuran Damar Kedhaton edisi ke-52, pada:

Sabtu, 29 Mei 2021

Pukul: 20.23 WIB

Di MI Al-Hasaniah

Dsn. Larangan, Ds. Dalegan, Kec. Panceng, Kab. Gresik.